CERITA SEX DENGAN TANTE ANI

Cerita Sex Dengan Tante Ani
CERITA SEX DENGAN TANTE ANI itulah yang akan aku paparkan kali ini. Sebenarnya Cerita Sex ini terjadi sudah sangat lama namun tersa masih terbayang bahwa kejadian tersebut kemaren terjadinya. Bagi yang ini mendengar Kisah Sex aku mari kita ikuti perjalan cinta terlarangku yang bergelut dengan Tante- Tante. Sialan telkom ini barang rongsokan di pasang di sini gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus setelah uring uringan sebentar akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Agus.Keputusan ini sebenarnya agak konyol karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Duta Mall Banjarmasin tujuan kami belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Agus.Tapi kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu.Akhirnya setelah titip pesan pada penjual di warung kalau kalau Agus datang aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Agus Sesampai di rumah Agus kulihat suasananya sepi.Padahal sore sore begitu biasanya anggota keluarga Agus Papa Mama dan adik-adik Agus serta kadang pembantunya pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah.Setelah celingak celinguk beberapa saat kulihat pembantu di rumah Agus keluar dari pintu samping Bi Bibi kok sepi pada kemana yah tanyaku.Aku terbilang sering main ke rumah Agus begitu juga sebaliknya Agus sering main ke rumah pamanku tempatku tinggal Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Agus termasuk pembantu dan sopir papanya Eh mas Didik pada pergi mas pada ikut ndoro kakung juragan laki laki Yang ada di rumah cuman ndoro putri juragan wanita jawabnya dengan ramah. Oh jadi Agus ikut pergi juga ya Bi Ya sudah kalau begitu lain waktu saja saya ke sini lagi jawabku sambil mau pergi Lho nggak mampir dulu mas Didik Mbok ya minum minum dulu biar capeknya hilang Makasih Bi sudah sore ini jawabku Baru aku mau beranjak pulang pintu depan tiba tiba terbuka Ternyata Tante Ani mama Agus yang membuka pintu. Bibi ini gimana sih ada tamu kok nggak disuruh masuk katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu Udah ndoro sudah saya suruh duduk dulu tapi mas Didik nggak mau jawabnya Eh nak Didik Kenapa di luaran aja Ayo masuk dulu kata Tante Ani lagi Makasih tante Lain waktu aja saya main lagi tante jawabku. Ah kamu ini kayak sama orang lain saja Ayo masuk sebentar lah udah datang jauh jauh kok ya balik lagi Ayo masuk biar dibikin minum sama bibi dulu kata Tante Ani lagi sambil melambai ke arahku Aku tidak bisa lagi menolak takut membuat Tante Ani tersinggung Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras sementara Tante Ani masih berdiri di depan pintu. Nak Didik duduk di dalem saja Tante lagi kurang enak badan tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar Ya tante jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan. Agus ikut Om pergi kemana sih tante tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu Pada ke kota Banjarmasin ke rumah kakek Mendadak sih tadi pagi Soalnya om mu itu kan jarang sekali libur Sekali boleh cuti langsung mau nengok kakek. Ehm tante nggak ikut Besuk pagi rencananya tante nyusul Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor masih ada yang mesti diselesaiin jawab Tante Ani Emangnya Agus nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi. Nggak tante jawabku sambil sedikit terheran-heran Tidak biasanya Tante Ani menyebutku dengan kamu Biasanya dia menyebutku dengan nak Didik Kok bengong Tanya Tante Ani membuatku kaget Eh anu eh aku tergugup-gugup. Ona-anu ona anu Emang anunya siapa Tante Ani meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan. Mas Didik silakan tehnya dicicipin keburu dingin nggak enak kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku Makasih Bi jawabku pelan. Itu tehnya diminum ya tante mau mandi dulu bau kata Tante Ani sambil tersenyum Setelah itu Tante Ani dan pembantunya masuk ke ruang tengah Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu sampai akhirnya Tante Ani nampak keluar dari ruang tengah.Dia memakai T shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut Harus kuakui meskipun umurnya sudah 40 an namun badannya masih bagus Kulitnya putih bersih dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini tapi masih jelas menampakkan sisa sisa kecantikannya Eh ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu Heran ya liat nenek nenek. Mati aku kataku dalam hati Ternyata Tante Ani tahu sedang aku perhatikan Aku hanya bisa menunduk malu mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus Heh malah bengong lagi katanya lagi Kali ini aku sempat melihat Tante Ani tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah. Maaf tante nggak sengaja jawabku sekenanya Mana ada nggak sengaja Kalau sebentar itu nggak sengaja lha ini lama gitu ngeliatnya kata Tante Ani lagi Meskipun masih merasa malu namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Ani sama sekali tidak menunjukkan sedang marah. Kata Agus kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya Tanya Tante Ani Eh iya tante Pertandingan antar SMU se-kota Tapi masih dua minggu lagi kok tante sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan Aku sudah mulai tenang kembali Pelajaran kamu terganggu nggak. Ya sebenarnya lumayan menggangu tante habisnya latihannya belakangan ini berat banget soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran.Tapi sekolah juga ngasih dispensasi kok tante Jadi kalau capeknya nggak ketulungan kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran Kalau nggak begitu nggak tahu lah tante Soalnya kalau badan udah pegel-pegel ikut pelajaranpun nggak konsen. Kalau pegel pegel kan tinggal dipijit saja kata Tante Ani Masalahnya siapa yang mau mijit tante Tante mau kok jawab Tante Ani tiba tiba. Ah tante ini becanda aja kataku Eh ini beneran Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel Kalau nggak percaya sini tante pijit katanya lagi Enggak ah tante Ya saya nggak berani tante Nggak sopan jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Ani nampak sungguh-sungguh dengan kata katanya. Lho kan tante sendiri yang nawarin jadi nggak ada lagi kata nggak sopan Ayo sini tante pijit katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya Penyakit gugupku kambuh lagi Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari jariku Ya udah kalau kamu sungkan biar tante ke situ katanya sambil berjalan ke arahku.Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa Tante Ani memijat kedua belah pundakku Aku hanya terdiam tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu Setelah beberapa menit Tante Ani menghentikan pijitannya.Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Ani setelah itu Yang aku tahu aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping yang tidak lama kemudian disusul Tante Ani yang keluar lagi dari ruang tengah. Bibi tante suruh beli kue Kue di rumah sudah habis katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan Ayo sini tante lanjutin mijitnya Pindah ke sini aja biar lebih enak kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Ani.Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Ani duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi Gimana enak nggak dipijit tante Tanya Tante Ani sambil tangannya terus memijitku Aku hanya mengangguk pelan Biar lebih enak kaosnya dibuka aja kata Tante Ani kemudian Aku diam saja Bagaimana mungkin aku berani membuka kaosku apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan Ya sudah Kalau gitu biar tante bantu bukain katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Ani membuka kaosku. Setelah itu Tante Ani kembali memijitku Sekarang tidak lagi hanya pundakku tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku Perasaanku kembali tidak karuan bukan hanya pijitannya kini tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku Meski seumur umur aku belum pernah menyentuh payudara tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Ani. Beberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman malu dan gugup sekaligus sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Ani. Tante kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu Tante Ani seperti tidak mempedulikanku dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Ani mengelus penisku dari luar CD ku. Aku merasakan sensasi yang luar biasa Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Ani sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai belainya Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Ani Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat Ketika aku melirik lagi kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Ani sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Ani melepaskan penisku dari mulutnya tapi mempercepat kocokan pada Batang Penisku. Sssshhhh creett creett Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku cairan air mani ku sendiri Ah dasar anak muda baru segitu aja udah keluar Tante Ani berbisik di dekat telingaku Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Ani yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus elus penisku Tapi ini juga kelebihan anak muda Udah keluarpun masih kenceng begini bisik Tante Ani lagi. Setelah itu aku lihat Tante Ani melepas T-Shirtnya kemudian berturut turut BH celana dan CD nya Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu Dan Tante Ani seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku kemudian dia mengangkang duduk di atasku Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Ani Sleppp Aaaaahhhhh suara penisku menembus Vagina Tante Ani diiringi desahan panjangnya Kemudian Tante Ani bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah Mulutnya terkadang menciumi dada leher dan bibirku. Ada beberapa menit Tante Ani bergerak naik turun sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit jerit kecil dengan liarnya Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa Tak lama kemudian. Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh Tante Ani melenguh panjang bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali Setelah itu Tante Ani terkulai merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku Terima kasih Dik bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku. Sejak kejadian itu aku mengalami syok Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku Sulit membayangkan seandainya Agus mengetahui kejadian itu Perubahan besar mulai terjadi pada diriku aku mulai sering menyendiri dan melamun. Namun selain rasa takut dan bersalah ada perasaan lain yang menghinggapi aku Aku sering terbayang bayang Tante Ani dia telanjang bulat di depanku terutama waktu malam hari sehingga aku tiap malam susah tidur Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Ani lakukan padaku. Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman temanku termasuk Agus Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah Akibat dari itu pula akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku karena kondisiku tidak memungkinkan lagi. untuk mengikuti latihan latihan berat Kira kira seminggu setelah kejadian itu aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku. Saat asyik berjalan sambil menunduk aku dikejutkan mobil yang tiba tiba merapat dan berhenti agak di depanku Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Agus Setelah memperhatikan isi dalam mobil jantungku berdesir Tante Ani yang mengendari mobil itu dan sendirian. Dik cepetan masuk ntar keburu ketahuan yang lain panggil Tante Ani sambil membuka pintu depan sebelah kiri Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa apa Cepetan sini kali ini suara Tante Ani lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan. I Iya tante akhirnya aku menuruti panggilan Tante Ani dan bergegas masuk mobil Nah gitu Keburu ketahuan temen temenmu repot kata Tante Ani sambil langsung menjalankan mobilnya. Di dalam mobil aku hanya diam saja meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Ani beberapa kali menengok padaku Tumben kamu nggak bareng Agus Tanya Tante Ani tiba tiba. Enn Enggak tante Saya lagi pengin sendirian saja Tante nggak sekalian jemput Agus aku sudah mulai menguasai diriku Kan emang Agus nggak pernah dijemput jawab Tante Ani. Eh iya ya jawabku seperti orang bloon Setelah itu kami lebih banyak diam Tante Ani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Ani melambatkan mobilnya sambil melihat lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan Tante Ani mengajak aku turun. Setelah turun Tante Ani langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi Setelah masuk taksi Tante Ani memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya entah kecapaian atau apa Kira kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota. Di kamu masuk duluan kamu langsung aja Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante Nanti tante nyusul kata Tante Ani memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar. Kemudian aku masuk ke hotel aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar namun hanya duduk-duduk saja di situ. Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar ternyata Tante Ani Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang Agus bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya tanyanya tanpa ba bi-bu dengan nada agak tinggi I iya tante jawabku pelan. Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu nggak pernah main lagi sama Agus Tante Ani menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk. Kamu tahu itu bahaya Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi kata-kata Tante Ani terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan. Tapi saya nggak pernah ngasih tahu siapa siapa kataku Memang kamu belum ngasih tahu tapi kalau ditanyain terus terusan bisa bisa kamu cerita juga katanya lagi sambil sesenggukan Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu. Tante memang salah tante yang membuat kamu jadi begitu kata Tante Ani kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan terputus lagi. Merasakan apa tante Akhirnya Tante Ani cerita panjang lebar tentang rumah tangganya Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir sehingga hampir tiap hari pulang malam dan jarang libur Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu. Kalau kamu mau marah marahlah Entah kenapa tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa yang penting kamu sudah tahu masalah tante Sekarang kalau mau pulang pulanglah tante yang ngongkosin taksinya kata Tante Ani lirih sambil membuka tasnya mungkin mau mengeluarkan dompet. Nggak nggak usah tante aku mencegah Saya belum mau pulang saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu Aku hampiri Tante Ani aku elus-elus kepalanya Hilang sudah perasaan sungkanku padanya Tante Ani kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku. Setelah beberapa lama aku duduk di samping Tante Ani Kuusap usap dan sibakkan rambutnya Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir Pelahan kucium keningnya Kemudian entah siapa yang mulai tiba tiba bibir kami sudah saling bertemu Ternyata kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku. Cukup lama kami berciuman bibir dan makin lama makin liar Aku mulai mengusap punggung Tante Ani yang masih memakai baju lengkap dan kadang turun untuk meremas pantatnya Tante Ani pun melakukan hal yang sama padaku. Tante Ani sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU ku kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri.Pelan pelan dia membuka pakain luarnya sampai hanya memakai CD dan BH Meskipun aku sudah melihat Tante Ani telanjang tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak meskipun masih tertutup CD dan BH Aku langsung berdiri kupeluk dan kudorong ke arah dinding sampai kepala Tante Ani membentur dinding meski tidak begitu keras. Ah pelan-pelan doonnng kata Tante Ani manja diiringi desahannya desahannya Aku semakin liar saja Kupagut lagi bibir Tante Ani sambil tanganku meremas remas buah dadanya yang masih memakai BH Tante Ani tidak mau kalah bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku Kemudian diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna Aku bantu upaya Tante Ani itu dengan mengangkat kakiku bergantian sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat. Setelah itu Tante Ani membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH nya Sekarang aku leluasa meremas remas kedua buah dada Tante Ani yang cukup besar itu sedang Tante Ani mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang. Kemudian tante setengah menjambak Tante Ani mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku. Aaaaahh oooouhghhh desahan Tante Ani makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku Beberapa kali aku isap puting susu Tante Ani bergantian mengikuti sebelah mana yang dia maui.Setelah puas buah dadanya aku mainkan Tante Ani mendorong tubuhku pelan ke belakang Kemudian dia berputar berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang Sampai di pinggir ranjang Tante Ani sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai Setelah itu dia berusaha melorotkan CD nya yang kemudian aku bantu sehinggap Tante Ani kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku. Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku Tante Ani yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak saya menatapku Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya.Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding bandingkan buah dada mana yang kencang bagus dan sebagainya Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan. Sini sayaangg panggil Tante Ani yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya Aku menghampirinya menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya Tapi Tante Ani menahanku Nampak dia menggeleng sambil memandangku Kemudian tiba tiba kepalaku didorong kebawah Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya Setelah itu Tante Ani berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya Awalnya aku ikuti tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku aku agak melawan. Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya dia bangun Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang ditelentangkannya tubuhku Sempat aku melihat bibirnya tersenyum sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku. Bleepp aku agak gelagapan saat vagina Tante Ani ditempel dan ditekankan di mulutku Tante Ani memberi isyarat agar aku tidak melawan kemudian pelan pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku sambil mulutnya mendesis desis tidak karuan Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Ani sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya Bahkan secara naluriah kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Ani. Oooohh sssshhh� pinter kamu sayang oh gerakan Tante Ani makin cepat sambil meracau Tiba tiba dia memutar badannya Kagetku hanya sejenak berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Ani Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya sambil tangannya mengocok batang penisku Sementara itu Vaginanya masih menempel dimulutku meskipun gesekannya sudah mulai berkurang Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Ani yang persis berada di depan mataku. Setelah puas dengan permainan seperti itu Tante Ani mulai berputar dan bergeser Masih mengangkang tapi tidak lagi di atas mulutku kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak Sleep bless ooooooooooooohhhhhh penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Ani diikuti desahan panjangnya yang malah lebih mirip dengan lolongan. Tante Ani bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Ani kali ini aku tidak pasif Aku meremas kedua buah dada Tante Ani yang semakin menambah tidak karuan racauannya Rupanya aksi Tante Ani itu tidak lama karena kulihat tubuhnya mulai mengejang Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku Ooooooooohhh Aaaaaaaaahhh Tante Ani ambruk terkulai lemas setelah mencapai puncak Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya. Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas Tante Ani terus membelai rambut dan wajahku tanpa berhenti tersenyum Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku karena terasa ada bendungan yang mau pecah. Tanteeeeee Oooooohhh gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam dalam Tante Ani menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya saat aku mencapai puncak Setelah sama sama mencapai puncak kenikmatan aku dan Tante Ani terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman Waktu ngobrol itu pula Tante Ani banyak memberi tahu tentang seks terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu. Setelah jam 4 sore Tante Ani mengajak pulang Aku sebenarnya belum mau pulang aku mau bersetubuh sekali lagi Tapi Tante Ani berkeras menolak Tante janji kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini Tapi ingat kamu harus kembali bersikap seperti biasa terutama pada Agus Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola Janji. Heeeem aku menganggukkan kepala Ingat kalau kamu tepat janji tante juga tepat janji Tapi kalau kamu ingkar janji lupakan semuanya Oke Aku sekali mengangguk Sebelum aku dan Tante Ani memakai pakaian masing-masing aku sempatkan mencium bibir Tante Ani dan tak lupa bibir bawahnya Setelah selesai berpakaian Tante Ani memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan. Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali dan aku sudah normal kembali Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku yang untungnya masih diterima Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak Dan Tante Ani menepati janjinya Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku dan guru sex ku sekaligus Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat dari hotel satu ke hotel yang lain bahkan kadang kadang keluar kota Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati hati agar tidak diketahui orang lain terutama keluarga Tante Ani. Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis terutama dalam pergaulanku dengan teman teman cewek Aku yang awalnya dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai dikenal sebagai play boy Sampai lulus SMU beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur Lain waktu kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut. Begitulah kisah awalku dengan Tante Ani yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya Sampai saat ini aku masih berhubungan dengan Tante Ani meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Ani sudah jauh menurun namun aku tidak mau melupakannya begitu saja Apalagi Tante Ani tidak pernah berhubungan dengan pria lain karena dianggapnya resikonya terlalu besar Begitulah Tante Ani yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang harus selalu dijaga. itulah Cerita Sex ku dengan tante-tante dan terima kasih sudah membaca alur hidupku dengan thema CERITA SEX DENGAN TANTE ANI.
Baca SelengkapnyaCERITA SEX DENGAN TANTE ANI

Auto erotic show


Baca SelengkapnyaAuto erotic show

cerita dewasa 17 ++

Aku punya seorang teman baik. Dia punya 2 orang adik perempuan. Yang paling kecil berumur 22 tahun. Namanya Angela, tingginya sekitar 170 cm, dengan badan yang langsing, sepasang kaki yang panjang, dan dada yang tidak terlalu besar. Wajahnya bagaikan bidadari dalam mimpi semua pria. Aku tidak menyangka dia akan menjadi secantik ini.

Suatu hari aku ke rumah temanku utk berangkat ke kantor bersama. Ketika itu aku melihat Angela sedang sarapan di ruang makan sendirian.

"Hi.." sapaku. "Ko Adi sedang mandi, mungkin sebentar lagi selesai." Katanya.

Kemudian dia bangkit dan merapikan piring dan sendoknya dan langsung pamit untuk pergi ke kampus. Ketika Angella berdiri, aku bisa melihat seluruh tubuhnya. Dia memakai baju kemeja putih lengan pendek, rok coklat selutut, kemudian penis ku rasanya ingin meletus saat itu juga. Tidak kusangka dia memakai pantyhose berbahan transparan (ultra sheer) ditambah lagi sepatu talinya yang berwarna hitam membuat kakinya lebih indah dan seksi sekali. Terjadi peperangan batin yang sangat hebat di dalam diriku. Di satu pihak, hasrat penisku yang sangat berkobar-kobar untuk bercinta dengan kakinya kemudian menyetubuhinya berkali-kali. Di pihak lain, otakku mengatakan itu tidak baik, dan tidak mungkin aku melakukannya di saat ini. Sayang dia sudah punya pacar kalau tidak, pasti akan kujadikan miliku.

Ketika Angella sudah menghilang dari belakang pintu, dengan cepat aku naik ke lantai 2 dan mencoba untuk memasuki kamarnya. Beruntung sekali karena tidak dikunci. Aku segera menghampiri lemari pakaiannya dan mencari harta karun fantasi sex-ku. Tetapi aku mengalami kekecewaan karena dia hanya punya 3 pasang pantyhose, sehingga aku tidak mungkin mengambilnya. Untuk mengobati kekecewaanku, aku mencari keranjang cucian yang ada di kamar mandinya. Aku cari celana dalamnya. Aku menemukannya di antara pakaian tidurnya. Dengan cepat aku mengambil celana dalamnya yang terbuat dari bahan satin yang halus dan menempelkannya di hidung dan menarik nafas dalam-dalam. Pikiranku langsung melayang dan penisku semakin mengeras dan panjang.

Celana dalamnya masih menyimpan aroma yang khas dari vagina seorang wanita. Tapi aku buru-buru menyimpannya ke dalam kantong celanaku dan meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke lantai 1 dan masuk ke kamar mandi. Aku buka resleting celanaku dan membebaskan penisku dari kurungan celana dalamku dan segera aku balutkan celana dalam Angela ke batang penisku dan langsung masturbasi sambil membayangkan bercinta dengan seorang bidadari perawan yang cantik yang mengenakan pantyhose dengan sepatu tali yang seksi.

Kubayangkan penisku masuk dan keluar, memompa vaginanya dengan cepat dan keras. Hanya dalam hitungan beberapa detik kemudian, aku mengalami ejakulasi yang hebat. Dengan sisa-sisa tenaga aku arahkan penisku ke jambannya, dan 3 semprotan panjang mengawali puncak orgasme ku dan diakhiri dengan beberapa tetes spermaku. Nafasku memburu dan berkeringat.

"Indra! Kamu lagi di WC ya?" terdengar teriakan dari Adi. "Iya, bentar, gue lagi kencing nih." Dengan cepat aku keluarkan tissueku dan membersihkan kepala penisku yang tersayang, kemudian ku tarik flush yang ada di jamban dan hilanglah bukti dari hasrat ku yang membara. Ku simpan kembali harta karun ku dan keluar dari WC dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sepanjang hari aku selalu teringat akan Angela, setiap kali aku ke WC aku selalu mengeluarkan celana dalam Angela dan menghirupnya dalam-dalam. Ternyata aroma wangi dari vagina Angela sangat memikat dan merangsang. Malamnya aku kembali bermasturbasi sambil membayangkan Angela, adik dari teman baikku yang sekarang menjadi objek fantasi sexual-ku.

Tidak kusangka keberuntungan berpihak kepadaku. Tidak lama kemudian Adi keluar dari kantor karena mendapatkan tawaran yang lebih bagus. Angela, bidadariku, yang mengambil alih pekerjaannya. Indahnya lagi, Adi memintaku untuk mengantarnya pulang karena tidak ada yang menjemput.

Hari pertama Angela masuk kerja merupakan surga dan neraka bagiku. Angela mengenakan terusan dengan model smart suit setinggi lutut yang berwarna coklat pastel muda dan ultra sheer pantyhose dan sepatu tali putih dengan hak sedang. Aku selalu mencari cara dan alasan untuk selalu berdekatan dengannya dan melahap kakinya yang menggiurkan dengan mataku.

<span>Memang aku mempunyai fetish terhadap pantyhose sejak masih kecil. Semua ini karena adik terkecil dari ibu ku. Secara tidak sengaja aku menyentuh kakinya yang sedang dibalut oleh stocking dan aku telah jatuh cinta terhadap perasaan itu sampai sekarang. Sekarang umurku 26 tahun. Aku mengoleksi berbagai macam pantyhose dan stocking, namun sayang sedikit sekali yang berkualitas bagus di Indonesia.</span>

Siang itu, aku bermasturbasi di WC kantor. Sorenya, aku dan Angela sedang dalam perjalanan pulang. Kami ngobrol tentang pekerjaan. Jalanan lumayan padat sehingga tidak bisa cepat-cepat dan sering berhenti. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

"Angela, boleh aku bertanya sesuatu?" "Apa?" jawabnya dengan ringan sambil melihatku. "Tapi jangan marah atau tersinggung ya." Angela mengangguk kecil. "Apakah kamu suka pakai pantyhose?" "Koq kamu tahu aku pake pantyhose?" "Cuma nebak-nebak aja." "Aku baru mulai pake sih, belum lama." "Apa kamu suka?" "Iya, rasanya gimana gitu." "Keliatannya halus." "Iya, rasanya halus juga."

Aku menelan ludah dan mengumpulkan segenap keberanian untuk bertanya, "Apakah aku boleh megang? Maksudku aku cuma ingin tahu gimana rasanya." padahal aku sudah punya beberapa koleksi dan sudah tahu. Tanpa ragu-ragu Angela menjawab, "Boleh."

Dengan perlahan-lahan kutaruh jar-jari tangan kiri ku di atas lutut kanannya. Ku elus-elus lututnya pelan-pelan. Seluruh badanku dipenuhi oleh sensasi erotis yang ditimbulkan oleh kelembutan pantyhose dan kaki Angela.

"Gimana rasanya?" tanya angela. "Benar-benar halus." aku senyum kecil sambil memandang wajahnya yang cantik.

Penisku sudah dalam keadaan siaga satu dan dari luar terlihat sedikit menonjol. Untung mobilku mempunyai transmisi automatis sehingga aku tidak perlu mengganti-ganti gigi dan melepaskan tangan kiriku dari lututnya. Karena jalanan sangat macet, tidak lama kemudian Angela tertidur. Kuberanikan diriku untuk menjelajah lebih dalam lagi ke pahanya.

Angela tidak memberikan reaksi penolakan atau keberatan atas tindakanku, atau mungkin dia tidak merasakannya karena sedang tertidur. Aku tidak perduli, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Pelan-pelan tangan kiriku makin ke atas dan telah sampai di tengah-tengah pahanya. Ku belai pahanya yang lembut dan halus. Kulihat wajahnya, Angela tertidur dengan sangat tenang. Saat ini, roknya sudah tersingkap setengah paha. Untung roknya tidak terlalu ketat, jika tidak, aku akan mengalami kesulitan untuk menjelajah lebih dalam. Kuteruskan aksiku sampai pada paha bagian atas. Akhirnya aku sampai pada pusat segala kenikmatan sexual.

Jari tengahku menelusuri celah yang terbentuk dari ke dua pangkal pahanya. Jari tengah ku merasakan kehangatan dan kelembaban. Dengan perlahan kutelusuri garis cekungan yang terbentuk dari celah vaginanya. Tiba-tiba terasa basah dan licin. Penis ku bertambah keras dan kencang, ternyata Angela secara sadar atau pun tidak, terangsang dengan belaian tanganku yang nakal. Aku tidak tahu apakah dia sadar ataukah masih tertidur. Saat ini arus lalu lintas mulai lancar, aku langsung masuk ke pintu tol. Dengan cepat aku mengeluarkan uang pas dari asbak mobil dan dengan cepat pula memberikannya kepada petugas tol dan aku langsung tancap gas.

Setelah beberapa puluh meter, aku pelankan laju mobilku dan jari tengahku mulai memberikan tekanan-tekanan ringan pada selangkangannya. Bahan pantyhose yang halus bercampur dengan cairan manis yang di hasilkan oleh Angela membuat darahku makin mendidih dan sangat horny. Ku alihkan pandanganku dari jalan dan dengan cepat mengamati Angela. Rok nya sudah tersingkap sampai atas. Pahanya yang mulus terbungkus oleh pantyhose yang sexy. Wajahnya masih tidak menunjukan reaksi penolakan ataupun reaksi lainnya. Ku percepat gerakan jariku dengan tujuan membuatnya semakin terangsang dan orgasme. Kemudian kuselipkan jari manisku dan bersama-sama dengan jari tengahku, dan kumainkan vaginanya.

Setelah beberapa saat, ku putuskan untuk fokus pada klitorisnya. Gerakan jariku kupercepat namun tetap lembut dan tidak kasar. Samar-samar aku mendengar desahan halus yang berasal dari nafas Angela. Expresinya sedikit berubah. Kelihatannya Angela sangat menikmatinya. Cairan halus dan licin itu semakin membasahi celana dalam dan pantyhose Angela. Demikian pula dengan penisku, sudah membasahi celana dalamku.

<span>Setelah beberapa menit pikiranku melayangkan imaginasi nikmatnya bersetubuh dengan adik teman baikku yang masih perawan ini, tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah mobil truck besar yang langsung memotong tepat di depanku. Dengan reflek kuinjak rem untuk menghindari tabrakan, dan tangan kiriku sempat terhenti sejenak karena kekagetan itu. Aku dikejutkan lagi oleh tangan Angela yang menekan tangan kiri ku dengan kencang ke selangkangannya.</span>

Aku langsung melanjutkkan memberikan rangsangan kepada klitorisnya dengan cepat dan sedikit lebih kuat. Pinggangnya mulai bergerak, aku bisa merasakan kontraksi otot pada selangkangannya. Kemudian terdengar desahan kenikmatan yang tertahan di dalam vaginanya. Angelaku yang manis mengalami orgasme pertamanya.

Setelah orgasmenya reda, ia membuka matanya dan menatapku dengan senyuman yang malu dan manis.

"Ko Indra nakal.." itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya yang sexy. "Bagaimana rasanya?" tanyaku.

Tangan kirinya tetap menahan tangan kiriku di vaginanya, tangan kanannya membelai sayang pipiku. Tangannya yang halus dan lembut membuatku semakin terangsang.

"Enak sekali.. Aku tidak tahu akan begitu enak.. Apa itu orgasme?" "Itu belum seberapa, apa mau yang lebih enak lagi?" dengan berani aku menanyakan. "Sex langsung?" "Iya" jawabku. "Apakah benar akan lebih enak dari ini?" "Tentu saja."

Angela melihat jam pada dashboard.

"Apakah masih sempat? Sudah terlalu malam nanti aku di cariin sama orang-orang rumah." "Bilang aja lagi ada acara ulang tahun teman." "Ide yang bagus." "Terus pacarnya gimana?" "Biarin aja, aku juga tidak begitu suka."

Kesempatan emas yang tidak boleh kulewatkan. Tetap saja aku tidak menyangka akan semudah ini, dan Angela yang begitu berani. Apakah dia sudah pernah melakukannya?

Kuparkir mobilku disebuah hotel yang terletak di tengah keramaian kota. Langsung saja aku memesan sebuah kamar yang VIP dengan ranjang yang besar.

Segera setelah pintu kamar ditutup, aku duduk di atas kasur yang empuk dan menarik tangan Angela dan menyuruhnya duduk di atas pangkuanku. Posisi badannya menghadap ke kanan.

"Apa Angela yakin mau melakukan ini denganku?" "Kalau memang orgasme terasa seindah dan senikmat itu, aku rela melakukannya." "Apa setelah ini Angela akan melakukannya dengan orang lain juga?" "Ya tidak lah Ko Indra ku sayang. Aku bukan pelacur seperti itu. Aku hanya ingin melakukannya dengan Ko Indra." "Benarkah?"

Dia merangkul leherku dan kusambut dengan ciuman yang basah di bibirnya. Angela memejamkan matanya, ku julurkan lidahku ke dalam mulutnya. Dengan sedikit kaku dan kikuk bidadariku menyambut tarian lidahku. Tidak lama kemudian Irama cumbuan kami semakin meningkat dan cepat dan panas penuh dengan nafsu. Tangan kiriku menelusuri semua bagian dari punggungnya dan tangan kananku menelusuri paha dan betisnya yang terbalut oleh pantyhose.

Cumbuan kami bertambah liar, kutelusuri lehernya sambil menarikan lidahku. Terdengar desahan nikmat bercampur geli dari bibirnya. Angela membelai rambut dan punggungku.

"Oh.. Ko Indra.."

Saat ini tangan kiriku berhasil meraih payudara kirinya dari belakang. Ku pijat-pijat dengan lembut dan ku remas-remas. Tangan kananku dengan cepat melepaskan kancing-kancing bajunya. Angela pun mengikuti tindakanku dan melepaskan kancing bajuku, dan celanaku. Kusuruh Angela berdiri. Aku pun ikut berdiri dan langsung saja celana panjangku jatuh ke bawah. Ku tarik tangan kiri Angela dan meletakannya di penisku yang masih terbungkus celana dalam.

"Keras sekali dan basah.. Ngompol ya?" ejek Angela. "Angela juga basah." Ku elus-elus selangkangannya. Kemudian dia tersipu malu.

Kubuka BH nya dan di depan mataku adalah sepasang payudara yang berukuran sedang dan ranum. Bajunya sengaja tidak kulepaskan, karena dia terlihat sangat cocok dan cantik dengan baju itu. Ku lihat celana dalamnya yang berwarna kulit menutupi vaginanya. Kuturunkan pantyhosenya sedikit dan kurobek celana dalamnya dan menariknya keluar. Kubetulkan kembali pantyhosenya, dan ku hirup aroma dari cairan vaginanya dan kujilat. Angela melihat dengan tatapan sedikit terkejut. Kutempelkan celana dalamnya ke hidung Angela.

BERSAMBUNG..
Baca Selengkapnyacerita dewasa 17 ++

Ayahku menginginkanku







Sebut saja aku Mar, wanita berusia 18 tahun, sudah menikah dan sedang hamil 8 bulan. Aku berani menceritakan kisahku setelah Sam (60), ayah kandungku diamankan polisi lima bulan lalu, setelah sempat digebuki Mas Hamdi (25), suamiku.

Sebagai wanita yang tumbuh ditengah keluarga miskin dilingkungan pesisir, aku terbiasa hidup dan kerja keras membantu orangtuaku yang nelayan. Kampung kami di pulau L (Edited ***) agak jauh dari kota dan seperti terisolir membuat tatanan kehidupan bermasyarakat disana kurang terbuka, aku pun tumbuh menjadi gadis kurang pergaulan.

Sejak berusia 11 tahun, ayah dan ibuku bercerai. Ibu kawin lagi dengan lelaki idamannya membawa Fery, adikku. Mereka pun tinggal di kota, dirumah barunya. Sejak itu pula aku hidup bersama ayahku dirumah kami dikampung pesisir itu, karena Anto dan Santi, kedua kakakku sudah merantau kepulau seberang.

Kehidupanku bersama ayah berjalan wajar. Untuk makan sehari-hari, ayah masih sanggup mencari nafkah sebagai nelayan, sedangkan aku turut membantu bibi berjualan dipasar. Hingga aku menginjak usia 17 tahun, dan tumbuh menjadi gadis yang kata masyarakat kampungku aku lumayan cantik. Diusia itu aku disunting Mas Hamdi, anak lelaki bibiku.

"Kamu sudah dewasa nak, setelah menikah nanti jadilah istri yang taat kepada suami. Ayah harap kamu tidak seperti ibumu yang tergiur harta kekayaan lelaki lain sehingga kamu menderita," kata ayah setelah menerima pinangan bibi, orang tua Hamdi.

Pesta penikahan yang cukup mewah untuk ukuran kami tak membuat aku bergembira karena pikiranku tertuju iba pada ayahku yang nantinya akan sebatangkara kutinggalkan. Tapi aku pun sangat mencintai Mas Hamdi, suamiku.

Dimalam pertama kami, aku benar-benar bahagia bersama Mas Hamdi. Malam itulah kuserahkan semua yang kumiliki padanya, sangat berkesan bagiku.

"Aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi mengecup keningku saat kami dipembaringan, usai pesta kawin kami malam itu.
"Aku juga Mas.." jawabanku tulus dan kami pun berpelukan erat.

Kecupan Mas Hamdi dikeningku terus turun ke pipi, hidung, dan selanjutnya Mas Hamdi mengecup bibirku dan mengulumnya dalam. Tangannya mulai melucuti kebaya putih yang kukenakan, menyibak bra yang kupakai, lalu menyentuh puting susuku, meremas dan mencubit kecil susuku.

"Aouhh Mass, geli Mas," terus terang baru sekali itu aku dijamah lelaki, perasaanku bukan main takut bercampur enak.

Mas Hamdi tak peduli, bagaikan singa lapar ia kemudian melucuti seluruh kain yang melilit tubuh bawahku dan juga melepaskan seluruh pakaiannya.

"Tenang ya sayang, sakit sedikit kok.. nanti juga enak," kata itu keluar dari bibir Mas Hamdi saat menindih tubuhku.
"Aahh mass, sakit sekali Mas," aku agak menjerit saat benda tumpul milik Mas Hamdi mengoyak vaginaku.

Malam pertama itu Mas Hamdi menyetubuhiku dengan beringas, dan tak memberiku kesempatan untuk mencapai klimaks yang nikmat. Tapi aku pikir mungkin itulah gaya seks pria pesisir yang terbiasa hidup keras sebagai nelayan.

Meski aku bahagia hidup bersama suamiku, namun rasa BHakti pada ayah tak pernah kusingkirkan. Walau kami hidup beda rumah, dengan jarak 200 meter. Tetapi seringkali kubawakan ayah makanan dan minuman, biasanya tiga hari sekali. Apalagi Mas Hamdi pun menyuruhku untuk tetap memperhatikan ayahku yang mulai tua, dan jarang melaut lagi. Tapi selama itu segela sesuatunya masih berjalan lancar.

Hingga suatu siang, empat bulan setelah aku menikah, aku membawakan makanan dan minuman kerumah ayah yang letaknya agak terpisah dari rumah lainnya dikampung kami. Saat itu aku sudah hamil dua bulan.

"Ini yah, saya bawakan sayur dan ikan. Ayah nggak usah masak lagi untuk nanti malam tinggal dihangatkan saja," kataku setiba dirumah ayah.
"Duh.. makasih ya sayang. Kamu ini benar-benar anak berBHakti," kata ayah seraya menghampiri dan mengecup keningku.

Kupikir kecupan itu pertanda sayang seperti yang selama ini diperbuat padaku, kubiarkan saja itu dan kemudian aku ke dapur untuk memindahkan makanan dari rantang yang kubawa kepiring didapur. Ayah rupanya membuntutiku dan ikut kedapur, lalu disaat tanganku sibuk menyusun piring dimeja makan, ayah memelukku dari belakang.

"Kamu sudah hamil ya sayang," tanya ayah sambil memeluk dan memegangi perutku dari belakang.
"Iya yah, sebentar lagi saya akan kasih ayah cucu," jawabku membiarkan ayah tetap memelukku, karena kupikir ayah sangat menyayangiku.
"Kalau mulai hamil, perutmu harus sering diusap dan dipijit pelan supaya bayinya nggak turun," ayah berkata itu sambil mengusap perutku dengan posisi tetap memelukku dari belakang.
Kubiarkan ayah melakukan itu sementara aku tetap sibuk memindahkan makanan untuk ayah.
"Si Hamdi sering mijitin kamu nggak sayang," ayahku bertanya lagi.
"Uh ayah ini, Mas Hamdi kan kerja, pulangnya capek mana sempat mijitin saya. Bukannya saya sebagai istri yang harus mijitin dia?" kujawab ayah dan melepaskan pelukan ayah, lalu aku pindah keruangan depan.

Siang itu, seperti biasanya sebelum pulang aku sempatkan untuk ngobrol bersama ayahku. Selain menanyakan kebutuhan apa saja yang harus kubawakan, aku juga kerab berkeluh kesah tentang sikap mertuaku, ibu Mas Hamdi yang sampai saat itu belum bisa kuakrabi sebagai menantu. Tapi siang itu ayah justru membicarakan masalah kehamilanku, masalah perawatan janin diperutku, termasuk masalah harus rajin diusap dan dipijat perutku.

"Nah.. suamimu kan nanti malam melaut, kamu datang kemari saja supaya ayah bisa pijitin ya," begitu pinta ayah sebelum aku pulang.

Aku pun mengiyakan saja, soalnya biasanya Mas Hamdi pulangnya agak siang setelah melaut. Lagipula, dirumah mertua aku sering bingung mau melakukan apa, maklum mertuaku belum sreg benar kepadaku kelihatannya.

Malam itu setelah Mas Hamdi pamit melaut, aku langsung kerumah ayah. Tentu saja aku pamit ke mertua untuk menengok ayah, kataku pada mereka, ayah sedang sakit. Waktu aku datang, ayah sedang mendengarkan siaran radio sambil menghisap rokok tembakau lintingan diruang tamu.

"Malam yah.. kok ngelamun sih?" sapaku sambil bergelayut dilengan ayahku.
"Iya sayang, ayah lagi ingat masa muda dulu," ayahku tetap asyik dengan rokok lintingnya.
Dari bibirnya segera meluncur secuil perjalanan hidupnya yang sebenarnya sudah sering diceritakan pada kami, anak-anaknya.
"Tuh kan ayah jadi cerita, jadi nggak nih mijitin saya? katanya sayang sama cucu yang masih diperut ini?" aku merajuk menghentikan ceracau ayahku tentang hidupnya.
"Iya..iya, tapi sekarang kamu mandi dulu sana," perintah ayahku.

Aku langsung mandi dan terus kekamar ayahku. Saat itu seluruh pakaianku kutanggalkan dan hanya menggunakan kain sarung milik ayah untuk menutup tubuhku. Biasanya dikampung ini, melilit tubuh dengan sarung sudah jadi tradisi tiap wanitanya.

"Sekarang berbaring diranjang itu ya sayang, ayah ambilkan minyak kepala dulu," ayahku memandangi tubuhku dengan senyuman, lalu meninggalkanku sendirian dikamar, aku pun menunggunya sambil berbaring diranjang. Tak lama kemudian ayah datang membawa sebotol kecil minyak kelapa.
"Memang susah anak muda sekarang, nggak perhatian sama istrinya," ayahku bicara sendiri ketika duduk ditepi ranjang.
"Iya, untung saya masih punya ayah yang perhatian ya yah," kataku.

Tangan ayah segera menyibak kain yang kukenakan dibagian atas, sehingga susuku tanpa pembungkus bebas terlihat. Tetapi aku sama sekali tak risih karena sejak kecil sampai gadis pun aku sering dilihat mandi telanjang oleh ayah. Jemari ayah yang kasar mulai mengusapi perutku dengan minyak kelapa, sesekali tangannya memijit bagian perutku.

"Tuh kan? Posisi bayimu agak turun, kamu sering merasa sakit ya?" ayah bertanya sambil tangannya terus memijiti perutku.
"He-eh yah.., sering capek juga kakinya," jawabku menikmati pijitan ayah.
"Ya sudah, nanti ayah pijitin seluruh badanmu ya," ayah mengatakan itu, lalu pijitannya pindah kebetisku, pijatannya bergantian betis dan perut.

Sambil dipijit, aku dan ayah tetap ngobrol, mulai masalah harga ikan yang sedang turun, sampai masalah masa lalu ayah dengan ibuku.

"Uhh.. sakit yah," aku agak berteriak saat merasakan sakit dibagian perut saat tangan ayah memijit.
Ayah menghentikan pijitannya, tetapi tangannya tetap berada diatas perutku.
"Ini ya yang sakit Mar? Wah.. ini bisa bahaya, kalau dibiarkan nanti anakmu bisa cacat lho kalau lahir," kata ayah dengan raut wajah serius.
"Cacat? Jadi gimana dong yah, Mar nggak mau punya anak cacat," aku takut sekali waktu itu, takut menanggung malu jika kelak melahirkan anak yang tak normal.
Ayah tak langsung menjawab pertanyaanku, ia kelihatan sedang berpikir, tapi kemudian tersenyum.
"Bisa kok ayah obatin, tapi ayah harus siapin obatnya dulu ya," ayah kemudian meninggalkanku sendirian dalam kamar. Tak lama ayah datang lagi dan membawa baskom plastik berisi air dan beberapa kembang kenanga.

Ayah kemudian menjelaskan padaku bahwa ia akan mengobati kehamilanku dengan pengobatan tradisional.
"Tapi ayah harus masukan air kembang ini kedalam rahimmu sayang, kamu bisa tahan sakit sedikit kan?" ayah mengatakan itu dengan sangat meyakinkan.

Semula aku ragu, apalagi ayah bilang kalau dia akan memasukan air kembang itu dengan cara menyemburkannya divaginaku. Tetapi keraguanku pupus setelah ayah berkali-kali meyakinkanku. Sampai sekarang pun aku tak tahu pasti apa kata ayahku itu benar atau hanya sekedar akal bulusnya saja. Tetapi yang jelas, saat itu aku menurut saja ketika ayah menyingkap sarung yang kukenakan dibagian bawah dan meminta aku mengangkangkan kaki dalam posisi terlipat, seperti posisi wanita yang hendak
bersenggama dengan lelaki. Ayah sendiri naik keranjang dengan posisi bersimpuh dihadapan kangkangan kakiku. Terus terang aku malu dan kikuk menyadari betapa vaginaku terpampang jelas tanpa penghalang didepan mata ayahku.

"Kamu tenang saja ya sayang, tidak lama kok," katanya, lalu meneguk air kembang dalam baskom dan menampung dalam mulutnya yeng menggelembung.

Aku sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, apalagi saat kepala ayah mulai merunduk melewati dua pahaku, mendekati vaginaku yang tak terbungkus CD. Beberapa detik kemudian kurasakan dingin mejalar dipermukaan kemaluanku, rupanya ayah sudah menyemburkan air dalam mulutnya tepat kevaginaku. Yang kurasakan selain dinginnya air kembang, juga perasaan geli dibagian vitalku. Ayah mengulangi lagi meneguk air itu dan menyemburkan ke vaginaku, beberapa kali. Hal itu menimbulkan perasaan tak menentu padaku, geli, dingin bercampur enak.

"Gimana Mar, sudah agak membaik rasa sakitnya?" ayah bertanya padaku.
Namun belum sempat kujawab tangan kanan ayah tiba-tiba membelai vaginaku.
"Sabar ya, ayah harus pastikan air kembang itu masuk sampai kerahimmu," katanya, sambil tangannya terus mengusapi bibir vaginaku.

Usapan tangan ayah divaginaku yang sudah basah terkena air kembang membuat sensasi tersendiri kurasakan, aku pun tak bisa berkata-kata lagi karena mendadak lemas seluruh sendi tubuhku.
"Uhh yahh.. sudah yah.., Mar nggak bisa tahan geliinya," bibirku meminta ayah menghentikan aksi usapnya, tetapi kedua tanganku tak menahan tangan ayah yang aktif, tetapi tanganku justru meremasi sprei ranjang kanan dan kiri.
"Disini ya sayang yang geli itu," ayah bertanya sambil jempol kanannya menekan klitorisku dan menguyak-nguyak benda sensitifku itu memutar kecil.
"Nnnghh.. iya yah.. geli sekali disituhh," nafasku mulai tersengal menahan geli yang nikmat dibawah usapan jempol ayah dibagian klitorisku.

Rasa gatal yang sangat kurasakan dipucuk-pucuk kedua susuku yang putingnya sudah mengembang pertanda birahi yang kualami.
Ayah meneruskan aktifitasnya mengusapi klitorisku dengan jempolnya, usapan itu perlahan melemah dengan posisi jempol beranjak menjauh dari klitorisku. Saat itu aku sudah sangat terangsang oleh ayah, pinggulku kini yang naik mengejar jempol ayah agar tak meninggalkan klitorisku. Aku menggelepar dengan napas sudah sangat tidak beraturan lagi, pikiranku sudah melayang dan tak ingat lagi bahwa yang merangsangku adalah ayahku sendiri. Tapi disaat aku sudah sangat terangsang seperti itu, ayah justru menghentikan aktifitasnya di klitorisku. Pinggulku yang tadinya sedikit mengangkat mencari jempol ayah langsung terjerembab lagi, aku terpejam menahan gejolak yang berkecamuk ditubuhku.

"Auhh yahh, kenapa?" tanyaku agak kecewa, tapi mendadak malu saat ayah menatapku, malu karena aku seperti meminta hal yang lebih dari ayahku.
"Mar.. sepertinya air kembang itu tidak masuk benar dalam rahimmu. Ayah ulangi semburannya ya," kata ayahku.
"Yah.. sudah saja ya, Mar.. nggak tahan gelinya," pintaku, tapi anehnya tubuhku tetap berbaring seolah tak ingin menjauhi ayah.

Ayah tak menjawab permintaanku dan kembali meneguk air kembang lalu ditampung dimulutnya. Aku memejamkan mata saat kepala ayah kembali tunduk mendekat ke pangkal pahaku. Aku kembali merasakan dingin di permukaan vaginaku saat ayah mulai menyemburkan air kembang, tapi kali ini lain, setelah semburan itu aku merasa ada benda kenyal nan lembut menyapu permukaan
vaginaku. Kupikir itu jemari tangan ayah, tetapi tidak, itu bukan tangan, benda bertekstur lembut, hangat, dan kenyal itu adalah lidah ayah. Ya, ayah mengusapi tepatnya menjilati permukaan vaginaku dengan lidahnya.

"Ihh.. mmpphh yaahh, aauhh hhsstt," aku tak kuasa menahan rasa nikmat dijilati ayah, terus terang sejak kawin dengan Mas Hamdi belum pernah aku diperlakukan seperti itu. Mas Hamdi selalu main langsung tembak, tanpa rangsangan lebih dulu sehingga selama ini aku sendiri belum pernah merasakan apa yang disebut kenikmatan orgasme. Jilatan ayah mulai meningkat, kini lidahnya justru sering menelusup belahan bibir vaginaku yang mulai banjir. Cairan bening kental dari vaginaku diseruput ayah seperti menyeruput kopi hangat dari gelasnya.

"Ngghhsstt.. yah.. Mar nggak bisa tahnn.. ouhh.." aku mulai menggelinjang tak menentu rasanya.

Namun disaat aku mulai melambung tinggi, ayah menghentikan lagi aktifitasnya di vaginaku, membuat aku menggelepar menahan birahiku sendiri.
"Mar.. ayah agak sulit masukan air kembang itu kerahimmu. Tahan sebentar lagi ya," katanya.
"Yah.. cepetan ya, Mar nggak kuat lagi, geli sekali yah," aku merasa semakin lemas karena birahiku dipermainkan seperti itu.

Saat itu aku berhayal seandainya Mas Hamdi ada tentu dialah yang akan memuaskanku dengan penisnya, karena aku merasa sudah siap betul dan ingin sekali untuk disetubuhi lelaki. Tapi pikiran itu kutepis, karena bukankah ayah yang sedang mengobati kandunganku? Aku tak berpikir bahwa ayah pun terangsang saat itu.

Tapi tak lama kemudian kurasakan nafas ayah kembali mendekati vaginaku, setelah meneguk air kembang yang hampir habis di baskom. Ayah tidak lagi menyemburkan air itu dengan berjarak dari vaginaku, tetapi bibir ayah langsung menempel dibibir vaginaku dan ia menyemburkan air itu. Kurasakan aliran air itu masuk hingga ke dinding rahimku, rasanya sama seperti saat Mas Hamdi menumpahkan spermanya ketika kami bersenggama. Setelah itu bibir ayah melumati bibir vaginaku, lidahnya mulai masuk dibelahan vaginaku membuat nikmat yang sangat dibagian sensitif itu, aku benar-benar kepayang dibuat ayah. Kini jemari tangan ayah turut menyibaki vaginaku, membukanya lebar dan lidahnya menyapu klitorisku dari atas kebawah dan sebaliknya dari bawah keatas.

"Ouhh.. yah.. suddhh yaahh, Mar mau kencingg rasanya ah.." seluruh sendiku terasa ngilu dan mengembang bersama kedutan kecil didinding vaginaku, aku hampir sampai puncak orgasmeku.
"Iya sayang, sudah selesai kok," lagi-lagi ayah menghentikan aktifitasnya, tapi saat kubuka mata ternyata kali ini tubuh ayah sudah berada diatas tubuhku dengan bertopang pada dua tangannya.
"Yah.. kok ayah begitu? Ouhh yahh.. ahh," belum habis kagetku karena ayah menindih, aku merasakan ada benda keras yang masuk ke vaginaku.

Ternyata ayah sudah melepaskan celananya dan penisnya yang tegang dimasukan ke vaginaku. Aku hendak berontak karena hal itu tabu dikampungku dan dimanapun, bukankah seorang ayah tak boleh melakukan itu pada anak perempuannya. Perang bathin kualami saat itu, aku ingin mendorong tubuh kekar ayahku tetapi aku sudah sangat lemas saat itu. Sementara dorongan birahiku ingin segera terpuaskan dengan senggama bersama lelaki.

"Oohhgg, Mar.. angap saja ayah Hamdi Mar.. ouhh ayahh nggak tahhann," ayah tetap menindihku dan kini pinggulnya mulai naik turun diatas tubuhku membuat penisnya bebas keluar masuk diliang nikmatku yang sudah licin dan becek oleh cairanku sendiri.
"Nghhg.. aahsstt, yahh.." aku tak kuasa lagi menolak penis ayah yang mulai mengobati rasa gatal di vaginaku.

Dengan mata terpejam aku malah ikut menyambut goyangan ayah dengan goyangan pinggulku. Merasa aku tak melawan, ayah pun semakin liar menyetubuhiku, anak kandungnya. Kini sambil menggenjotku, bibir ayah menjelar menghisapi puting susuku, sehingga senggama kami sempurna dan kenikmatan yang kurasakan pun semakin tak tertara bila dibanding senggamaku bersama suami.

Sekalipun usia ayah sudah kepala enam, tetapi kondisi fisiknya masih kuat dan kurasakan penisnya pun masih normal dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari punya Mas Hamdi.

"Yahh.. Marr mauu kencinghh yahh uuh..sstt,"

Sepuluh menit berlalu dalam senggama, kurasakan kenikmatan mulai mengumpul di pangkal pahaku, bongkahan pantatku, ujung-ujung jari kakiku, dan juga di liang nikmatku. Kedutan semakin terasa didinding vaginaku, dan akhirnya kurasakan kejang dibagian pinggul sampai kakiku, kakiku kemudian kugunakan untuk menjepit pinggul ayah dan menekannya agar lebih dalam penisnya bersarang di vaginaku. Tanganku memeluk tubuh berkeringat ayah, sementara kepalaku terangkat dengan bibir menyedok kulit dada ayah. Dalam kondisiku yang puncak itu, ayah masih menggejot penisnya beberapa kali sebelum akhirnya
ayaHPun mengejang dan mengerang diatas tubuhku.

"Ahhgg Mar.. ngghh," ayah lalu lunglai dan berbaring disampingku yang juga lemas tak bertenaga. Tulangku seakan dicopoti saat itu, namun kuakui itulah kali pertama aku kepuncak nikmatnya senggama.

Malam itu aku tidur bersama ayahku dirumahnya, dan paginya kami seperti melupakan kejadian itu. Akupun pulang kerumah mertua pagi harinya, dan bersikap seperti biasa saat Mas Hamdi pulang melaut.

*****

Kejadian pertama bersama ayah, membuat aku agak malu untuk datang kerumah ayah lagi. Sudah dua minggu ini aku tidak menjenguk atau mengantarkan makanan untuk ayah. Entahlah, walau sebenarnya aku tak keberatan disetubuhi nikmat oleh ayah, tetapi aku malu kalau disangka ayah ingin mengulangi kenikmatan itu lagi.

Sore itu, sebelum Mas Hamdi melaut seperti biasa ia meminta jatah dilayani kebutuhan biologisnya. Sebagai istri kulayani suamiku semaksimal mungkin. Tapi seperti biasa juga, Mas Hamdi hanya memikirkan kepuasannya saja, dan sudah mengejang menyemprotkan air maninya sebelum aku merasa terangsang, apalagi orgasme.

"Mhh, aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi selalu mengatakan itu sambil mengecup keningku setiap kali usai menikmati klimaks diatas tubuhku, lalu ia mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkanku sendiri dikamar, ia pun melaut bersama teman-temannya.
"Hati-hati Mas..," hanya itu yang kuucapkan melepas pergi suamiku.

Aku tetap berbaring diranjang tanpa mengenakan kembali pakaianku, rasa kecewa terhadap suamiku tumpah lewat air bening yang meluncur ditepian mataku. Aku merasa tersiksa dua minggu ini setiap kali berhubungan intim dengan suamiku, tersiksa karena tak mendapatkan nikmat yang maksimal seperti yang kudapat dari ayahku. Setelah suamiku menhilang dibalik pintu, aku bangkit dan mengunci kembali pintu kamar. Kembali berbaring diranjang tanpa busana, aku menghayalkan kenangan nikmat bersama ayah. Tak terasa tanganku mulai meremasi payudara sendiri, sambil membayangkan ada lelaki yang sedang mencumbuiku, aku pun menjelajahi bagian tubuh sensitifku sendiri. Malam itu aku mencapai orgasmeku dengan masturbasi sambil menghayalkan ayahku, lalu tertidur pulas.

Esoknya, pagi-pagi benar sebelum Mas Hamdi pulang melaut, aku menyiapkan makanan untuk kubawa kerumah ayah. Entahlah, aku ingin sekali kerumah ayah pagi itu.

"Eh kamu Mar.. ayah kira siapa," kata ayah menyambut ketukan pintuku.
"Iya nih yah, bawakan ayah makanan," aku menjawab tanpa mampu menatap mata ayah, aku malu dan jadi canggung pada ayahku sendiri.

Ayah kemudian menyuruhku masuk, dan seperti biasanya aku langsung kedapur untuk memindahkan makanan dirantang yang kubawa kepiring di dapur rumah ayahku.

"Gimana sayang, sudah nggak sakit lagi perutmu?" suara ayah menyapaku, dan aku agak terkejut ketika ayah tiba-tiba sudah mendekap tubuhku dari belakang sambil tangannya mengusapi perutku yang nampak sedikit membuncit dengan usia kehamilan 3 bulan.
"Eh ayah.. Mar sampai kaget. Kadang-kadang masih tuh yah, tapi agak membaik kok setelah dipijit ayah waktu itu," aku bingung harus menjawab apa saat itu.
"Gimana kalau ayah pijit lagi? biar nggak sakit-sakitan perutmu itu," nafas ayah tepat menghembusi tengkukku, membuat aku menahan geli dan merinding.

Sebelum aku menjawab, tangan ayah kurasakan membelai bongkahan pantatku dan mulai menyingkap naik bagian bawah daster yang kupakai pagi itu.

"Enghh ayah.. jangan lagi ah," aku berusaha menepis tangan ayah dan kembali meneruskan kegiatanku merapikan piring di meja dapur ayah. Tapi tangan ayah seperti tak mau pergi, dari belakang itu ayah malah memasukan tangannya kebalik dasterku dan mengusapi bongkahan pantatku, sesekali meremasinya.

"Ya sudah, kalau nggak mau dipijitin dikamar, ayah pijitin disini saja ya. Kamu kan bisa sambil rapikan piring itu," ayah semakin berani menyusupkan tangannya kebalik CD ku, sehingga kini tangan kasarnya mengusapi pantatku tanpa penghalang. Saat tangan ayah langusng menyentuh kulit pantatku secara langsung, aku merasakan desiran aneh yang kemudian memacu libidoku.
Kucoba menahan desiran itu dan tetap merapikan makanan diatas meja dapur, tetapi aku tak lagi menepis aktifitas ayah, aku membiarkan ayah berbuat semaunya.

"Asshtt yah.. janganhh geli yah," aku menggelinjang saat bibir ayah mengecup tengkukku, tapi aku tak mampu menghindarinya.
"Kamu merunduk diatas meja ya sayang, tenang saja.. supaya perutmu cepat sembuh, ayah pijitin sambil berdiri ya," ayah menekan bahuku dari belakang sehingga posisi tubuhku merunduk dengan kedua tangan menopang dibibir meja.

Penasaran juga apa yang akan ayah lakukan, aku pun tak bisa menjawab selain mengikuti perintah ayah itu. Kini pekerjaan merapikan piring sudah tidak ada lagi, yang ada aku merunduk pasrah di meja itu, menunggu apa yang akan ayah lakukan selanjutnya.

Desiran yang kurasa semakin menjadi saat ayah melorotkan CD yang kupakai lalu menyingkap naik bagian bawah dasterku. Posisiku jadi nungging membelakangi ayah dengan tubuh bagian bawah bugil. Ayah lalu memandu kedua kakiku untuk lebih merenggang jarak, lalu ia pun berlutut dibagian itu.

"Bagus sekali kemaluanmu ini Mar.." ayah memujiku.
"Ayah, saya mau diapakan lagi sih?"

Aku penasaran apa yang akan diperbuat ayah terhadapku. Tapi lagi-lagi ayah bilang kalau itu termasuk pengobatan tradisional yang akan mempermudah aku melahirkan kelak. Sambil menjelaskan itu padaku, tangan ayah mulai menjelajahi belahan pantatku
dan kadang menyusup sampai kebibir kemaluanku.

"Hsstt ahh," aku tak bisa menahan desah yang keluar akibat napasku mulai tersengal menahan dampak aksi ayah.

Perasaan geli menjalari vitalku dan membuat tenaga dikedua kakiku seperti melemah, posisiku jadi lebih merunduk dengan tangan terlipat dimeja dan susuku terhimpit antara badan dan meja. Aku melangkah mundur sedikit menjaga agar perutku tak tertindis tubuh dan terhimpit meja. Posisi itu rupanya membuat ayah semakin mudah menggapai vaginaku dari belakang karena tinggi meja yang hanya satu meter membuat aku nungging maksimal membelakangi ayah yang berlutut.

"Tahan sebentar ya sayang.. cuma sebentar kok,"

Ayah tak lagi mengusapi bongkahan pantatku, kini kedua tangannya menahan bongkahan pantatku dan menguaknya agar bibir vaginaku terlihat. Ditengah penasaranku, tiba-tiba kurasakan lidah ayah sudah menyapu bibir vaginaku. Ritme jilatan ayah di vaginaku sungguh teratur, setiap lima kali menjilat naik turun ayah selalu menghentikannya dibagian klitoris untuk menekan klitorisku dengan lidahnya itu.

Kendali benar-benar dipegang oleh ayah saat itu. Aku sudah tidak mampu lagi bergerak, apalagi menolak perlakuan ayah padaku. Cairan kental kurasa sudah mulai keluar dari vitalku membuat ayah semakin leluasa menjilat, mengecup, dan mengulum bibir vaginaku. Dendam nikmat yang tak kuraih dari Mas Hamdi semalam, ingin kutumpahkan disini, bersama ayahku.

"Aduhh yahh.. gelhihh sekalhii ehhsshh," saat ritme jilatan ayah menekan klitorisku, pantatku menyambut bergerak kebelakanng membuat wajah ayah tenggelam dibongkahannya, aku ingin agar lidah itu menekan lebih keras klitorisku. Tanganku menggapai apa saja yang ada diatas meja, meremasi gelas dan serbet disana demi menikmati sensasi itu. Koyakan-koyakan lidah ayah menembusi belahan bibir vaginaku, sesekali ayah menyedot dan menelan cairan kental yang keluar, lalu mengoyak lagi dan lagi.

"Ehm.. kemaluanmu sudah mulai berkedut Mar, apa sakit diperutmu sudah mulai hilang?" ayah menghentikan jilatannya dan bangkit mendekap tubuhku yang tetap nungging.
"Mhh aahh, belum yahh.. masih sakit perut Mar," aku menjawab begitu agar ayah meneruskan lagi jilatannya dan membuai lagi birahiku.
"Belum? Kalau begitu ayah teruskan ya pijitannya, kalau begini enak tidak sayang?" ayah berdiri dibelakangku, kedua tangannya mencengkeram pinggulku. Belum lagi aku menjawab pertanyaan ayah, kurasakan benda hangat dan tegang ingin menembus vaginaku.
"Ohh yaahh..," penis ayah yang sudah berada digerbang liang nikmatku langsung amblas separuh di vaginaku saat aku mundurkan pantatku.

Tapi ayah seperti ingin menyiksa birahiku, ia tetap berdiri mematung sekalipun penisnya sudah masuk separuh ke liang nikmatku. Kini akulah yang aktif memburu batang perkasa ayah, pinggulku memutar dan mundur-mundur menahan gatal yang ingin agar penis itu masuk utuh divaginaku. Beberapa menit seperti itu, ayah pun tak bisa lagi menahan birahinya, dan siap
menggenjotku. Tetapi baru saja ayah terasa akan menekan pinggulnya kedepan, mendadak terdengar ketukan pintu rumah. Ayah beranjak menjauhiku dan menaikan celananya lagi.

"Ada orang Mar.. kamu perbaiki bajumu ya, ayah lihat siapa yang datang," ayah meninggalkanku didapur.

Agak kesal memang saat itu karena aku sudah terlanjur birahi dan ingin sekali terpuaskan. Tapi kesal itu luntur saat terdengar suara Henny, adik bungsu Mas Hamdi.

"Mbak Mar ada Pak Sam.., saya disuruh panggil, Mas Hamdi sudah pulang," begitu suara Henny terdengar.
"Oh.. ada nak, Mbak Mar ada disini baru ngatur makanan untuk saya. Mar, Mar.." ayah memanggilku.
"Eh Henny, Mas Hamdi pulang ya.., yuk kita pulang. Yah Mar pulang dulu ya," aku berpamitan dan mengajak Henny pulang kerumah mertuaku, hari sudah beranjak siang saat itu.

Sampai dirumah Mas Hamdi memintaku membuatkan kopi untuknya, lalu dia banyak bercerita tentang hasil melautnya semalam.

"Cakalang sedang banyak Mar, mungkin setelah makan siang nanti saya bersama kawan-kawan kembali ke laut, mumpung rejeki nih," katanya.
"Iya Mas, tapi hati-hati ya," jawabku.

Setelah minum kopi, Mas Hamdi menarikku kekamar, dan minta aku melayani nafsu seksnya. Untung baru beberapa saat aku dirangsang ayah sehingga aku sangat senang melayani Mas Hamdi. Tapi seperti biasa, Mas Hamdi main tubruk saja. Menindih tubuhku masih lengkap dengan baju, Mas Hamdi hanya membuka resleting celananya. Dasterku hanya disingkap keatas dan CD dipelorot kebawah lalu ia menggenjotku.

"Ohh mass, enaakhh mass," walaupun Mas Hamdi tak merangsangku namun dengan membayangkan buaian ayah tadi, aku bisa terangsang dan benar-benar ingin dipuaskan. penis Mas Hamdi menembusi vaginaku dengan cepat.
"Iyahh sayangghh enaakhh sekalii.. pepekmu ougghh," Mas Hamdi melenguh, padahal baru beberapa menit penisnya masuk di pepekku.
"Ouhh.. Sstthh.. janghaann duluu mass, ahh," ingin kuhentikan saat merasakan penis Mas Hamdi berkedut menyemburkan sperma kerahimku. Oh, lagi-lagi dia hanya memikirkan kepuasan sendiri, tanpa mengerti perasaanku yang juga ingin merasakan nikmatnya disetubuhi suami.
"Uhh, nikmat sekali sayang, makasih ya," katanya, mengecupku, lalu pergi.

Aku ingin sekali marah, berteriak, dan maki-maki, tetapi semua hanya bisa tumpah lewat tangisan siang itu.

Sore hari setelah Mas Hamdi melaut, aku berpamitan kepada mertuaku untuk menjenguk ayah. Lagi-lagi alasanku ayah sedang sakit. Begitulah, sore itu aku kembali berada dirumah ayah, dan tak ingin membuang waktu aku langsung memluk tubuh ayah begitu masuk rumahnya.

"Oh.. ayahh, Mas Hamdi jahat yah..," aku menangis dipelukan ayah diruang tamu.
"Kamu kenapa Mar..? kenapa kamu..?" ayah nampak khawatir melihat aku menangis.
"Dia menyetubuhiku tapi perutku tambah sakit yah, ini yah disini sakit," aku menuntun tangan ayah keperutku yang mulai membuncit.
"Disini ya, sayang. Sudah, kamu diam ya nanti ayah obati.., nah disinikan yang sakit? disini juga ya..?" ayah seperti mengerti apa yang kuinginkan dalam posisi berpelukan sambil berdiri, tangan ayah mulai merayapi dari perut sampai selakanganku, membuat gairahku bangkit seketika.

"Ayo sayang, ayah obatin dikamar.., ups.."

Ayah membopong tubuhku dan membaringkanku diranjang kamarnya. Setelah itu, bagai serigala lapar, ayah melucuti pakaianku dan pakaiannya juga. Ayah langsung menerkam selangkanganku yang membasah dan menjilati lagi vaginaku.

"Ohh iyaahh yaah.. begitu yahh.. aahh," aku tak lagi bisa mengendalikan ocehanku, nikmat sekali perlakuan ayah itu.

Mendengar celotehku tangan ayah naik merambati susuku, meremas, dan mencubiti putingnya. Sepuluh menit mempermainkan vagina dan susuku, ayah rupanya tak tahan juga. Apalagi pagi tadi pasti ayah pun sangat menyesal nafsunya tak tuntas.

"Uh Mar.., angkat kakimu ya.. begini sayang," ayah membimbing kakiku menopang dipundaknya.

Dengan posisi itu ayah menepatkan penisnya dibelahan bibir vaginaku.

"Yahh.., obatin Marr yah.. cepet yahh," aku sudah merasa gatal sekali ingin segera menerima sodokan penis kekar ayahku.
"Mar.., kalau lagi hamil muda memang wanita butuh beginian, kalau suamimu susah, kamu sering kemari ya, biar ayah obatin.
Lagipula, wanita hamil paling enak memeknya.. kayak kamu ini," ayah sengaja lagi mempermainkan birahiku, aku diajaknya ngobrol sementara kepala penisnya yang bulat dibiarkan membenam di pintu vaginaku tanpa memasukan batangnya.

"Gimana Mar? Kamu jawab donk sayang..?" tanyanya.
"Duhh ayahh.. masukinn dong yahh, Mar nggak bisa nahan lagihh, ahh.. iyaa uhh," belum selesai aku memohon, ayah menekan pinggulnya, membuat penisnya masuk keliang nikmatku.
Bless.. cleepp..
Posisi yang dibimbing ayah ternyata membuat syaraf divaginaku menerima rangsangan yang maksimal. Dengan posisi itu penis ayah menekan cukup diklitorisku setiap kali keluar masuk menembus bibirnya. Penis ayah yang sedikit lebih gemuk dari penis suamiku serasa membuat bibir vaginaku ikut monyong-monyong menerima sodokannya. Tangan ayah meremasi susuku dengan keras, dan tanganku hanya bisa melampiaskan nikmatku dengan meremasi bantal dikepalaku.

Kunikmati setiap gerakan ayah, aku juga berusaha menggoyang ayah dari bawah memutarkan pinggulku semampuku, aku pun ingin ayah merasakan kenikmatan yang sama seperti yang kudapat darinya. Mungkin benar kata ayah, saat hamil muda wanita sangat butuh seks dan butuh terpuaskan. Rambutku yang panjang sudah acak-acakan mengikuti gerak kepalaku yang liar. Keringat ayah dan keringatku bercampur membasahi tubuh kami dan juga sprei ranjang.

"Ohh Marr.. bukan mainn Mar.. enakh sekali pepekmu nak..," ayah sudah hampir jebol, gerakan menggenjotku semakin cepat.
"Oyaahh..mmphh aahhsstt.. enaakk juggaa konntollnyaahh.. aahhsstt," saat gerakan ayah lebih cepat, rangsangan diklitorisku menjadi puncak.

Aku juga hampir jebol, meski berusaha kutahan tapi kedutan kecil dinding vaginaku semakin menjadi, sampai akhirnya kupiting leher ayah dengan betisku yang menggatung.

"Amphuunn yahh.. aahhsstt,.. enghh.. ahhsstt..enghmm.. yahh.. ohh," aku jebol, vaginaku berkedut menjepiti penis ayah.
"Maarr.. ennaakk ohh.. ouhh.. ohh, ennaakkh Marr ohh," beberapa detik kemudian ayah menyusul orgasmeku, tubuhnya mengejang dan tangannya semakin keras meremas susuku.

Ayah menurunkan kedua kakiku dari pundaknya tanpa melepaskan penisnya yang terjepit vaginaku, dan mengarahkanku untuk berbaring miring berhadapan dengannya yang terkulai disampingku, kelamin kami tetap menyatu saat itu. Sampai akhirnya penis ayah mengecil dan melepaskan diri dari jepitan vaginaku. Saat lelah kami terobati dengan tidur beberapa jam, malam itu aku pulang kerumah mertua, dan melanjutkan tidur nyenyak dengan perasaan nyaman sekali.

Seperti kejadian pertama, meskipun aku terpuaskan bukan main tapi kejadian kedua bersama ayah menyisakan sesal dibathinku. Apalagi setiap kali aku mendengar ceramah rohani, aku merasa dosa terhadap Mas Hamdi suamiku. Selain itu aku juga merasa dosa melakukan hubungan intim dengan ayah kandungku, bukankah kami sedarah dan tabu untuk melakukan itu?

Tapi entahlah, dibalik rasa sesal itu, ada rasa ingin mengulangi yang juga sama besarnya. Dua perasaan itu berkecamuk dibathinku seminggu ini, selama itu aku ingin sekali ke rumah ayah tetapi batal karena rasa sesal tadi. Pagi itu aku merasa perang bathin lagi, tapi nampaknya rasa sesalku kalah kali ini dengan rasa ingin mengulangi nikmat bersama ayahku. Apalagi semalam aku kembali kecewa dibuat Mas Hamdi. Walaupun semalam Mas Hamdi sampai tiga kali menindih tubuhku dengan nafsu, tetapi ia selalu selesai sebelum aku puncak.

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahku, aku mengemasi makanan untuk kubawa kerumah ayah yang sudah seminggu ini tak kukunjungi. Kupikir aku bisa menghabiskan waktu disana karena Mas Hamdi baru subuh tadi berangkat dan tentu pulang malam. Maklum arah angin berubah sehingga hari itu Mas Hamdi melaut pagi.

Waktu aku sampai dirumah ayahku, rupanya pintu tak terkunci sehingga aku bisa langsung masuk. Kulihat ayah tertidur di kursi bambu ruang tamu, hanya pakai sarung dan telanjang dada. Kubiarkan ayah tidur sementara aku kedapur memindahkan lauk dari rantang ke piring yang ada dimeja dapur. Setelah itu aku kembali keruang tamu dan memperhatikan ayahku yang tertidur dikursi panjang dari bambu. Dibanding Mas Hamdi, ayah memang bertubuh lebih bagus walau sudah cukup tua. Dada bidangnya masih menonjolkan otot semasa muda dulu membuat tubuh yang tingginya mencapai 178 cm masih terlihat kokoh jika berdiri.

Mataku menjelajahi tubuh ayah yang terlentang, dari kaki sampai wajah. Wajah ayah juga masih menawan untuk lelaki seusianya, mirip-mirip aktor gaek Pit Pagauw yang mancung dan ganteng itu. Kuyakin, sebenarnya banyak wanita yang tergila-gila pada ayah, hanya saja ayah benar-benar sudah trauma dengan kegagalan perkawinannya dengan ibuku. Huh.. seandainya aku lahir di zaman ayah dan bukan anak ayah, ingin rasanya aku kukawini ayah dan menjadi istrinya. Tentusaja kenikmatan dapat kuraih setiap saat darinya, tapi mungkin bukan itu ukuran kebahagiaan tiap wanita, buktinya ibuku memilih meninggalkan ayah dan kawin lagi dengan pria yang lebih kaya.

"Ngghh.." ayah menggeliat tetapi tetap tidur, kaki kanannya yang terangkat membuat sarung yang dikenakan singkap hingga pangkal paha ayah terlihat jelas.

Oh.. Kekarnya penis ayah langsung membayang dibenakku, apalagi saat itu ujung penis tidurnya terlihat. Ayah tak menggunakan CD rupanya, sehingga penisnya menggelayut keluar dari kain sarung ketika kaki kanannya terangkat dan sarung itu tersingkap. Penis ayah yang tidur saja sudah hampir sama besar dengan milik suamiku, dadaku langsung berdesir saat itu, birahiku merambat naik.

Entah setan apa yang menguasaiku saat itu, aku mendekat dan bersimpuh dilantai menghadap kursi tempat ayah tidur. Posisi wajahku berada beberapa centimeter dari penis ayah yang keluar dari sarung. Dengan sangat lembut kusentuh penis ayah yang masih tidur, dan pelan-pelan kugenggam penis itu dan kuusap-usap mengocok-kocok penis ayah. Walau ayah hanya bergumam kecil dan tetap tidur, tetapi reaksi penisnya positif, batang nikmat itu perlahan membesar dan menegang seirama dengan kocokanku. Aku benar-benar blingsatan sendiri menyadari penis ayah sudah on dan siap aksi, entahlah hari itu sebelum mendapat foreplay dari ayah, aku justru sudah terbakar birahi.

"Ouhh.. Sayangg.." ayah mendadak terbangun, tangannya meremasi rambutku dan menuntun kepalaku mendekat ke penisnya.
"Tolong hisap sayang, seperti ayah menjilati vaginamu itu," ayah memerintahku, dan perintah itu kulaksanakan tanpa keberatan, walau sebenarnya baru kali itu aku menghisap penis lelaki.
"Mmmphh ssthh mmpphh.. Ahh, enak yah?, mmphh sshtt," kulakukan pekerjaanku dengan baik.

Tubuh ayah sampai menggelinjang beberapa kali menahan kenikmatan oralku. Saat mulutku mengulum penisnya, ayah menggerakkan tangan yang memegang rambutku maju-mundur ke arah penisnya, membuat mulutku secara otomasi maju mundur pula menelan dan melumat penis ayah. Cairan bening yang keluar dari penis ayah kutelan dengan penuh nafsu. Sambil mengulum penis, kuperhatikan sensasi wajah ayah yang semakin tampan meringis menahan buaianku itu. Ayah mencengkeram rambutku lebih kuat dan lebih cepat menggerakan tangannya memaju mundurkan kepalaku.

"Hsstt ohh.. Nikmaattnyaa saayyhh.. Oghh.. Aahhgg.. Ayhh puass Marr.. Ohh," tubuh ayah kejang dan penisnya menyemburkan sperma kental yang cukup banyak, kutarik wajahku menjauh sehingga puncratan sperma ayah tercecer ke lantai.
"Ohh.. Sayang sini sayang, duduk diatas sini ya,"

Setelah beberapa menit menarik nafas, ayah menyuruhku duduk di kursi bambu itu sementara ia beralih berlutut dilantai dengan posisi menghadap perutku. Ayah mengakat kedua kakiku dan menopangnya kemeja di depan kursi, tubuh ayah seolah kujepit diantara kedua pahaku. Kini gantian ayah yang mengoralku. CD yang kupakai tidak dilepaskan ayah, tanganya mengamit CD bagian bawah dan dibawanya kekanan sehingga bibir vaginaku tersembul lewat celah CD itu, lalu ayah merunduk dan kurasakan sapuan nikmat di permukaan vaginaku.

"Ohh yaahh.. hhsstt," gantian juga, kini aku yang meremasi rambut ayah dan menekan kepala ayah agar lebih terbenam menjilati vaginaku yang membasah. Perlakuan ayah sungguh lelaki, jilatannya membuat aku menggelinjang kenikmatan semakin memuncakkan nafsu birahiku.

"Enghh uhh.. Enak sekali yahh, disitu yahh, oh ya disitu.. Isap yang kuat yah," desahanku semakin menjadi, sesak dadaku menahan rasa ngilu nikmat disekitar vagina dan merambat hiingga boongkahan pantat dan jari-jari kakiku. Aku berusaha bertahan cukup lama, tetapi setelah lima belas menit diperlakukan begitu akhirnya pertahanku jebol.
"Duhh yahh.. Ohh Marr yahh.. Uhh, hsstt.. Enghh enakk.. Ahhsst," saat vaginaku mulai berkedut, kutekan kepala ayah agar lebih membenam di vaginaku, cairan yang keluar dari liang nikmatku disedot ayah, membuat sensasi nikmatnya orgasme bagiku. Saat kedutan itu selesai, aku langsung terkulai dikursi bambu itu, dan ayah bangkit duduk disampingku membelai kepalaku.
"Enak Mar?," ayah membelai pipiku dan menatapku.

"Enghh ayah, iya enak sekali yahh.." aku lalu menyandarkan kepala didada ayah. Kami duduk dengan posisi begitu hampir setengah jam, aku dan ayah terlibat obrolan tentang kenangan indah ayah bersama ibuku, dan juga tentang aku dan suamiku. Kepada ayah kuceritakan betapa irinya aku terhadap hubungan ibu dengan ayah yang jauh lebih indah dibanding dengan aku dan Mas Hamdi, tak terasa aku pun menangis dipelukan ayah.

"Kasihan kamu nak, pasti kamu menderita tak terpenuhi nafkah bathinmu selama ini," ayah membelaiku lagi penuh kasih. Setelah membelaiku, ayah memegang tanganku dan menuntunnya ke arah penisnya. Astaga, penis ayah sudah tegak kembali dengan perkasa.
"Mari Mar.. ayah tuntaskan kenikmatan tadi untukmu," ayah membimbingku lagi untuk berdiri menghadap kursi dan menopang tangan pada sandaran kursi bambu itu.

Aku menurut tuntutan ayah, saat itu aku pun ingin segera menerima penis ayah, aku ingin disetubuhi ayah dari belakang, doggy style. CD ku yang basah dipelorotkan sampai lutut dan dasterku disingkap sehingga bongkahan pantatku terlihat jelas. Ayah memelukku dari belakang, tangannya mengusapi perut buncitku dan meremasi susuku. Ayah juga mengecupi leher belakangku.

"Ouhh yaahh.. Marr nggak tahann yah.." aku mulai tak sabar disenggamai ayah, merasakan penis besarnya merangsek vaginaku.
"Iyahh sayangg.. Nihh ayahh berii.. Ouhh nikmatnyya pepekk inii," ayah menepatkan penisnya dibibir vaginaku dan menekan pinggulnya kedepan, gerakan itu membuat penisnya langsung amblas diliang nikmatku yang sudah banjir saat itu.
"Iya yahh begiituu yahh.. Enakk sekalliihh ohh," aku merintih menahan nikmat dibagian vitalku.

Ayah mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga penis kekarnya menerobos keluar masuk di vaginaku. Senggama doggy style memang nikmat, apalagi baru kali itu aku mengalaminya, setelah beberapa siang lalu gagal lantaran hampir kepergok Henny, adik iparku. Ayah benar-benar memacu birahiku, vaginaku mulai berkedut menginjak menit ke dua puluh kami bersenggama.

"Ahhsstt.. Hhngghh.. Duhh yaahh.. Enhaakkhh ouuhh, iyaa lebih kerass yaahh.. Enaakkhh hngghh," aku kelabakan menerima sodokan ayah, kedutan kecil divaginaku kutahan sebisa mungkin, aku belum mau secepat itu orgasme, aku ingin lebih lama merasakan kenikmatan itu. Kugoyangkan pinggulku berputar mengimbangi gerakan ayah, otot perut kutegangkan sesekali agar ayah merasakan jepitan vaginaku dipenisnya.

"Ohh Marr.. Enakknyaa pepeekkmuu.. Ohh," ayah pun mulai merasakan hal yang sama, celotehnya semakin menjadi sambil tangannya meremasi bongkahan pantatku. Ayah menggenjotku lebih keras, penisnya menumbuki vaginaku sampai menimbulkan keciplakan berpadunya kelamin kami.

Aku tak tahan lagi, otot-otot kakiku mengejang seiring denyutan vagina yang semakin sering muncul. Nafasku dan nafas ayah berpacu melenguh, mendesis, memndesah, dan berteriak kecil.

"Iya yahh.. Kuatin yahh.. Marr sampaii yahh.. Ouhh.. Aahhsstt ighh.. Ammphuunn aahh," kurasakan seluruh ototku mengejang, kenikmatan mengumpul dari kaki, pantat hingga vaginaku yang semakin keras berkedut, aku hampir orgasme.
"OuuhHPp Marr.. Iinnii diaa.. Ohh.. Ohh ayah hampir juga Mar.. Ohh," ayah pun mengerang, tangannya menjambaki rambutku dan tubuhnya semakin cepat menggenjot tubuhku.
"Ouhh.. Ammphunn yahh.. Amphunn.. Aahhsstt.. Ohh.. Ampphunn.." aku sampai berteriak menerima orgasmeku, aku jebol.
"Iya Marr.. Inii.. Ayahh juggaa.. Aahh," ayah masih menggenjotku berkali-kali saat aku sudah puncak.

Tetapi, "braak.." pintu rumah ayah yang lupa kami kunci terbuka lebar. Menyusul suara pintu itu, Mas Hamdi masuk dan berdiri terpaku memandang ke arah kami.

"Ouhh Maarr.. aaghhkk.. Ohh.. Iyaahh.. Ohhggh," sangat tanggung saat itu, meskipun kami tahu kehadiran Mas Hamdi tetapi puncak nikmat yang datang tak mungkin lagi terhindar, ayah meneruskan memompaku sampai ia sendiri kejang dan memeluk tubuhku dari belakang.
"Ohh ammphunn yaahh.." aku sangat kenikmatan saat itu.

Mas Hamdi terpaku memandang kami, tetapi setelah mendengar aku berkata ampun, Mas Hamdi segera menuju ke arah kami dan menarik tubuh ayah.

"Kurang ajar kau orangtua, anakmu sendiri kau perkosa.. Huh"

Sebuah pukulan menyasar kewajah ayah sampai ia terjerembab kelantai. Rupanya Mas Hamdi berpikir kalau barusan tadi aku diperkosa, ia lalu menghampiri ayah yang jatuh dan menendang tubuh tua ayah beberapa kali. Aku tak tahu mesti bagaimana saat itu, selain mengenakan kembali CD-ku dan membenahi pakaianku.

"Kamu nggak apa-apa sayang?," suamiku memelukku setelah ayah tak berdaya.
"Enggak Mas.. Nggakk apa-apa," aku pun memeluknya, sungguh aku takut sekali saat itu.

Takut ketahuan, dan takut ditinggalkan suami. Beberapa menit kemudian suara ribut hardikan Mas Hamdi kepada ayah mengundang masyarakat datang. Ayah kemudian diarak ke rumah Pak Rahmat, Kadus dikampungku. Setelah sehari diamankan di rumah Kadus, Mas Hamdi melaporkan perbuatan ayah kepolisi dan ayah diamankan di kantor polisi sekaligus dijerat sebagai pemerkosa anak kandung. Aku ingin sekali membela ayah, tetapi aku tak mampu.

Kini, sudah lima bulan berlalu. Ayah sudah melalui proses peradilan dan meringkuk di LP sebagai terpidana tiga tahun penjara. Kisah kami tetap kusimpan rapi, dan sebulan sekali aku masih mengunjungi ayah di LP walaupun kulakukan tanpa setahu suamiku.

TAMAT
Baca SelengkapnyaAyahku menginginkanku