Birahi Ditengah Samudera

Cerita Dewasa, Namaku Ryan (bukan nama yang sebenarnya), pangilan akrabku kuanggap bagus dan selalu membawa kehokian yang baik dan ditunjang dengan postur tubuhku yang sangat atletis, tinggi 167 cm dengan berat badan 58 kg sangatlah membantuku dalam segala kegiatan. Keramahan serta rendah hati adalah senjataku karena aku berprinsip banyak teman banyak rejeki dan tidak kelewatan pula pasti banyak wanita yang tergoda. Dengan formasi yang begitu, tentu anda tahu seleraku. Aku sangat menyukai wanita yang berumur sekitar 30 hingga 37 tahun dimana mereka umumnya sangatlah cantik, dewasa dan terlihat sangat anggun. Entah mengapa Tuhan memberi anugerah kecantikan wanita yang sempurna bila mereka berumur sekitar yang kusebutkan di atas.

Aku bekerja di perusahaan P**** (edited) yang sangat syarat berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat dengan posisi yang lumayan srategis.

Diawali dengan perkenalanku dengan seorang pramuniaga yang sangat cantik, umurnya sekitar 33 tahun dan mempunyai anak satu. Henny namanya, sangat mudah diingat dan sangat enak terdengar di telinga. Perkenalanku berawal ketika aku sedang berlibur ke Kalimanatan (Banjarmasin). Perkenalan itu sangat indah dan romantis, disaat matahari tenggelam tertelan air laut di atas dek ferry kulihat seorang wanita bersandar di tiang besi dengan rambut yang tergerai melambai-lambai tertiup sepoi-sepoi angin laut, sungguh cantik dan sexy lekuk tubuh dan dadanya membusung ke depan, sweter unggu serta span warna hitam tak dapat menyembunyikan keindahan tubuhnya.

Dengan langkah yang pasti kuhampiri dengan sedikit sapaan dan percakapan yang sopan mulailah ia terbawa oleh obrolanku yang sedikit humor dan kadang menimbulkan gelak tawa yang memunculkan lesung pipinya, ya ampun cantik betul mahluk ini. Setelah puas dengan ngobrol ini itu dan matahari pun malu menampakkan wajahnya ternyata sudah pukul 19:00 WIB, tak terasa sudah perkenalan yang begitu lama di atas dek dan kami memutuskan untuk kembali ke bangku masing-masing. Kami berjanji akan bertemu kembali jam 21:30 di tiang besi saksi perkenalan kami.

Setelah mandi dan merapikan diri, tak sadar handphone-ku berdering, alarm yang sengaja kupasang telah memanggilku untuk segera naik ke dek karena sudah waktunya kujemput bidadariku di atas dek. �Hai Ryan..� sapa merdu Henny menyapaku dengan menepuk punggungku saat aku memandang lautan.
�Hai, Hen..� sedikit taktik, kubelai rambutnya.
�Maaf Hen..� kataku mesra.
�Ada apa Ryan..� balasnya manja.
�Nih benang bikin rusak pemandangan,� jawabku, padahal benang itu sejak tadi ada di tanganku.
�Oh kamu ini bisa aja Ryan..� bisiknya manja.

Henny sudah bercerai 3 tahun yang lalu dikarenakan suaminya suka berjudi dan mabuk-mabukan yang membuatnya banyak dililit hutang dan kehidupan rumah tangganya selalu tak terhindar akan keributan.

�Kenapa kamu tak cari suami lagi, Hen..� tanyaku untuk memecahkan keheningan.
�Ah.. nantilah,� jawabnya, �Aku masih suka sendiri dan masih kunikmati peran gandaku sebagai ibu dan ayahnya Ranny (anaknya, red) toh masih cukup gajiku untuk membiayainya.�
�Hebat kamu Hen, bagitu tegar dalam keadaan begitu. Kurang apa coba.. kamu mandiri, cantik, sexy dan masih muda lagi, akupun mau mendaftar kalo masih ada lowongan.. ahahaha..� aku sengaja tertawa untuk meriuhkan suasana karena kulihat dia diam dengan wajah agak memerah.
�Hahahhaha..� ternyata dia tertawa, �Ach kamu ini pantesnya jadi adikku,� jawabnya melecehkan.
�Hahahaha.. aku malah,� terbahak-bahak karenanya, �Lho meskipun adik tapi bisa buat adik si Ranny lho.�
�Mana mungkin,� jawabnya.
�Lha kok nggak percaya.. jangan ketagihan ya nanti,� jawabku.
�Yee.. siapa yang mau,� godanya manja.
�Aku yang mau,� jawabku.
Kamipun tertawa riang.
�Dasar buaya,� jawabnya.

Tanpa sadar kapal bergoyang dan angin semakin kencang dan Henny sudah ada di pelukanku, karena terombang-ambing kapal kudekap tubuh sintalnya dan tak luput kupengang buah dadanya yang besar, ternyata diapun diam saja. Kutahan goyangan kapal dan tak kulewatkan kesempatan itu dengan sedikit fantasiku goyangkan pantatku dan.., �Ach.. nakalnya kamu..� ternyata diapun menyadari makin nekadnya aku mengambil kesempatan dalam kesempitan sambil mencubit pinggangku, �Menggoda ya..� bisiknya.
�Ach masa, tapi suka kan,� jawabku.
�Hahahaa..� gelak tawapun tak terhindarkan lagi.
�Hen turun yuk, bahaya nich.. kayaknya angin semakin kencang dan goyangan kapal semakin garang kalo aku yang goyang kamu sich nggak masalah, lha ini kapal yang goyang.. hehehe..� ajakku mesra.
�Dasaar.. dasaar, bener-bener buaya kamu Ryan,� balasnya manja.
�Pppsst.. bukan buaya tapi biawak.. hahahha..� balasku.

Kamipun menuju anak tangga, satu persatu anak tangga kami lalui dengan tangan yang melingkari perutnya dan diapun melingkarkan tangannya di pinggangku. Dengan berani kucium telinganya, dia diam saja hanya reaksi tangannya saja yang menggenggam perutku dan kamipun sudah sampai di depan pintu yang bertuliskan staff only lalu kutarik pinggangnya untuk masuk, diapun tidak menolak. Dengan luas ruangan 2 X 4 m2 sangatlah luas bagi kami berdua. Dalam keremangan lampu kulumat bibir tipisnya, nafas kamipun semakin menderu. Ternyata dia pengalaman sekali dalam french kiss.

Kami berciuman 5 menit lamanya dan dia mulai membuka sweternya sedang aku membuka jaket kulitku dan kami jadikan alas hingga tiada benang sehelaipun yang melekat di tubuh kami berdua. Sungguh indah tubuhnya, dengan ukuran payudara 36B dan belum turun kuanggap sangatlah sempurna. Dalam keadaan berdiri, kulumat bibirnya dan mulailah turun ke tengguk hingga payudaranya dengan puting yang merah muda, �Seperti masih ABG saja,� pikirku. Kulumat yang kanan dan kupiin-pilin yang kiri membuat suaranya, �Hmm.. ach.. hmm.. sppt.. Ryan teruskan Ryan.. aacch, enak Ryan..� Kepalaku pun ditekannya ke dadanya, tak kupedulikan dia, kuhisap, kugigit-gigit kecil putingnya hingga ia makin menjambak rambutku. Dengan jenggot yang baru kucukur 2 hari yang lalu kugesek-gesekan daguku di gunung kembarnya. �Oooh Ryan.. please masukin dong.. sstt..� Tak kupedulikan ocehannya hingga kulumat perutnya, pusarnya dan akhirnya sampailah di gundukan surga dunia, sungguh indah.

Mataku terbelalak ternyata tidak ada sehelai rambutpun di sekelilingnya, harum dan wangi yang khas. Wajahnya yang cantik tersenyum manis padaku, kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu. �Ohh.. apa yang akan kau lakukan.. akh..� desahnya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya.

Beberapa saat kemudian tangannya malah mendorong kepalaku semakin bawah dan, �Nyam-nyam..� Nikmat sekali kemaluan Henny. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku. Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan, �Creep..� ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sejak tadi becek. �Aaahh.. kamu nakaal,� jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuknya yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Secara bergantian, kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. �Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Ryan..� lirih Henny. �Ryan, udah dong Ryan masukin aja.. Ryan oohh.. aku udah nggak tahan nich, please setubuhi aku..� pinta Henny lirih. Tanpa banyak mulut kumasukkan batang kemaluanku yang panjang dan tegak itu, dia tersentak, �Ach pelan dong Say.. sstt..� Kugenjot dengan penuh perasaan, sementara tanganku tidak tinggal diam, kupilin-pilin puting susunya yang mungil.

Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Henny terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya. �Ryann.. aahh.. aku nggaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh..� desahnya tertahan. �Tahan Hen.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya.. tahan dulu.. jangan keluarin dulu..� Tapi sia-sia saja, tubuh Henny menegang kaku, tangannya mencengkram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, mungkin karena lamanya ku-oral kemaluannya yang enak itu.

�Ooo.. ngg.. aahh.. Ryan sayang.. Ryan.. ooh enaak.. aku kelauaar.. oohh.. oohh..� teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya di sekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkram erat sekali, sementara itu batang kemaluanku masih tegak berdiri sedangkan dia sudah 4 atau 5 kali orgasme.
�Ryan, ayo dong Say aku udah nggak tahan nich.. Ryan keluarin dong.. aku hisap aja ya, biar cepat keluar..� Tanpa kusuruh dia sudah melumat dan menyedot kemaluanku.
�Astaga..� kurasakan tekanan dari dalam batangku sepertinya akan keluar. �Hen.. Hen.. stop Hen.. aku mau keluar nich..� desahku tertahan.
�Ya udah Ryan, masukin aja ke memekku.. aku juga ingin merasakan pejumu membajiri memekku.. aku kangen, udah lama nggak ada yang membanjiri memekku dengan peju..� balas Henny dengan nada manja dan sedikit genit.
�Aach.. Hen, aku mau keluar nich Hen.. ach.. achh..� aku lemas lunglai tak berdaya di atas tubuh Henny yang sexy itu.
�Makasih ya Ryan..� Kamipun tertidur dan aku terkejut ketika terbangun sudah pukul 04:00, untung saja tidak ada yang memergoki perbuatan kami. Setelah merapikan diri, kamipun kembali di kursi masing-masing dan kami berjanji akan bertemu kembali di kota, kebetulan kami satu kota. Sampai saat ini kamipun masih sering berhubungan dengan komitmen kebebasan yang menghargai serta menjunjung seks yang sehat.
Baca SelengkapnyaBirahi Ditengah Samudera

Mbak Ida Istri Pelayar

Cerita Dewasa, Suatu sore ketika aku sedang di Delta plaza buat beli beberapa kebutuhan sehari-hariku dan kebutuhan mandi. Saat itu aku memasuki plaza itu dengan santainya karena aku memang tidak terburu-buru, dan aku memasuki salah satu swalayan disitu dan memilih-milih barang kebutuhanku, dan setelah selesai aku pergi ke kasir dan antri disitu.. Dan emang lumayan panjang antriannya karena malam minggu.

Karena agak bosan antri maka aku tengok kanan kiri dan depan belakang kayak orang kampung. Ketika kuperhatiin di depanku ternyata seorang ibu-ibu yang membawa banyak belanjaan di keranjang belanjanya, dan nampaknya dia agak keberatan. Ketika kuperhatiin lebih lanjut ternyata dia lumayan menarik walaupun badannya agak over weight. Dari wajahnya kuperkirakan sekitar umur 35 tahun, tingginya sekitar 158 dan beratnya sekitar 65 kg. Kuperhatiin payudaranya sekitar 34C wah? Gede banget? Sampai terbayang pikiran kotor di otakku yang emang ngeres. Posisi dia yang berdiri agak menyamping jadi aku bisa puas memandanginya dari samping dan ketika dia menengokku (mungkin merasa di perhatiin) dan matanya bentrok dengan mataku dan dia tersenyum padaku hingga aku agak malu karena kepergok memandanginya sebegitu detail.

Pada saat giliran wanita di depanku dia mengangkat barang-barang belanjaannya dan salah satu barang belanjaannya jatuh secara otomatis aku menangkapnya dan ternyata dia juga berusaha menangkap barang tersebut sehingga walaupun barang itu terpegang olehku ternyata terpegang juga oleh tangannya sehingga kami seolah-olah bergandengan tangan.

�Maaf Mbak,� kataku agak malu karena menyentuh tangannya yang halus dan hangat itu.
�Enggak apa-apa kok Dik, terima kasih telah membantu menangkap belanjaan saya yang jatuh� jawabnya sambil tersenyum.

Kemudian dia melanjutkan aktifitasnya dengan kasir, setelah selesai semua dia keluar dan menoleh kepadaku sambil menganggukan kepalanya kepadaku dan bibirnya tersenuym manis. Dan akupun menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Setelah selesai belanja kemudian aku jalan agak santai menuju pintu keluar, ternyata di loby wanita itu masih berada di loby tersebut dan disampingnya banyak belanjaannya, kemudian aku lewat di depannya dengan cueknya dan pura-pura nggak mengenalinya.

�Ech, Dik� kata wanita itu sambil mengejarku.
�Iya Mbak, ada apa.. Ech.. Ini Mbak yang tadi yaa� kataku.
�Iya Dik, adik mau Bantu Mbak nggak Dik� tanya wanita itu.
�Kalau saya bisa membantu Mbak dengan senang hati saya Bantu Mbak. Och ya, nama saya Dony..� kataku sambil mengulurkan tanyaku.
�Saya Ida,� kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
�Apakah yang bisa saya Bantu Mbak� tanyaku.
�Itu, barang-barang Mbak kan banyak jadi bingung bawanya ke mobil Mbak, jadi kalau bisa minta tolong ama Dik Dony buat bantuin Mbak angkat barang-barang Mbak ke mobil. Itupun kalau Dik Dony enggak keberatan� kata wanita itu sambil tersenyum tetapi tatapannya penuh permohonan.
�Oh, gitu, kalau cuma gitu sih gampang soalnya barang-barang saya cuma dikit jadi enggak masalah kalau cuma Bantu Mbak� jawabku sambil mendekati barang belanjaan Mbak Ida.
�Terima kasih sebelumnya lho Dik Dony, Mbak telah merepotkan� kata Mbak Ida agak kurang enak.
�Enggak apa-apa kok Mbak biasa. O.. Ya.. Mobil Mbak di sebelah mana� tanyaku.
�Disana itu� kata Mbak Ida sambil menunjuk mobil Suzuki baleno warna hitam metalik.

Kemudian kami jalan bareng menuju ke mobil tersebut dan aku mengakat barang-barang belanjaan mabk Ida, lumayan berat sih, tapi demi Mbak yang menarik ini aku mau. Setelah meletakkan seluruh barang belanjaan Mbak Ida kemudian aku pamit pergi.

�Terima kasih lho Dik Dony, telah bantuin Mbak. O.. Ya. Dik Dony rumahnya dimana� tanya Mbak Ida.
�Rumah saya di jl. M� jawabku pendek sambil memandang tubuh Mbak Ida yang sexy itu.
�Kalau gitu kita barengan aja pulangnya, soalnya Mbak rumah di perumahan G jadi kan dekat� ajak Mbak Ida.
�Enggak usah Mbak ntar ngrepotin Mbak ajak� tolakku dengan halus.
�Gak ngrepotin kok, Mbak malah senang kalau Dik Dony mau bareng ama Mbak soalnya jadi ada yang diajak ngobrol waktu nyetir� katanya sambil memintaku masuk ke mobil.

Kemudian aku masuk dan setelah dijalan kami mengobrol banyak, ternyata Mbak Ida sudah punya suami dan seorang anak laki-laki berumur 4 tahun. Dia cerita bahwa suaminya seorang pelayar jadi pulangnya 6 bulan sekali bahkan terkadang setahun sekali dan dia tinggal dirumah dengan anak dan pembantunya.

�Mampir ke rumah Mbak dulu ya Dik Dony, nanti biar Mbak anterin Dik Dony kalau sudah bawa barang-barang kerumah� kata Mbak Ida dan aku hanya mengangguk.

Ketika memasuki gerbang rumahnya dan kulihat sebuah rumah yang sangat mewah. Dan akupun membawa barang-barang Mbak Ida ke dalam rumahnya, kemudian aku dipersilahkan duduk di ruang tamu.

�Dik Dony mau minum apa� tanya Mbak Ida.
�Enggak usah Mbak, lagian bentar lagi kan saya pulang� jawabku.
�Minum dulu deh sambil kita ngobrol, Mbak sudah lama nggak ada teman ngobrol. Mau susu dingin� tanya Mbak Ida.
�Boleh� jawabku singkat.
�Sambil nunggu minuman Dik Dony nonton aja dulu� katanya Mbak Ida sambil mengambil remote TV dan menyerahkannya padaku dan kemudian dia pergi kebelakang untuk mengambil minum buatku.

Ketika kuhidupkan TV ternyata otomatis ke dvd dan filmnya ternyata film semi porno. Cuek aja aku nonton, enggak kusadari ternyata Mbak Ida lama mengambil minuman dan akupun asyik nonton film semi porno tersebut.

�Suka nonton gituan ya Dik,� tanya Mbak Ida mendadak sudah berada dibelakangku.

Aku tersentak kaget dan malu, lalu kumatiin TV-nya. Kulihat Mbak Ida sudah ganti pakaiannya, sekarang mabk Ida memakai celana pendek dan you can see. Sehingga nampak pahanya yang putih mulus dan ternyata dia tIdak memakai bra sehingga nampak putingnya membayang di balik you can see nya tersebut.

�Ech, enggak usah di matiin, Dik Dony kan sudah besar ngapain malu nonton gituan. Mbak juga suka kok nonton film gituan jadi baiknya kita ngobrol sambil nonton bareng� kata Mbak Ida.

Lalu kuhidupkan lagi TV tersebut dan kami mengobrol sambil nonton film tersebut, ketika kuperhatiin ternyata nafas Mbak Ida nampak nggak teratur, nampaknya Mbak Ida sudah menahan hornynya. Dan Mbak Ida merapat ketubuhku sambil tangannya meremas tanganku. Kemudian dia berusaha menciumku dan aku berusaha menghindar.

�Jangan Mbak� kataku.
�Kenapa Dik, apa Mbak sudah terlalu tua sehingga nggak menarik lagi buat Dik Dony� kata Mbak Ida.
�Bukan gitu Mbak, Mbak sih cantik dan sexy, lelaki mana seh yang enggak tertarik ama Mbak. Tapi kan Mbak sudah punya suami dan nanti kalau di lihat ama pembantu Mbak kan enggak enak,� jawabku.
�Ah.. Suami Mbak sudah 8 bulan nggak pulang sehingga Mbak kesepian, Dik Dony mau kan nolong Mbak buat ilangin kesepian Mbak. Sedangkan pembantu Mbak sedang dilantai atas main-main ama anak Mbak� kata Mbak Ida.

Tanpa menjawab kubalas ciuman Mbak Ida dengan lembut dan tanganku mulai bermain dibalik baju Mbak Ida sehingga tanganku bisa meremas-remas lembut payudara Mbak Ida yang besar dan sexy tersebut. Nafas Mbak Ida semakin nggak beraturan dan mulutnya mulai mendesis-desis ketika lIdahku sudah bermain di bagian leher dan telinga Mbak Ida.

�Kita ke kamar Mbak yuk� kata Mbak Ida.

Kemudian kami berjalan menuju kamar Mbak Ida. Sesampai di kamar Mbak Ida, Mbak Ida langsung menerkamku dan menciumiku, dan akupun nggak kalah sigapnya. Kuciumi seluhur leher Mbak Ida dan telinganya dan tak lupa lIdahku bermain di leher dan telinganya sedangkan tanganku meremas, mengelus payudara Mbak Ida dan semakin kebawah.

Kemudian kubuka baju Mbak Ida, wah.. ternyata tubuhnya sangat sexy dengan sepasang payudara yang besar berukuran 34 C dan masih kencang dan nggak nampak kalau Mbak Ida pernah melahirkan seorang anak. Payudaranya yang mengacung ke atas dengan sepasang puting yang berwarna merah kehitaman. Kemudian kuciumin payudara Mbak Ida, kuisap putingnya dan kugigit-gigit kecil sehingga Mbak Ida mengluh dan mendesis menahan nikmatnya kenikmatan yang kuberikan.

Kemudian setelah puas dengan payuadaranya kemudian kubuka celana pendek Mbak Ida, dan nampaklah sebuah lebah mungil yang indah dan ditumbuhi dengan bulu-bulu yang hitam dan halus. Kucium lembah tersebut sampai Mbak Ida tersentak kaget, aku nggak peduli, kemudian kujilati klitorisnya yang berwarna hitam kemerah-merahan. Mbak Ida menjerit-jerit menahan kenikmatan dan tak lama kemudian air mani Mbak Ida membanjir keuluar dari dalam liang vaginanya. Mbak Ida terkulai lemas.

�Apa yang kamu lakukan sayang. Suami Mbak nggak pernah memperlakukan Mbak seperti ini. Dik Dony emang luar biasa� kata Mbak Ida.

Kemudian aku melanjutkan lagi kegitatan lIdahku di sekitar leher dan telinga sedangkan kedua tanganku berada di kedua payudara Mbak Ida yang sangat sexy itu. Mbak Ida mulai menggeliat-geliatkan tubuhnya karena menahan kenikmatan yang tIdak tertahankan olehnya. Tangan Mbak Ida merengut bajuku hingga lepas dan kemudian membuka celana panjangku sehingga aku hanya memakai celana dalam saja. Mr P ku yang sudah tegang nongol dari celana dalamku karena emang Mr P-ku kalau sedang tegang selalu nongol dari balik celana dalam karena celana dalamku nggak muat buat menampung besar dan panjangnya Mr P-ku. Mbak Ida terbelalak melihat Mr P-ku yang nongol dari balik celana dalamku dan kemudian dia membuka celana dalamku sehingga rudal andalanku ngacung di depan mata Mbak Ida yang memandangnya dengan bengong.

�Wah.. kok besar banget Dik Dony, punya suami Mbak aja enggak sebesar ini dan jauh lebih kceil� kata Mbak Ida sambil mengelus Mr. P ku.

Kemudian lIdahku sudah bermain di payudara Mbak Ida dan Mbak Ida sudah menjerit-jerit keenakan dan tangannya mengocok-kocok rudalku. Kemudian aku mulai alihkan perhatianku ke Vagina Mbak Ida dan kujilati vagina Mbak Ida sehingga Mbak Ida seperti kejang-kejang menerima serangan lIdahku pada vaginanya. Kumasukkan lIdahku ke liang vagina Mbak Ida yang sudah banjir kembali itu.

�Sudah donk sayang, jangan siksa Mbak. Cepat masukan punyamu sayang� kata Mbak Ida memohoin karena sudah nggak tahan menahan rangsangan yang kuberikan.

Tanpa perintah dua kali kemudian kuarahkan rudahku ke liang vagina Mbak Ida, ternyata nggak bisa masuk, lalu ku gesek-gesekan kepala rudalku buat penetrasi supaya rudalku bisa masuk ke liang kemaluan Mbak Ida. Setelah kurasakan cukup penetrasinya kemudian kumasukan rudalku ke liang senggamanya. Kepala rudalku sudah masuk ke liang vaginanya ketika kucoba buat masukkan semuanya ternta nggak bisa masuk karena liang vagina Mbak Ida sangat sempit buat rudalku yang berukuran 17 cm dan berdiameter 4 cm.

Lalu kukeluar masukan perlahan-lahan ke[ala rudalku dan kemudian kutekan agak paksa rudalku supaya masuk ke dalam liang vagina Mbak Ida. Kulihat wajah Mbak Ida meringis aku jadi nggak tega maka kuhentikan gerakan rudalku dan mulutku mulai beraksi lagi di seputar dada Mbak Ida sehingga Mbak Ida mendesah-desah keras. Lalu kucoba memasukan rudalku dan ternyata bisa masuk ¾ bagian dan kemudian kugerakan keluar masuk dan itu ternyata mebuat Mbak Ida kelimpungan dan mulutnya menjerit-jerit nikamat dan kepalanya di geleng-gelengkan kekiri dan ke kanan sedangkan tangannya mencengkeram pinggiran kasur.

Lalu ketekan rudalku lebih keras hingga amblas ke liang vagina Mbak Ida dan sampai menyentuh dinding rahim Mbak Ida. Kemudian ku gerakan keluar masuk di liang vagina Mbak Ida, Mbak Ida berteriak-teaik keras ketika ku gerak-grwakkan rudalku dengan cepat dan tak lama kemudian kurasakan ada jepitan yang keras dari liang vagina Mbak Ida dan tubuh Mbak Ida mengejang dan terasalah semburan hangat pada kepala rudalku dari liang vagina Mbak Ida. Mbak Ida terkulai lemas setelah menikmati orgasmenya tersebut. Tanpa kucabut rudalku dari liang vagina Mbak Ida kemudian ku pelutk tubuh Mbak Ida yang montok dan kucium keningnya.

�Hebat kamu Dik, aku baru sekali ini menikmati kenikmatan yang luar biasa� kata Mbak Ida sambil memandangku dengan kagum, karena aku belom keluar keringat sedikitpun.

Setelah kurasakan Mbak Ida sudah agak pulih nafasnya kemudian ke genjot lagi rudalku dIdalam vagina Mbak Ida. Dan itu berlalu sampai ronde yang ke delapan dengan berbagai gaya yang kami lakukan.

�Kok belum keluar juga sayang, Mbak sudah lemas nih, tolong donk Mbak sudah enggak kuat neh� kata Mbak Ida memintaku buat mengakhiri permainanku.

Tanpa menjawab ku genjot lagi rudalku ke liang vagina Mbak Ida, Mbak Ida hanya bisa menjerit-jerit keenakan saja sambil menggeleng-gelengkan kepala karena sdudah lemas tubuhnya sehingga gerakkannya terbatas.

�Mbak mau keluar lagi nih sayang� kata Mbak Ida.
�Barengan yuk Mbak. Dony juga sudah mau keluar nih. Keluarin dimana� tanyaku sambil menahan nafas karena sudah menahan seluruh cairanku mengalir menuju rudalku.
�Didalam saja� kata Mbak Ida sambil menggoyang-goyangkan pantatnya

Kemudian ku genjot keluar masuk rudalku dengan cepat.

�Oughh.. lebih cepat sayang. Mbak sudah mau keluar nih� kata Mbak Ida sambil tubuhnya tegang siap-siap merasakan orgasme yang ke sembilannya.

Kemudian kurasakan liang vaginanya menyempit dan menjepit rudalku sehingga tak tertahankan lagi membanjir keluar seluruh cairan dari dalam tubuhku ke dalam liang vagina Mbak Ida.

�Ouaghh..� jerit Mbak Ida keras, sambil kurasakan ada semprotan hangat di kepala rudalku dari liang vagina Mbak Ida sehingga liang Mbak Ida banjir dengan air mani kami berdua.

Setelah agak lama kemudian kucabut rudalku dari liang vagina Mbak Ida. Lalu kepeluk tubuh Mbak Ida dan kucium jIdatnya dan kemudian aku berbaring disisi Mbak Ida untuk mengatur nafasku yang tak beraturan.

Setelah mandi bareng (satu ronde lagi di kamar mandi) kemudian kami berpakain dan menuju ke ruang tamu.

�Kamu panggil aja Mbak dengan nama Mbak lagian umur kita kan enggak beda jauh� kata Mbak Ida sambil mencium pipiku.
�Iya Mbak. Aku sudah 25 tahun nih� kataku.
�Kamu besok-besok masih mau kan main ama aku� kata Mbak Ida memulai biar lebih akrab.
�Tentu saja sayang. Siapa sih yang enggak mau ama tubuh sexy dan wajah yang manis seperti ini. Emang Ida nggak takut ketauan� kataku.
�Enggak donk. Orang disni sepi banget lagian anakku tidur di kamarnya sendiri jadi ada apa-apa di kamarku kan enggak bakal ketauan� kata Ida sambil mengedipkan mata.
�Oke deh. Kalau begitu aku pulang ke kostku dulu yaa� kataku sambil berdiri.
�Bentar. Kuantar kamu pulang� kata Mbak Ida sambil pergi mengambil kuci mobilnya.

Begitulah sampai sekarang aku hampir tiap malam kerumah Mbak Ida buat memuaskan nafsu Mbak Ida yang lama nggak tersalurkan. Akupun sampai-sampai hampir nggak sempat mengunjungi pacarku.
Baca SelengkapnyaMbak Ida Istri Pelayar

Profesi Dan Kenikmatan

Cerita Dewasa, Aku tersentak bangun saat kudengar jam wekerku berdering dengan nyaring.

�Uhh.. Jam berapa ini..!� gumamku pelan sambil berusaha membuka mataku, aku masih malas dan ingin kembali tidur, tapi tiba tiba aku teringat bahwa hari ini aku harus buru-buru berkemas dan berangkat, kalau tidak, aku akan ketinggalan pesawat.

Hari ini aku akan pergi ke luar kota, bank swasta tempatku bekerja menugaskanku untuk mengikuti beberapa program pendidikan di kantor cabang salah satu kota di daerah Jawa Tengah.

Namaku Melinda tapi teman-teman biasa memanggilku Linda. Aku dilahirkan dari keluarga yang serba berkecukupan dan aku hanya mempunyai satu saudara kandung laki-laki, praktis semua permintaan dan kebutuhanku selalu dipenuhi oleh kedua orang tuaku. Aku benar benar sangat di manja oleh mereka. Ayahku berasal dari negeri Belanda, sedangkan ibuku berasal dari Menado, aku bersyukur karena seperti gadis peranakan pada umumnya, aku pun tumbuh menjadi gadis yang berwajah cukup cantik.

Saat ini usiaku 24 tahun, wajahku cantik dan kulitku putih mulus, rambutku lurus dan panjang sampai di bawah bahu, tubuhku pun termasuk tinggi dan langsing dipadu dengan ukuran buah dada yang termasuk besar untuk ukuran gadis seusiaku, ditambah lagi, aku sangat rajin merawat tubuhku sendiri supaya penampilanku dapat terus terjaga.

�Wah.. Aku belum sempat potong rambut nih..� gumamku sambil terus mematut diri di depan cermin sambil mengenakan pakaianku. Hari ini aku memakai setelan rok coklat tua dan kemeja putih berkerah, lalu aku padukan dengan blazer coklat muda. Aku merasa tampil makin cantik dengan pakaian kesayanganku ini, membuat aku tambah percaya diri.

Singkat cerita, aku telah sampai di kota tempatku akan bekerja. Aku langsung menuju kantor cabangku karena aku harus segera melapor dan menyelesaikan pekerjaan.

Sesampai di depan kantor suasananya terlihat sangat sepi, di lobby kantor hanya terlihat dua orang satpam yang sedang bertugas, mereka mengatakan bahwa seluruh karyawan sedang ada pelatihan di gedung sebelah. Dan mereka juga berkata bahwa aku sudah ditunggu oleh Pak Bobby di ruangannya di lantai dua, Pak Bobby adalah pimpinan kantor cabang di kota ini.

�Selamat siang..! Kamu Melinda kan..?� sambut Pak Bobby ramah sambil mempersilakan aku duduk.
�Iya Pak.. Tapi saya biasa di panggil Linda..� jawabku sopan.

Pak Bobby kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku, sambil sesekali menanyakan keadaan para pegawai di kantor pusat. Cukup lama juga aku berbicara dengan Pak Bobby, hampir lima belas menit, padahal sebenarnya, aku harus ke gedung sebelah untuk mengikuti diklat, tapi Pak Bobby terus saja menahanku dengan mengajakku berbicara.

Sebenarnya aku sedikit risih dengan cara Pak Bobby memandangku, mulutnya memang mengajukan pertanyaan kepadaku, tapi matanya terus memandangi tubuhku, tatapannya seperti hendak menelanjangiku. Dia memperhatikanku mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, sesekali pandangannya tertumpu di sekitar paha dan buah dadaku. Aku agak menyesal karena hari ini aku mengenakan rok yang agak pendek, sehingga pahaku yang putih jadi sulit untuk kusembunyikan. Dasar mata keranjang, sungutku dalam hati. Baru tak berapa lama kemudian pembicaraan kami pun selesai dan Pak Bobby beranjak ke arah pintu mempersilakanku untuk mengikuti diklat di gedung sebelah.

�Terima kasih Pak.. Saya permisi dulu..� jawabku sambil beranjak ke arah pintu.

Perasaanku langsung lega karena dari tadi aku sudah sangat risih dengan pandangan mata Pak Bobby yang seperti hendak menelanku bulat bulat. Pak Bobby membukakan pintu untukku, aku pun berterima kasih sambil berjalan melewati pintu tersebut.

Tapi aku kaget bukan kepalang saat tiba tiba rambutku dijambak dan ditarik oleh Pak Bobby, sehingga aku kembali tertarik masuk ke ruangan itu, lalu Pak Bobby mendorongku dengan keras sehingga aku jatuh terjerembab di atas sofa tempat tadi aku duduk dan berbicara dengan Pak Bobby.

�Apa yang Bapak lakukan..?? Mau apa Bapak..?� jeritku setengah bergetar sambil memegangi kepalaku yang sakit akibat rambutku dijambak seperti itu.

Pak Bobby tidak menjawab, dia malah mendekatiku setelah sebelumnya menutup pintu ruangannya. Sedetik kemudian dia telah menyergap, mendekap dan menggumuliku, nafasnya mendengus menghembus di sekitar wajahku saat Pak Bobby berusaha menciumi bibirku

�Jangan.. Jangann..! Lepasskan.. Ssaya..!� jeritku sambil memalingkan wajahku menghindari terkaman mulutnya.
�Diam..!!� bentaknya mengancam sambil mempererat pelukannya pada tubuhku.

Aku terus meronta sambil memukulkan kedua tanganku ke atas pundaknya, berusaha melepaskan diri dari dekapannya, tapi Pak Bobby terus menghimpitku dengan erat, nafasku sampai tersengal sengal karena terdesak oleh tubuhnya. Bahkan sekarang Pak Bobby telah mengangkat tubuhku, dia menggendongku sambil tetap mendekap pinggangku, lalu dia menjatuhkan dirinya dan tubuhku di atas sofa dengan posisi aku ada di bagian bawah, sehingga kini tubuhku tertindih oleh tubuhnya.

Aku terus menjerit dan meronta, berusaha keluar dari dekapannya, lalu pada satu kesempatan aku berhasil menendang perutnya dengan lututku hingga membuat tubuhnya terjajar ke belakang. Dia terhenyak sambil memegangi perutnya, kupergunakan kesempatan itu untuk berlari ke arah pintu. Aku hampir sampai di pintu keluar saat tubuhku kembali tertarik ke belakang, rupanya Pak Bobby berhasil menggapai blazerku dan menariknya hingga terlepas dari tubuhku, sesaat kemudian aku sudah berada di dalam dekapannya kembali.

�Bajingann..! Lepaskan saya..!� jeritku sambil memakinya.

Tenagaku sudah mulai habis dan suaraku pun sudah mulai parau, Pak Bobby masih terus memelukku dari belakang sambil mulutnya berusaha menciumi leher dan tengkukku, sementara tangannya menelikung kedua tanganku, membuat tanganku terhimpit dan tidak dapat bergerak.

�Jangann..! Biadab.. Lepaskan sayaa..!� aku kembali menjerit parau.

Air mataku sudah meleleh membasahi pipiku, saat tangan Pak Bobby membetot keras kemeja putihku, membuat seluruh kancingnya terlepas dan berjatuhan di atas lantai. Sekarang tubuh bagian atasku menjadi setengah terbuka, mata Pak Bobby semakin melotot melihat buah dadaku yang masih terlindung di balik bra hitamku, setelah itu, dia menarik kemeja yang masih menempel di bahuku, dan terus menariknya sampai menuruni lenganku, sampai akhirnya Pak Bobby menggerakkan tangannya, melemparkan kemeja putihku yang telah terlepas dari tubuhku.

�Lepasskann..!!� jeritku saat satu tangannya mulai bergerak meremasi sebelah payudaraku.

Tubuhku mengelinjang hebat menahan ngilu di buah dadaku, tapi dia tidak berhenti, tangannya malah semakin keras meremas buah dadaku. Seluruh tubuhku bergetar keras saat Pak Bobby menyusupkan tangannya ke balik bra hitamku dan mulai kembali meremas payudaraku dengan kasar, sambil sesekali menjepit dan mempermainkan puting buah dadaku dengan jarinya, sementara mulutnya terus menjilati leherku dengan buas.

Pak Bobby sudah akan menarik lepas bra yang kukenakan, saat pada saat yang bersamaan pintu depan ruangannya terbuka, dan muncul seorang laki laki dengan wajah yang tampak kaget.

�Ada apa nih Pak Bobby..?� serunya, sambil memandangi tubuhku.
�Lepaskan saya.. Pak..! Tolong saya..! Pak Bobby akan memperkosa saya..!� jeritku memohon pertolongan dari orang itu.

Perasaanku sedikit lega saat laki-laki itu muncul, aku berharap dia akan menolongku. Tapi perkiraanku ternyata salah..

�Wah Pak.. Ada barang baru lagi nih. Cantik juga..!� seru laki-laki itu sambil berjalan mendekati kami, aku langsung lemas mendengar kata-katanya, ternyata laki laki ini sama bejatnya dengan Pak Bobby.
�Ada pesta kecil..! Cepat Han.!! Lu pegangi dia..! Cewek ini binal banget� jawab Pak Bobby sambil tetap mendekap tubuhku yang masih terus berusaha meronta.

Sedetik kemudian laki-laki itu sudah berada di depanku, tangannya langsung menggapai dan merengkuh pinggangku merapatkan tubuhnya dengan tubuhku, aku benar-benar tidak dapat bergerak, terhimpit oleh laki-laki itu dan Pak Bobby yang berada di belakangku, lalu tangannya bergerak ke arah bra-ku, dan dengan sekali sentak, dia berhasil merenggut bra itu dari tubuhku.

�Tidak.. Tidak..! Jangan lakukan..!!� jeritku panik.

Tangisku meledak, aku begitu ketakutan dan putus asa hingga seluruh bulu kudukku merinding, dan aku semakin gemetar ketakutan saat laki-laki yang ternyata bernama Burhan itu melangkah ke belakang, sedikit menjauhiku, dia diam sambil memandangi buah dadaku yang telah terbuka, pandangannya seperti hendak melahap habis payudaraku.

�Sempurna..! Besar dan padat..� gumamnya sambil terus memandangi kedua buah dadaku yang menggantung bebas.

Setelah itu dia kembali beranjak mendekatiku, mendongakkan kepalaku dan melumat bibirku, sementara tangannya langsung mencengkeram buah dadaku dan meremasnya dengan kasar. Suara tangisanku langsung terhenti saat mulutnya menciumi bibirku, kurasakan lidahnya menjulur di dalam mulutku, berusaha menggapai lidahku. Aku tercekat saat tangannya bergerak ke arah selangkanganku, menyusup ke balik rokku, aku langsung tersentak kaget saat tangannya merengkuh vaginaku. Kukumpulkan sisa-sisa tenagaku lalu dengan sekuat tenaga kudorong tubuh Pak Burhan.

�Tidak.! Tidak..! Lepaskan saya.. Bajingan kalian..!� aku menjerit sambil menendang-nendangkan kakiku berusaha menjauhkan laki-laki itu dari tubuhku.
�Ouh.. Ssakit..!!� keluhku saat Pak Bobby yang berada di belakangku kembali mendekapku dengan lebih erat. Kutengadahkan kepalaku, kutatap wajah Pak Bobby, aku memohon supaya dia melepaskanku.
�Tolonngg.. Hentikann Pak..!! Saya.. Mohon.. Lepaskan saya..� ucapku mengharap belas kasihannya.

Keadaanku saat itu sudah benar-benar berantakan, tubuh bagian atasku sudah benar-benar telanjang, membuat kedua payudaraku terlihat menggantung dan tidak lagi tertutup oleh apapun. Aku sangat takut, mereka akan lebih bernafsu lagi melihat keadaan tubuhku yang sudah setengah telanjang ini, apalagi saat ini tubuhku sedang ditelikung oleh Pak Bobby dari belakang hingga posisi itu membuat dadaku jadi terdorong ke depan dan otomatis buah dadaku pun ikut membusung.

Beberapa saat kemudian Pak Bobby tiba tiba mengendorkan dekapannya pada tubuhku dan akhirnya dia melepaskanku. Aku hampir tidak percaya bahwa Pak Bobby mau melepaskanku, padahal saat itu aku sudah sangat putus asa, aku sadar aku hampir tidak mungkin lolos dari desakan kedua laki-laki tersebut.

Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung berlari secepatnya ke arah pintu, tapi lagi-lagi aku kalah cepat, Pak Burhan sudah menghadang di depanku dan langsung menghunjamkan pukulannya ke arah perutku.

�Arghh..!! Sshh.. Ouhh..� aku mengeluh kesakitan.

Kupegangi perutku, seketika itu juga, aku langsung jatuh terduduk, nafasku tersengal-sengal menahan sakit yang tak terkira. Belum hilang rasa sakitku, mereka berdua langsung menyerbu ke arahku.

�Pegangi tangannya Han..!!� seru Pak Bobby sambil mendorong tubuhku sehingga aku jatuh terjengkang di atas lantai.

Seketika itu juga Pak Burhan sudah berada di atas kepalaku dan mencengkeram kedua tanganku, sementara Pak Bobby berada di bawah tubuhku, mendekap kedua kakiku yang berusaha menendangnya. Dia sudah seperti kemasukan setan, melepasi sepatu hak tinggiku, merobek stockingku dan mencabik cabik rok yang kukenakan dan akhirnya dia merenggut dengan paksa celana dalamku, melolosinya dari kedua kakiku dan melemparkannya ke lantai.

�Lepasskann..! Lepasskan..! Tolongg.. Jangan perkosa sayaa..!� jeritanku makin keras di sela-sela keputusasaan.

Aku sudah tidak sanggup lagi menahan mereka yang sepertinya semakin bernafsu untuk memperkosaku, air mataku makin deras mengalir membasahi kedua pipiku, kupejamkan mataku, bulu kudukku langsung bergidik, aku tidak sanggup membayangkan kalau hari ini aku akan diperkosa oleh mereka.

�Jangann.. Ahh.. Tolongg..!� aku menjerit histeris saat Pak Bobby melepaskan pegangannya pada kedua kakiku.

Dia berdiri sambil melepaskan pakaiannya sendiri dengan sangat terburu-buru. Aku sadar, laki-laki ini sebentar lagi akan menggagahiku. Seketika itu juga kurapatkan kedua kakiku dan kutarik ke atas hingga menutupi sebagian dadaku, sementara kedua tanganku masih tetap di dekap erat oleh Pak Burhan. Tiba tiba Pak Bobby berjongkok, dia langsung menarik kedua kakiku, merenggangkannya dan kemudian memposisikan tubuhnya di antara kedua pangkal pahaku.

�Jangann..!!� keluhku lemah dan putus asa, sambil bertahan untuk tetap merapatkan kedua kakiku, tapi tenaga Pak Bobby jauh lebih kuat di bandingkan dengan tenagaku.

Aku terhenyak saat Pak Bobby mulai menindihku, membuatku jadi sesak dan sulit untuk bernafas, buah dadaku tertekan oleh dadanya, sementara perutnya menempel di atas perutku.

�Arghh..!! Jangann..! Sakiitt..!!� rintihku sambil berusaha menggeser pinggulku ke kiri dan ke kanan, saat kurasakan kemaluannya bergesekan dengan bibir kemaluanku.
�Sakiitt..!� aku kembali mengerang saat kepala penisnya mulai masuk ke dalam liang vaginaku.

Bersamaan dengan itu, tangan Pak Bobby bergerak, menjambak rambutku dan menariknya sehingga kepalaku terdongak, kemudian Pak Bobby dengan kasar melumat bibirku sambil terus menekankan tubuhnya ke arah selangkanganku. Kurasakan kesakitan yang luar biasa di dalam liang vaginaku saat batang penisnya terus melesak masuk menghunjam ke dalam lubang kemaluanku.

�Ahh..! Jangann..! Sakiitt..!� aku kembali menjerit dengan keras saat batang penisnya menembus dan merobek selaput daraku.

Tubuhku melenting ke atas menahan sakit yang amat sangat. Kuangkat kakiku dan kutendang-tendangkan, aku berusaha menutup kedua kakiku, tapi tetap saja batang penis itu terbenam di dalam vaginaku. Aku sungguh tersiksa dengan kesakitan yang mendera vaginaku. Kuhempaskan wajahku ke kiri dan ke kanan, membuat sebagian wajahku tertutup oleh rambutku sendiri, mataku membeliak dan seluruh tubuhku mengejang hebat. Kukatupkan mulutku, gigiku bergemeretak menahan sakit dan ngilu, nafasku seperti tercekat di tenggorokan dan tanpa sadar kucengkeram keras tangan Pak Burhan yang sedang memegang kedua tanganku.

Aku masih terus merintih dan menangis, aku terus berusaha menendang-nendangkan kedua kakiku saat Pak Bobby menarik batang penisnya sampai tinggal kepala penisnya saja yang berada di dalam liang vaginaku, lalu menghunjamkannya kembali ke dalam liang rahimku. Pak Bobby sudah benar-benar kesetanan, dia tidak peduli melihatku yang begitu kesakitan, dia terus bergerak dengan keras di dalam tubuhku, memompaku dengan kasar hingga membuat tubuhku ikut terguncang turun naik mengikuti gerakan tubuhnya.

�Ahh.. Sshh.. Lepaskann..!� jeritanku melemah saat kurasakan gerakannya makin cepat dan kasar di dalam liang kemaluanku, membuat tubuhku makin terguncang dengan keras, buah dadaku pun ikut mengeletar.

Kemudian Pak Bobby mendaratkan mulutnya di buah dadaku, menciumi dan mengulum puting payudaraku, sesekali dia menggigit puting buah dadaku dengan giginya, membuat aku kembali terpekik dan melenguh kesakitan. Kemudian mulutnya bergerak menjilati belahan dadaku dan kembali melumat bibirku, aku hanya bisa diam dan pasrah saat lidahnya masuk dan menari-nari di dalam mulutku, sepertinya dia sangat puas karena telah berhasil menggagahi dan merenggut keperawananku.

Perlahan-lahan dia menghentikan gerakannya memompa tubuhku, melesakkan kemaluannya di dalam liang vaginaku dan menahannya di sana sambil tetap memelukku dengan erat. Setelah itu dia menurunkan mulutnya ke sekitar leher dan pundakku, menjilatinya dan kemudian menyedot leherku dengan keras, membuat aku melenguh kesakitan. Cukup lama Pak Bobby menahan penisnya di dalam liang kemaluanku, dan aku dapat merasakan kemaluannya berdenyut dengan keras, denyutannya menggetarkan seluruh dinding liang vaginaku, lalu dia kembali bergerak memompa diriku, memperkosaku pelan pelan, lalu cepat dan kasar, begitu berulang ulang. Sepertinya Pak Bobby sangat menikmati pemerkosaannya terhadap diriku.

Aku meringis sambil tetap memejamkan kedua mataku, setiap gerakan dan hunjaman penisnya terasa sangat menyiksa dan menyakiti seluruh tubuhku, sampai akhirnya kurasakan mulutnya makin keras menyedot leherku dan mulai menggigitnya, aku menjerit kesakitan, tapi tangannya malah menjambak dan meremas rambutku. Tubuhnya makin rapat menyatu dengan tubuhku, dadanya makin keras menghimpit buah dadaku, membuatku makin sulit bernafas, lalu dia mengatupkan kedua kakiku dan menahannya dengan kakinya sambil terus memompa tubuhku, kemaluannya bergerak makin cepat di dalam vaginaku, kemudian dia merengkuh tubuhku dengan kuat sampai benar-benar menyatu dengan tubuhnya.

Aku sadar Pak Bobby akan berejakulasi di dalam tubuhku, mendadak aku jadi begitu panik dan ketakutan, aku tidak mau hamil karena pemerkosaan ini, pikiranku jadi begitu kalut saat kurasakan batang kemaluannya makin berdenyut-denyut tak terkendali di dalam liang rahimku.

�Jangann..! Jangan.. Di dalam..! Lepasskan..!!� jeritku histeris saat Pak Bobby menghentakkan penisnya beberapa kali sebelum akhirnya dia membenamkanya di dalam liang kemaluanku.

Seluruh tubuhnya menegang dan dia mendengus keras, bersamaan dengan itu aku meraskan cairan hangat menyemprot dan membasahi liang rahimku, Pak Bobby telah orgasme, menyemburkan sperma demi sperma ke dalam vaginaku, membuat dinding vaginaku yang lecet makin terasa perih. Aku meraung keras, tangisanku kembali meledak, kutahan nafasku dan kukejangkan seluruh otot-otot perutku, berusaha mendorong cairan spermanya agar keluar dari liang vaginaku, sampai akhirnya aku menyerah. Bersamaan dengan itu tubuh Pak Bobby jatuh terbaring lemas di atas tubuhku setelah seluruh cairan spermanya mengisi dan membanjiri liang rahimku.

Mataku menatap kosong dan hampa, menerawang langit-langit ruangan tersebut. Air mataku masih mengalir, pikiranku kacau, aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat setelah kejadian ini, kesucianku telah terenggut, kedua bajingan ini telah merenggut kegadisan dan masa depanku, tapi yang lebih menakutkanku, bagaimana jika nanti aku hamil..! Aku kembali terisak meratapi penderitaanku.

Tapi rupanya penderitaanku belum berakhir. Pak Bobby bergerak bangun, melepaskan himpitannya dari tubuhku, aku kembali merintih, menahan perih saat batang kemaluannya tertarik keluar dari liang kemaluanku. Kuangkat kepalaku, kulihat ada bercak darah bercampur dengan cairan putih di sekitar pangkal pahaku. Aku menangis, pandanganku nanar, kutatap Pak Bobby yang sedang berjalan menjauhiku dengan pandangan penuh dendam dan amarah.

Seluruh tubuhku terasa sangat lemah, kucoba untuk bangun, tapi Pak Burhan sudah berada di sampingku, dia menggerakan tangannya, menggulingkan tubuhku dan mulai menggumuli tubuhku yang menelungkup, aku diam tak bergerak saat Pak Burhan menciumi seluruh punggungku, sesaat kemudian dia bergerak ke arah belakang tubuhku, merengkuh pinggangku dan menariknya ke belakang. Aku terhenyak, tubuhku terseret ke belakang, lalu Pak Burhan mengangkat pinggulku ke atas, membuat posisiku jadi setengah merangkak, kutopang tubuhku dengan kedua tangan dan lututku, kepalaku menunduk lemas, rambut panjangku tergerai menutupi seluruh wajahku, kepanikan kembali melandaku saat kurasakan batang penisnya menempel dan bergesekan dengan bibir vaginaku.

�Linda..! Kamu memang benar-benar cantik dan seksi..� gumam Pak Burhan sambil tangannya meremasi pantatku, sementara batang penisnya terus menggesek-gesek di bibir vaginaku.
�Ahh.! Sakiitt..! Sudahh.. Sudah..! Hentikann..!! jeritku menahan sakit saat kemaluannya mulai melesak masuk ke dalam liang vaginaku.

Kuangkat punggung dan kedua lututku, menghindari hunjaman batang penisnya, tapi Pak Burhan terus menahan tubuhku, memaksaku untuk tetap membungkuk. Seluruh otot di punggungku menegang, tanganku mengepal keras, aku benar-benar tak kuasa menahan perih saat penisnya terus melesak masuk, menggesek dinding vaginaku yang masih luka dan lecet akibat pemerkosaan pertama tadi, kugigit bibirku sendiri saat Pak Burhan mulai bergerak memompa tubuhku.

�Lepasskan..! Sudah..! Hentikaann..!!� jeritku putus asa.

Nafasku kembali tersengal sengal, tapi Pak Burhan terus memompaku dengan kasar sambil tangannya meremasi pantatku, sesekali tangannya merengkuh pinggulku, menahan tubuhku yang berusaha merangkak menjauhi tubuhnya, seluruh tubuhku kembali terguncang, terombang ambing oleh gerakannya yang sedang memompaku.

Tiba tiba kurasakan wajahku terangkat, kubuka mataku dan kulihat Pak Bobby berjongkok di depanku, meraih daguku dan mengangkatnya, Pak Bobby tersenyum menatapku dengan wajah penuh kemenangan, menatap buah dadaku yang menggantung dan menggeletar, meremasnya dengan kasar, lalu Pak Bobby mendekatkan wajahnya, menyibakkan rambutku yang tergerai, sesaat kemudian, mulutnya kembali melumat bibirku, mataku terpejam, air mataku kembali meleleh saat mulutnya dengan rakus menciumi bibirku.

�Ahh..!!� aku terpekik pelan saat Pak Burhan menyentakkan tubuhnya dan menekanku dengan kuat.

Batang penisnya terasa berdenyut keras di dalam lubang kemaluanku, lalu kurasakan cairan hangat kembali menyembur di dalam liang rahimku, aku menyerah, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan, kubiarkan saja Pak Burhan menyemburkan dan mengisi liang kemaluanku dengan cairan spermanya.

�Periihh..!!� rintihku pelan.

Pak burhan masih sempat menghunjamkan kemaluannya beberapa kali lagi ke dalam liang vaginaku, menghabiskan sisa sisa ejakulasinya di dalam liang rahimku sebelum akhirnya dia menariknya keluar melewati bibir vaginaku yang semakin terasa perih.

Sedetik kemudian satu kepalan tangan mendarat di wajahku. Aku terlempar ke samping, pandanganku berkunang kunang, lalu gelap. Aku jatuh pingsan. Saat siuman aku temukan foto-foto telanjangku berserakan di samping tubuhku dengan sebuah pesan..

�Pastikan..! Hanya Kita Bertiga yang Tahu..!!�

Hari itu juga aku kembali pulang ke Jakarta dengan membawa penderitaan yang amat berat, sesuatu yang paling berharga telah hilang dari diriku dirampas oleh kebiadaban mereka.
Baca SelengkapnyaProfesi Dan Kenikmatan

Liarnya Wanita Setengah Baya

Cerita Dewasa, Sebut saja namanya Debbie umur 35 tahun dan Lucy 33 tahun. Seperti yang sudah-sudah, aku mengenal sosok Debbie dari seringnya aku online sebagai chatter.
Aku bisa menilai, Debbie adalah sosok yang hot dalam bercinta. Dengan ciri-ciri 170/65, berdada sintal, berpinggul sexy dan kelihatan sekali dia adalah seorang wanita yang suka sekali senam sehingga badannya terasa padat berisi. Itu semua aku ketahui setelah dia kirim aku foto dan aku tahu kalau dia penganut sex bebas juga dengan para karyawan-karyawan yang ada di surabaya, itupun aku ketahui setelah Debbie banyak cerita tentang kehiduapn sexnya.
Singkat cerita, kita janjian untuk ketemuan, dengan catatan dia harus bawa teman karena menurut dia, tidak pernah ada acara copy darat sendirian. Dan gilanya lagi dia sudah booking hotel, saat acara ketemuan nanti. Itu karena supaya dia tidak ketahuan suaminya, dia pilih Hotel. Karena menurut Debbie, Hotel adalah tempat yang paling aman.
Sesuai dengan hari yang sudah dibicarakan bersama, akhirnya aku bergegas meluncur menuju hotel yang dia booking. Setelah di depan hotel, aku berusaha menelpon dia untuk menanyakan di kamar nomor berapa.

�Hallo Dandy, kamu ada dimana� tanya Debbie.
�Aku sudah di depan lobby, Mbak Debbie di kamar no. Berapa?�aku berusaha mencari tahu.
�Naik aja lift ke lantai 3, terus cari nomor 326,� suara Debbie dengan jelas.
�Ok Mbak, aku segera naik,� jawabku.
�Ok aku tunggu,� suara Debbie dengan ceria.
Setelah aku tutup celluler ku, bergegas aku menuju kamar yang disebut oleh Debbie.
�Tok-tok-tok� aku mengetuk pintu yag betuliskan nomor 326.
Setelah pintu terbuka, aku sedikit terpana dengan tubuh Debbie yang tinggi semampai.
� Dandy ngapain bengong, masuk dong,� sambil menggapai lenganku.
Sesampai di dalam kamar, ternyata benar Debbie bersama dengan temannya, sesuai dengan janji dia.
�Dandy� aku ulurkan tanganku.
�Dandy, ini temenku Lucy� Debbie mengenalkan temannya dan sambari begitu, si Lucy bangkit dari duduknya langsung menyalami aku.
Keadaan berikutnya memang sedikit kaku karena aku juga kikuk, mengingat dalam kamar itu ada kami bertiga. Seandainya cuman berdua dengan Debbie aku lebih berani.
�Dandy, kamu nggak seperti di foto deh, sepertinya kamu lebih berisi� Debbie membuka omongannya.
�Jangan-jangan yang difoto bukan kamu� tuduh Debbie.
�Tidak kok Mbak, itu memang foto Dandy,� aku coba membela diri.
�Dy, kata Debbie kamu jago banget ya.. Ngesexnya?� tanya Lucy.
Pertanyaan itu bagaikan menghantam dadaku. Deg! jantungku terasa berhenti sekian detik.
�Mmm anu biasa kok Mbak,� jawabku gugup.
�Nggak apa-apa kok Dan, santai aja Lucy sama kok seperti Debbie� hibur Debby.
Pembicaraan semakin menjurus ke arah yang berbau sex, kedua wanita sebaya ini aku tafsir merupakan wanita-wanita yang doyan banget ngesex.
Aku sempat memutar otak dengan keadaan ini dan bertanya dalam hati, suami mereka itu gimana kok �menelantarkan� istri-istri sexy begini. Apalagi Lucy, sepertinya membiarkan mataku melihat bongkahan paha mulus di balik rok mininya. Sesekali dia merubah posisi duduknya tanpa harus riskan dengan aku yang duduk di depannya. Disaat aku melamun tentang khayalan aku, tiba-tiba Debbie sudah berada di pangkuan aku, jantungku berdetak semakin kencang.
�Dy, buktikan omongan kamu di chatting selama ini,� pinta Debbie sambil menempelkan dadanya ke muka wajahku. Aroma parfumnya yang begitu membangkitkan gairahku mengusik adik kecilku yang menghentak-hentak dinding CD-ku.
�Mbak� belum sempat aku selesaikan jawaban itu, bibir Debbie yang tipis segera melumat bibirku. Aku sedikit gugup menerima serangang yang mendadak ini. Tetapi aku berusaha mengontrol keadaan aku. Disaat bibir Debbie sedang asyik menikmati bbibirku, tanganku yang nakal mulai mengelus punggung wanita paruh baya tersebut.
Dengan kemahiran gigiku, aku melepas kancing blus belahan rendah yang ada pada dada Debbie. Sampai akhirnya 4 kancing atas blus Debbie terbuka, dan mulailah aku bisa mengusasi keadaan. Dengan belaian yang halus dan penuh perasaan, jari-jemariku mulai membuka pengait kancing BH Debbie.
Dengan sedikit sentuhan, �tess� BH Debbie yang berwarna hitam terbuka. Dan muncullah 2 bukit yang masih kencang didepan mukaku lengkap dengan sepasang puntingnya yang memerah. Aku bisa membaca apa yang sedang terjadi pada diri Debbie, dengan jilatan maut lidahku membuatnya merintih, �Ughh, geli sayang�
Jilatan lidahku yang mendarat di puting Debbie, membuat wanita itu menggeliat tidak beraturan. Karena Debbie masih menggunakan baju kantor (baca: rok mini). Tanganku semakin berani untuk mengelus pahanya yang putih mulus.

Sesekali tubuhnya yang sintal bergoyang dipangkuan aku dan sekitar 15 menit aku di posisi itu, semua inderaku bekerja sesuai fungsi masing-masing.
Disaat aku sedang melakukan foreplay, Lucy masih duduk di tempatnya semula. Akan tetapi sekarang kedua kakinya yang jenjang dibuka lebar sedangkan tangannya meremas buah dadanya sendiri
�Mm.. � sesekali Lucy merintih, mendesah melihat adegan Debbie dengan aku.
Setelah 25 menit, aku mencoba menyandarkan tubuh Debbie ke dinding kamar. Posisi ini sangat menguntungkan aku untuk mulai menikmati setiap cm tubuh Debbie. Aku lumat bibir Debbie, kemudian turun ke lehernya dan berlanjut ke buah dadanya yang sintal. Aku menjongkokkan tubuhku untuk menjilati puser Debbie.
�Akhh.. Dy, beri aku janjimu sayang.. Ughh,� lidahku mulai nakal menjelajahi perut Debbie. Sampai akhirnya aku mencium aroma bunga di lubang surga Debbie. Tanpa melepas CD yang dipakai, aku segera memainkan lidahku diatas kemaluannya. Dan bersamaan dengan itu kepala Debbie menggeleng kekanan-kekiri, seperti iklan sampho clear yang lagi berketombe di diskotik. Dengan sentuhan perlahan, aku melepas Debbie, karena posisinya berdiri sangat mudah sekali melepas CD warna putih berenda yang dikenakan.
Tanganku berusaha membuka kedua kaki Debbie yang masih menggunakan sepatu hak tingginya. Sehingga memudahkan lidahku untuk mengocok lubang kewanitaanya.
�Srupp.. Srupp, crek.. Crek� lidahku mulai menghujam vagina Debbie.
�Dy, kamu memang asyik.. Geli sekali.. Ooohh� Debbie merintih panjang saat lidahku mulai, mengulum, menjilat dan menghisap clitorisnya yang sudah mulai membesar dan berwarna merah. Aku mulai merasakan sesuatu akan meletup dalam diri Debbie. Dengan segala pengetahuan aku dalam ilmu bercinta, aku angkat satu kaki Debbie keatas pangkuan pundakku sehingga lidahku bisa leluasa menikmati cairan yang mulai meleleh di lubang surgawinya.
Dengan posisi berdiri kaki satu, aku semakin mempercepat jilatan lidahku, sampai akhirnya Debbie tidak kuasa membendung orgasmenya.
�Dy, aku keluar.. Aakkhh� bersamaan dengan itu pula cairan kental muncrat ke wajahku.
Dan diisaat aku masih bingung untuk membasuh wajahku tiba-tiba dari belakang Lucy mengangkatku sambil berkata �Dy, sekarang giliranku�.
Rupanya Lucy dari awal sudah memainkan jarinya diatas clitorisnya sambil menonton adegan antara aku dengan Debbie. Terbukti Lucy tidak lagi menggunakan CD yang tadi dikenakannya. Lucy membungkukkan badannya ke bibir meja, sehingga belahan merah pada selangkangannya terlihat jelas dari belakang. Bagaikan segerombolan tawon yang melihat madu, lidahkan langsung menari-nari di lubang kemaluan Lucy.
�Dy, enak.. Sekali sayang.. Akhh� Lucy merintih.
Dengan posisi aku duduk di lantai menghadap selangkangan Lucy, yang membuka lebar pahanya. Memudahkan aku beroperasi secara maksimal untuk menekan lidahku lebih dalam, sedangkan tanganku meremas pantat Lucy yang sexy.
Disaat aku sedang asyik menikmati lubang vagina Lucy, tiba-tiba Debbie sudah memereteli celanaku. Sehingga adikku yang berukuran 16 cm kurang dikit dan mempunyai bentuk yang sedikit bengkok ke kiri, menyembul keluar setelah sekian menit dipenjara oleh CD ketatku merk crocodille.
�Waow Dandy, gila banget besar sekali sayang.. Mmm� selanjutnya tidak ada suara lagi karena penisku sudah dilahap oleh mulut Debbie yang rakus. Aku merasakan betapa pandainya lidah Debbie menari di batang kemaluanku. Sesekali aku melepas kulumanku di vagina Lucy, karena merasakan kenikmatan permainan oral dari mulut Debbie.
Lucy sudah mulai bocor pertahanannya dan berkata sambil mendesah,
�Dandy.. Aku.. Aku.. Mau.. Kelu.. Arr.. Aahh,� tangan Lucy yang tadinya beroperasi dibuah dadanya sekarang menekan kepalaku dalam-dalam pada selangkangannya, seolah memohon jangan dilepas isapan fantastis itu. Untuk yang kedua kalinya wajahku belepotan oleh cairan wanita sebaya yang keluar dari lubang surgawi mereka. Disaat aku sedang membasuh wajahku yang penuh cairan, tiba-tiba Debbie menarik lenganku, hingga badanku berdiri.
�Dy, aku ingin style berdiri,� ajak Debbie sambil menarik tanganku untuk mengikuti dia berdiri.
Sambil bersandar di dinding, aku langsung mengarahkan adik kecilku dari bawah. Sehingga posisi berdiri tersebut sempurna sekali, dan itupun ditambah posisi Debbie yang masih belum melepas sepatu hak tingginya. Karena dengan demikian posisi Debbie lebih tinggi dari posisi aku berdiri.
�Bless� suara adik kecilku menembus belahan kecil diselangkangan Debbie
�Dy, enakk bangett.. Punyamu � erangan Debbie.
Gerakan maju mundurku semakin mentok di pangkal vagina Debbie, hal itu disebabkan karena pantat Debbie ditahan oleh dinding.
�Crekk.. Crekk.. Sslleepp� suara penisku menghujam keluar masuk dalam lubang vagina Debbie. Buatku, Debbie termasuk orang yang bisa megimbangi permainan sex. Buktinya dengan posisi sulit seperti itu, dia juga sedikit mendoyongkan tubuhnya ke dinding sehingga batang penisku benar-benar masuk semua.
Keadaan ini berlangsung sampai akhirnya di menit ke 45, Debbie berteriak
�Dyy.. Ampun.. Aku.. Mau.. Kelu.. Ar lagi.. Gila� rintih Debbie.
Tubuh Debbie mendekapku erat-erat seolah tidak mau lepas dari batang penisku yang masih menancap lubang surgawinya. Dan sedetik kemudian tubuh Debbie merosot ke bawah dengan lunglai.
Aku berjalan menghampiri Lucy yang sedang menyandarkan tangannya untuk melihat keluar jendela. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, sambil memeluk dia dari belakang, penisku yang masih kencang menerobos liang vagina Lucy sehingga membuat dia terpekik.
�Aaowww.. Dy kamu nakal deh, aku masih capek.. Uuughh� aku tidak mempedulikan erangannya.

Seraya meremas buah dadanya yang kencang dari belakang, pinggulku mulai bergerak maju mundur. Posisi seperti ini benar-benar membuat aku melayang, lubang Lucy yang sedikit sempit dan seret dibanding punya Debbie. Dan hal itu
membuat aku lebih bernafsu untuk menyetubuhinya. Itu wajar karena Lucy belum punya anak walaupun sudah menikah beberapa tahun.
Selang beberapa menit, �Dyy.. Aku nggak tahann.. Gila banget punya kamu terasa masuk sampai ulu hatiku.. Aaugghh,� rintih Lucy panjang, sambil tetap menggoyang pinggulnya. Dengan posisi setengah nungging dengan berdiri, memudahkan aku untuk memasukan penisku secara maksimal.
�Ughh.. Mbak.. Asyik banget punya Mbak� desah kenikmatanku untuk memuji kedua wanita itu sering keluar dalam mulutku.
�Dy.. Ampunn.. Aku.. Akkhh� Lucy merintih panjang.
Lucy merapatkan pahanya sehingga penisku terasa tersedot ke dalam semua. Gila, terasa copot penisku dibuatnya. Karena hebatnya permainan itu hingga tak terasa dinginnya AC yang ada dalam kamar itu. Aku coba mengambil segelas air es di kulkas, Debbie yang tadi terkulai menarik tanganku.
Baca SelengkapnyaLiarnya Wanita Setengah Baya

Kenikmatan Anak Pelanggan

Cerita Dewasa, Suatu hari aku mendapat perintah dari boss untuk mendatangi rumah Ibu Yuli, menurutnya antena parabola Ibu Yuli rusak tidak keluar gambar gara-gara ada hujan besar tadi malam. Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha, segera aku meluncur ke alamat tersebut. Sampai di rumah Ibu Yuli, aku disambut oleh anaknya yang masih SMP kelas 2, namanya Anita. Karena aku sudah beberapa kali ke rumahnya maka tentu saja Anita segera menyuruhku masuk. Saat itu suasana di rumah Ibu Yuli sepi sekali, hanya ada Anita yang masih mengenakan seragam sekolah, kelihatannya dia juga baru pulang dari sekolah.
�Jam berapa sich Ibumu pulang, Nit..?�
�Biasanya sih yah, sore antara jam 5-an,� jawabnya.
�Iya, tadi Oom disuruh ke sini buat betulin parabola. Apa masih nggak keluar gambar..?�
�Betul, Oom� sampai-sampai Nita nggak bisa nonton Diantara Dua Pilihan, rugi deh..�
�Coba yah Oom betulin dulu parabolanya�� Lalu segera aku naik ke atas genteng dan singkat kata hanya butuh 20 menit saja untuk membetulkan posisi parabola yang tergeser karena tertiup angin.
Nah, awal pengalaman ini berawal ketika aku akan turun dari genteng, kemudian minta tolong pada Anita untuk memegangi tangganya. Saat itu Anita sudah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos longgar ala Bali. Kedua tangan Anita terangkat ke atas memegangi tangga, akibatnya kedua lengan kaosnya melorot ke bawah, dan ujung krahnya yang kedodoran menganga lebar. Pembaca pasti ingin ikut melihat karena dari atas pemandangannya sangat transparan. Ketiak Nita yang ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, lalu dari ujung krahnya terlihat gumpalan payudaranya yang kencang dan putih mulus. Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang. Anita tidak memakai BH, mungkin gerah, payudaranya berukuran sedang tapi jelas kelihatan kencang, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan nafsu, aku pelan-pelan menuruni tangga sambil sesekali mataku melirik ke bawah. Anita tampak tidak menyadari kalau aku sedang menikmati keindahan payudaranya. Tapi yah.. sebaiknya begitu. Gimana jadinya kalau dia tahu lalu tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti patah tulang. Yang pasti setelah selamat sampai ke bumi, pikiranku jadi kurang konsentrasi pada tugas.

Aku baru menyadari kalau sekarang di rumah ini hanya ada kami berdua, aku dan seorang gadis remaja yang cantik. Anita memang cantik, dan tampak sudah dewasa dengan mengenakan baju santai ketimbang seragam sekolah yang kaku. Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah lalu turun ke betis lalu naik lagi ke dada. Kelihatannya pantas diberi nilai 99,9. Sengaja kurang 0,1 karena perangkat dalamnya kan belum ketahuan.
�Oom kok memandang saya begitu sih.. saya jadi malu dong..� katanya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku.
�Wahh� sorry deh Nit� habis selama ini Oom baru menyadari kecantikanmu,� sahutku sekenanya, sambil tanganku menepuk pipinya.
Wajah Anita langsung memerah, barangkali tersinggung, emang dulu-dulunya nggak cakep.
�Idihh� Oom kok jadi genit deh..� Duilah senyumnya bikin hati gemas, terlebih merasa dapat angin harapan.
Setelah itu aku mencoba menyalakan TV dan langsung muncul RCTI Oke. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan di belakang TV.
�Coba Nit.. bantuin Oom pegangin kabel merah ini��
Dan karena posisi TV agak rendah maka Anita terpaksa jongkok di depanku sambil memegang kabel RCA warna merah. Kaos terusan Anita yang pendek tidak cukup untuk menutup seluruh kakinya, akibatnya sudah bisa diduga. Pahanya yang mulus dan putih bersih berkilauan di depanku, bahkan sempat terlihat warna celana dalam Anita. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak lalu berdetak dengan cepatnya. Dan bertambah cepat lagi kala tangan Anita diam saja saat kupegang untuk mengambil kabel merah RCA kembali. Punggung tangannya kubelai, diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisi. Kala tangannnya kuremas Anita telah mengeluarkan keringat dingin. Lalu pelan-pelan kudongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya.
�Anita, kamu cantik sekali.. Boleh Oom menciummu?� kataku kubuat sesendu mungkin.
Anita hanya diam tapi perlahan matanya terpejam. Bagiku itu adalah jawaban. Perlahan kukecup keningnya lalu kedua pipinya. Dan setengah ragu aku menempelkan bibirku ke bibirnya yang membisu. Tanpa kuduga dia membuka sedikit bibirnya. Itu pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda.
Segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Anita menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Anita mempertemukan lidahnya dengan milikku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Anita pun mengikuti caraku.
Pelan-pelan tubuh Anita kurebahkan ke lantai. Mata Anita menatapku sayu. Kubalas dengan kecupan lembut di keningnya lagi. Lalu kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka. Tanganku yang sejak tadi membelai rambutnya, rasanya kurang pas, kini saat yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya mirip ular mengincar mangsa. Karena Anita memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sengaja aku bergaya softly, karena sadar yang kuhadapi adalah gadis baru berusia sekitar 14 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, sabar menunggu hingga sang mangsa mabuk. Dan kelihatannya Anita bisa memahami sikapku, kala aku kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Anita sedikit mengangkat pinggulnya. Wah, sungguh seorang wanita yang penuh pengertian.
�Ahhh.. Ahhh..� hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya kegelian ketika mulutku mulai mencium batang lehernya. Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Terasa sudah lembab celana dalam Anita. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Anita memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya.
Hawa yang panas menambah panas tubuhku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Anita. Duilah.. Baru kali ini aku melihat bukit kemaluan seindah milik Anita. Luar biasa.. padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Anita lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kecoklatan warnanya. Anita tidak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil memabukkannya. Ia hanya bisa medesah-desah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut. Begitulah wanita. Gam-gam-sus (gampang gampang susah) apa sus-sus-gam (susah susah gampang).
Tidak sabar lagi aku membiarkan sebuah keindahan terbuka sia-sia begitu saja. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Anita dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Anita. Bau semerbak tidak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita yah begini baunya. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap lendir kujilati lalu kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Anita sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di klitorisnya, Kujepit klitorisnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Anita tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannnya memberontak ke atas-bawah dan bergeser-geser ke kiri-kanan. Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat. Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek klitorisnya tapi menyebar ke seantero tubuhnya. Anita sudah tidak mengenal lagi siapa dirinya, boro-boro mikir, untuk bernafas saja tidak bisa dikontrol. Aku jadi semakin ganas dan melupakan softly itu siapa.
Batang kejantananku sudah amat sangat besar bergemuruh seluruh isinya. Demi melihat Anita tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terakhirku, celana dalam. Tanpa ba. bi. bu. be. bo segera kuarahkan ujung kemaluanku ke pangkal selangkangan Anita. Sekilas aku melihat Anita mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku. Batang kemaluanku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila berdiri tegak. Anita kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya.
�Ampun Oom.. jangan Ooommm.. ampun Oommm.jangannn�� Tangan Anita mencoba menghalau kedatangan senjataku yang siap mengarah ke pangkal pahanya.
Merasa mendapat perlawanan, sejenak aku jadi agak bingung, tapi untunglah aku memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera aku meminta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai agak acak-acakan.
�Nita takut Oom. Nanti kalau Mama tahu pasti Nita dimarahin. Dan lagi Nita nggak pernah kayak ginian. Nita juga jadi malu..� Katanya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya.
�Jangan kuatir Nit. Oom tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Oom sayang sekali sama Nita. Dan lagi Nita jangan takut sama Oom. Semua orang cepat atau lambat pasti akan merasakan kenikmatan hubungan �beginian�. Jangan takut �beginian� karena �beginian� itu enak sekali.�
�Iya, tapi Nita nggak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Nita jadi begini..?� Air mata Anita mulai mengalir dari pojok matanya. Melihat itu aku segera memeluknya agar bisa menenangkannya.
Agak lama aku memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, sampai akhirnya Anita bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi.
�Coba sekarang Nita belajar pegang �anunya� Oom, bagus khan,� aku meraih tangannya lalu membimbingnya ke batang kejantananku. Tangannya kaku sekali tapi setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada batang kejantananku, otot tangannya mulai mengendor. Lalu tangannya mulai menggenggam batang kejantananku. Pelan-pelan tangannya kutuntun maju-mundur. Kelembutan tangannya membuat batang kejantananku mulai bergerak membesar, sampai akhirnya tangan Anita tidak cukup lagi menggenggamnya. Dan Anita kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri.
�Ahhh.. enak sekali Nit.. aaahhh.. kamu memang anak yang pintar.. ahhhh..� mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku. Sementara itu tangan kiriku mulai meremas payudaranya yang masih tertutup kaos Bali yang tipis. Belum pernah aku meremas payudara sekeras milik Anita. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya lalu dengan cepat kulumat bibirnya. Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya lidah Anita pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang terpejam aku bisa merasakan kenikmatan tengah membakar tubuhnya.
Segera aku meminta Anita untuk melepas kaosnya agar lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Anita segera berdiri lalu menarik kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Batang kejantananku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Anita tanpa mengenakan selembar benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih membakar semangatku. Betul-betul sempurna. Kedua payudaranya menggelembung indah dengan puting yang mengarah ke atas mengingatkanku pada payudara Holly Hart (itu lho salah satu koleksi Playboy).
�Nit, tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!� Pujianku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu.
�Oomm, boleh nggak Anita mencium �itu�nya Oom?� Anita tersipu-sipu menunjuk ke selangkanganku. Rasanya tidak etis kalau aku menolaknya. Lalu sambil duduk di sofa aku menelentangkan kedua kakiku.
�Tentu saja boleh kalau Anita menyukainya..� Kubikin semanis mungkin senyumku. Anita pun mengambil posisi dengan berjongkok lalu kepalanya mendekati selangkanganku. Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala batang kejantananku. Pelan-pelan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Anita kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusuri sekeliling batang kejantananku. Sensasi yang luar biasa membuatku gemas meremasi kedua payudaranya.
�Aaduuhhh� enak sekali Nit.. Teruss.. Nitt, coba ke sebelah sini,� kataku sambil menunjuk ke buah pelirku. Anita segera paham lalu mejulurkan lidahnya ke pelirku. Anita menggerakkan lidahnya ke kanan-kiri atas-bawah.
�Oomm, ke kamar Nita aja yuk biar nggak gerah..� Sahutnya mengajak ke kamarnya yang ber-AC.
�Terserah Nita aja dehh..� balasku.
Begitu Anita merebahkan tubuhnya ke spring bed, aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk merasakan tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya tak ada yang kusia-siakan. Terutama di payudaranya yang aduhai. Tanganku seakan tak pernah lepas dari liang kewanitaannya. Setiap tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Anita menggerinjal entah mengapa. Sementara itu batang kejantananku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya.
Akhirnya kutuntun batang kejantananku ke arah liang kewanitaan Anita. Liang kewanitaan Anita yang telah kebanjiran sangat berguna sekali, bibir kemaluannya yang kencang memudahkan batang kejantananku menyelinap ke dalam. Sedikit-sedikit kudorong maju. Dan setiap dorongan membuat Anita meremas kain sprei. Kalau Anita merasa seperti kesakitan aku mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur, maju, �blesss�� Tak kusangka liang kewanitaan Anita mampu menerima batang kejantananku yang keterlaluan besarnya. Begitu amblas seluruh batang kejantananku, Anita menjerit kesakitan. Aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Tapi aku tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Liang senggama Anita sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan. Terasa beberapa kali Anita mengejankan liang kewanitaannya yang bagiku malah memabukkan karena liang kewanitaannya jadi semakin keras menjepit batang kejantananku. Erangan, rintihan, dan jeritan Anita terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya Anita pun menikmati setiap gerakan batang kejantananku. Rintihannya mengeras setiap batang kejantananku melaju cepat ke dasar liang senggamanya. Dan mengerang lirih ketika kutarik batang kejantananku. Hingga akhirnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Ketika batang kejantananku melaju dengan kecepatan tinggi, meledaklah muatan di dalamnya. batang kejantananku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang. Anita pun melengking panjang sambil mendekap kencang tubuhku, lalu tubuhnya bergetar hebat. Sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna
Keesokkan harinya aku mendapat telepon dari Ibu Yuli. Perasaanku mendadak tegang dan kacau, kuatir beliau mengetahui skandalku dengan anaknya. Mulanya aku tidak berani menerimanya, tapi daripada Ibu Yuli nanti ngomongin semua perbuatanku pada teman sekerjaku, terpaksa kuterima teleponnya dengan nada gemetar.
�Hallooo.. apa kabar Bu Yuli.�
�Oh baik, terima kasih lho, parabola Ibu sekarang sudah bagus, dan sekalian Ibu mau nanyakan ongkos servisnya berapa.. �
�Ah. nggak usah deh, Bu.. Cuman rusak sedikit kok, hanya karena kena angin jadi arahnya berubah.�
�Jangan begitu, nanti Ibu nggak mau nyervis ke tempatmu lagi lho.�
�Wah.. tapi saya cuman sebentar saja kerjanya.�
�Iya, bagaimanapun khan kamu sudah keluar keringat, jadi ibu mesti bayar. Nanti siang yach, kamu ke rumah ibu. Ibu tunggu lho.�
�Iya dech kalau Ibu maunya begitu, tapi sebelumnya terima kasih, Bu.�
Begitulah akhirnya aku nongol lagi di rumah Ibu Yuli. Lagi-lagi Nita yang menerimaku.
�Wah, terlambat Oom. Ibu dari tadi nungguin Oom datang. Barusan saja Ibu pergi arisan ke kantornya. Tapi masuk saja Oom, soalnya ada titipan dari ibu.�
Sampai di dalam, kelihatannya Nita tengah belajar bersama dengan teman-temannya. Ada 3 orang cewek sebayanya lagi asyik membahas soal Fisika. Dan kedatanganku sedikit memecah konsentrasi mereka. Kuamati sekilas teman Nita kok cakep-cakep yach. Aku membalas sapaan mereka yang ramah.
�Kenalin ini Oom gue yang baru datang dari Jawa Tengah.�
Kaget juga aku dikerjain Nita. Satu persatu kusalami mereka, Lusi, Ita, dan Indra. Senyum mereka ceria sekali. Di usia mereka memang belum mengenal kepahitan hidup. Semuanya serba mudah, mau ini tinggal bilang ke mama, mau itu tinggal bilang ke papa. Dasar anak keju. Ketiganya memang jelas kelihatan anak orang kaya. Penampilan, gaya, dan kulit mulus mereka yang membedakan dari orang miskin. Lusi punya lesung pipit seperti aktris Italy. Ita wajahnya mengingatkanku pada seorang aktris sinetron yang lemah lembut, tapi yang ini agak genit. Indra yang berbadan paling besar mirip seorang aktris Mandarin. Persis aktris-aktris lagi makan rujak bareng. Habis aku paling bingung kalau mendeskripsikan wanita cantik, rasanya nggak cukup selembar folio.
Aku menurut saja ketika tanganku di seret ke dalam oleh Nita sambil berpamitan pada temannya mau mengantar Oomnya ke kamar. Dan setelah mengunci pintu kamar, kekagetanku tambah satu lagi. Tubuhku langsung direbahkan ke kasur, lalu menindihku sambil mulutnya menciumiku.
�Oom, Nita mau lagi.� rengeknya manja. Ya, ampun sungguh mati aku nggak bisa menolaknya. Aku pun segera membalas ciumannya. Nafsu birahiku menanjak tajam. Anita yang masih mengenakan seragam SMP-nya terguling ke samping hingga giliranku yang di atas. Kancing bajunya satu demi satu kulepas. Buah dadanya yang terbungkus BH kuremas dengan gemas. Dari leher hingga perutnya kutelusuri agak brutal. Dan Nita yang meronta-ronta tak kuberi ampun sedikitpun. Kakinya mengangkang lebar kala tanganku mulai merambat ke atas pahanya dan berhenti tepat di tengah selangkangan. Gundukan kemaluan yang empuk membuat tanganku gemetar kala meremasnya. Dan jari tengahku mencongkel sebuah liang yang menganga di tengahnya. Celana dalam Nita mulai lembab kelihatannya tak tahan menghadapi serangan yang bertubi-tubi.
Akupun sangat merindukan Nita, hingga rasanya tak sabar lagi untuk segera menancapkan batang kemaluanku. Segera kupeloroti celana dalamnya setelah roknya kusingkap ke atas. Kerinduan akan baunya yang khas membuat kepalaku tertarik ke arah kemaluan Nita, lalu kubenamkan di sela pahanya. Mulutku memperoleh kenikmatan yang tiada tara kala mengunyah dan memainkan bibirku pada bibir kemaluannya. Nita pun semakin menggila gerakannya apalagi bila lidahku mengorek-ngorek isi kemaluannya. Nikmat sekali rasanya. Klitorisnya yang menyembul kecil jadi sasaran bila Nita menghentak badannya ke atas. Sepertinya Nita sudah �out of control� karena tangannya dengan kacau meremas segala yang dapat diraih. Demikian juga halnya denganku, entah berapa cc cairan memabukkan yang telah kureguk.
Batang kemaluanku yang sudah �maximal� kuarahkan ke liang senggama Nita. Sekilas kulihat Nita menggigit bibirnya sendiri menanti kedatangan punyaku. Akupun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini. Benar-benar kunikmati tiap tahapan batangku melesak ke dalam liang kemaluannya. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku kutekan ke bawah. Indah sekali menyaksikan perubahan wajah Nita kala makin dalam kemaluanku menelusuri liang kemaluannnya. Akhirnya, �Blesss..�
Habis sudah seluruh batang kemaluanku terbenam ke liang kenikmatannya. Selanjutnya dengan lancar kutarik dan kubenamkan lagi. Makin lama makin asyik saja. Memang luar biasa kemaluan Nita, begitu lembut dan mencengkeram. Ingin rasanya berlama-lama dalam liang kemaluannya. Semakin lama semakin dahsyat aku menghujamkan batangku sampai Nita menjerit tak kuasa menahan kenikmatan yang menjajahnya. Hingga akhirnya Nita berkelojotan sambil meremas ganas rambutku. Wajahnya tersapu warna merah seakan segenap pembuluh darahnya menegang kencang, hingga mulutnya meneriakkan jeritan yang panjang. Kiranya Nita tengah mengalami puncak orgasme yang merasuki segenap ujung syarafnya.
Menyaksikan pemandangan seperti ini membuatku makin cepat mengayunkan batang kemaluanku. Dan rasanya aku tak bisa menahan lebih lama lagi, lebih lama lagi.., lebih lama lagi. Secepatnya kucabut batang kemaluanku dan segera kuarahkan ke mulut Nita. Nita agak gugup menerima batang kemaluanku. Tapi nalurinya bekerja dengan baik, mulutnya segera menganga dan langsung mengulum batang kemaluanku. Dan kala aku meledakkan lahar, lidahnya menjilati sekujur batang kemaluanku. Tubuhku rasanya langsung luruh, tenagaku terkuras habis-habisan. Beberapa kali batang kemaluanku mengejut dan mengeluarkan lahar. Oh, my God..
Keasyikanku berdua dengan Nita membuat kami tidak merasakan jam yang terus berjalan. Tidak terasa hampir 3 jam kami meninggalkan teman-teman Nita di luar. Sekilas terdengar suara kasak-kusuk, seperti ada orang lagi mengintip perbuatan kami. Tapi saking asyiknya menikmati tubuh Nita, aku jadi tak mempedulikannya. Kulirik Nita masih tergolek tanpa penutup apa-apa dengan tubuh terlentang kelelahan. Wajahnya yang terlihat polos sangat indah dengan paduan tubuh kecil yang mulus. Kakinya masih membuka lebar, seperti sengaja memamerkan keindahan lekukan di selangkangannya. Gundukan kemaluannya memang belum berbulu sehingga jelas kelihatan bibir kemaluannya yang merah muda.
�Nit, teman-temanmu kelihatannya lagi pada ngintip lho.� kataku berbisik di telinganya.
�Hehhh..?� jawabnya sambil segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
�Teman-temanmu�� sekali lagi aku meyakinkannya sambil menunjuk ke pintu.
�Wwaduhh, gimana nich.. Oom.�
�Tenang aja, cepat pakai baju lagi dan seakan-akan nggak ada apa-apa, okey?�
�Tapi Nita jadi malu sama mereka dong,� katanya manja dan wajahnya berubah merah sekali.
�Sudah dech jangan dipikirin, anggap aja kita nggak tahu kalau mereka pada ngintip.�
Akhirnya kami keluar kamar juga, dan teman-teman Nita kelihatan sekali pura-pura sibuk mengerjakan soal-soal. Terlebih wajah mereka bertiga tersapu rona merah, dan tampak menahan senyum. Wah agak grogi juga aku untuk menyapa mereka. Sekali lagi aku tertolong oleh usiaku yang jauh di atas mereka. Kata orang langkah awal memang sulit untuk dilakukan.
�Hallo, belum selesai nich soal-soalnya?� kata awal yang akhirnya meluncur juga.
�Iya Oomm..� seperti koor mereka menjawab serentak. Dan makin memperlihatkan kegugupan mereka.
Boleh juga nich. Dan ide-ide cemerlang pun segera bermunculan, barangkali tidak terpikirkan oleh seorang Einstein.
�Sebaiknya istirahat dulu biar fresh pikiran kita, jadi nanti kita akan dengan mudah mengerjakan soal-soal rumit kayak gitu,� Saranku menirukan seorang psikiater. Sebab menurut hematku mereka pasti juga turut terangsang mengintip perbuatan kami. Dengan kata lain mereka menyetujui perbuatan itu, kalau nggak setuju yach jelas nggak mau ngintip. Jadi kesimpulannya kalau mereka mau mengintip berarti juga mau untuk berbuat seperti itu.
�Begini, Oom tahu kalau kalian tadi ngintip Oom di kamar. Tapi kalian tidak perlu kuatir sama Oom. Oom nggak marah kok. Malah senang bisa memberi kalian pelajaran baru. Tapi Oom juga kepingin lihat kalian telanjang juga dong, biar adil namanya. Iya, nggak.?�
Seketika wajah mereka bertambah merah padam, antara malu dan takut.
�Maaf Oom, tadi kami tidak sengaja mengintip.� kata Indra ketakutan sambil merapatkan pahanya.
�Baiklah kalau begitu Oom tidak mau memaksa kalian, Oom juga sayang sama kalian. Kalian semua cantik-cantik. Sekarang daripada kalian ngintip, Oom nggak keberatan untuk nunjukin burung oom. Lihat yach dan kalian semua harus memegangnya. Yang nggak mau megang nanti Oom telanjangin!� Suaraku bertambah nada ancaman. Dan aku pun segera membuka reitsleting celana sekaligus memelorotkannya berikut celana dalam, hingga burungku yang ngaceng melihat kepolosan mereka langsung nyelonong keluar. Serempak Indra, Lusi, dan Ita menutup wajah mereka. Aku acuh saja mendekati mereka satu persatu dan menarik tangannya untuk memegang burungku. Mulanya tangan mereka kaku sekali tapi jadi mengendur kala menempel burungku.
Nita yang sedari tadi hanya menonton langsung memprotes kelakuanku.
�Sudahlah Oom jangan begitu, lebih baik kita semua telanjang bersama saja, itu memang yang paling adil. Lagian kita juga sudah biasa mandi bersama kok, iya khan teman-teman.�
Indra, Lusi, dan Ita diam saja tampak malu-malu mempertimbangkan tawaran Nita.
�Baiklah karena diam berarti kalian setuju. Ayo dong Lus, biasanya kamu yang paling suka membukakan bajuku.� Kata Nita sambil menghampiri lalu merangkul Lusi.
�Iya dech saya setuju, tapi asal yang lain juga setuju lho.� Lusi mengumpan lampu kuning.
�Oke, Saya juga setuju agar konsekuen dengan perbuatan kita.� Ita menimpalinya.
�Demi kalian aku juga boleh-boleh saja.� Akhirnya Indra juga memberi keputusan yang melegakan hatiku.
�Nach begitu baru kompak namanya. Yuk kita bareng-bareng ke kamar aja..� Sahut Nita.
Jantungku bergerak kencang sekali, membuat langkahku limbung. Di depanku berjalan 4 cewek imut-imut alias ABG, Nita dan ketiga temannya, Indra, Lusi, dan Ita, menuju kamar Nita. Mulanya bingung harus bagaimana, tapi situasi yang memaksaku berbuat spontan saja. Mereka semua kusuruh duduk berjejer di tepi ranjang.
�Begini, kalian semua nggak perlu takut sama Oom. Oom nggak mungkin menyakiti kalian, kita sekarang akan bermain dalam dunia yang baru, yang belum pernah kalian rasakan. Kalian tak perlu malu, kalian tinggal menuruti apa saja yang Oom perintahkan. Sekali lagi rileks saja, anggaplah kita sedang menjalani pengalaman yang luar biasa.�
Banyak sekali sambutan pembukaan yang keluar begitu saja dari mulutku, untuk meyakinkan mereka dan agar nanti tidak kacau. Akhirnya mereka menganggukkan kepala satu persatu sebagai tanda setuju. Di wajah mereka mulai muncul senyum-senyum kecil, tetapi jelas tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Wajah mereka memerah kala aku mengucapkan kata-kata yang berbau gituan.
Singkat kata kusuruh mereka semua berdiri berhadapan, berpasangan. Nita memilih Indra sebagai pasangannya, sedang Lusi dengan Ita. Padahal batang kejantananku sudah gemetaran ingin segera melabrak mereka, tetapi nalarku yang melarangnya.
�Sekarang kalian coba saling membukakan baju pasangan kalian sampai tinggal BH dan celana dalam saja. Biar nanti sisanya Oom yang bukain.�
Mulanya mereka ragu bergerak, untunglah ada Nita yang berpengalaman dan Ita yang agresif sekaligus paling cantik dan menggiurkan. Ita memang lebih menonjol dari semuanya, badannya yang bagus tergambar dalam baju tipisnya, hingga BH-nya menerawang membentuk gundukan yang sempurna. Nita dan Ita tampak tertawa kecil membuka kancing baju temannya yang tak bisa mengelak lagi. Dan tentu saja Indra membalas perbuatan Nita, demikian pula Lusi. Wah, tak kusangka jadi meriah sekali persis seperti lomba makan krupuk. Hatiku bersorak girang melihat mereka saling berebut melepas baju pasangannya. Sementara itu otakku terus berputar mencari solusi terbaik untuk step berikutnya, selalu saja setiap cara ada kemungkinan terjadi penolakan. Sebaiknya harus selembut mungkin tindakanku.
Pasangan Nita dan Indra kelihatan kompak, hingga tak banyak waktu mereka berdua telah telanjang, hanya BH dan celana dalam saja yang menempel di badannya. Untuk Nita tak perlu kuceritakan lagi, lagian para pembaca juga sudah pernah ikut menikmati keindahan tubuhnya pada episode yang lalu. Sedang Indra yang berbadan putih mulus masih malu-malu saja, sambil menutupi selangkangannya dengan tangan kanan ikut menonton Ita dan Lusi yang belum selesai. Sementara itu, Ita dan Lusi sampai bergulingan di lantai. Kelihatannya Lusi menolak dibuka rok bawahnya, tapi Ita tetap ngotot menelanjanginya. Nita dan Indra turut tertawa menonton pergulatan seru itu. Dan karena gemas melihat Ita kewalahan atas pemberontakan Lusi, Nita dan Indra segera bergerak membantu Ita dengan memegangi kaki Lusi yang tengah menendang-nendang. Secepat kilat Ita memelorotkan rok bawah Lusi sampai terlepas.
�Heehhh.. kalian curanggg.. Nggak mau, Lusi nggak mau sama kalian lagi..� Lusi berteriak dengan sengit dan seperti mau menangis.
�Tenang Lusi, kita kan lagi bersenang-senang sekarang, dan lagi kenapa kamu mesti seperti itu. Bukankah kamu sendiri tadi sudah ikut setuju. Dari tadi kan Oom nggak memaksa kamu. Yang penting kita tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapa pun. Hanya kita-kita saja yang tahu. Kalau kamu malu itu salah. Percaya deh sama Oom.�
Untunglah saranku kelihatannya dapat diterima, apalagi melihat Ita segera membuka bajunya sendiri yang kusut sekali. Satu persatu kancing bajunya dibuka, dan sekali melorot sekujur keindahan tubuhnya terpampang. Tak kusangka Ita terus melepas BH-nya, kemudian membungkuk dan melepas celana dalamnya. Seketika jantungku berhenti berdetak, seluruh susunan syarafku mengeras, sampai dada ini seperti mau meledak. Sebuah pemandangan yang menakjubkan terpampang begitu saja di depanku.
�Luar biasa.. Hebat.. Nah dengan begini berarti Lusi nggak boleh ngambek lagi lho. Lihat Ita telah membayar kontan. Yuk kalian semua sekarang duduk lagi di ranjang sini.� Segera mereka sekali lagi menuruti perintahku. Aneh memang, selama ini aku nggak pernah kenal sama ilmu-ilmu gaib seperti di Mak Lampir, tetapi kenyataannya kok bisa mereka begitu saja patuh padaku.
�Nah sekarang kalian semua berbaring,� Mereka patuh lagi. Dengan kaki terjuntai di lantai mereka semua membaringkan tubuhnya.
�Sekarang kalian diam saja, Oom akan memberi sesuatu pengalaman baru seperti yang kalian tonton waktu Oom sama Nita. Kalian tinggal menikmati saja sambil menutup mata kalian biar lebih konsentrasi.� Sengaja aku menjatuhkan pilihan pertama pada Lusi.
Perlahan-lahan kubuka celana dalamnya, kakinya agak menegang. Sedikit demi sedikit terus kutarik ke bawah. Segundukan daging mulai terlihat. Detak jantungku kembali berdegup cepat. Dan lepaslah celana dalamnya tanpa perlawanan lagi. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilatan di depanku. Sedikit kurentang kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik bukit itu. Lalu dengan kedua jempol kubuka sedikit celah itu hingga terlihat semua isinya. Aku sampai menelan air liurku sendiri demi melihat liang kewanitaan Lusi. Kudekatkan kepalaku agar pemandangannya lebih jelas. Dan memang indah sekali. Aku tak bisa menahan lagi, segera kudekatkan mulutku dan kulumat dengan bibir dan lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian liang kewanitaan Lusi, rasanya tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan. Dan tiap lidahku menekan keras ke bagian yang menonjol di pangkal liang kewanitaannya, Lusi mendesis kegelian. Kombinasi lidah dan bibir kubuat harmonis sekali. Beberapa kali Lusi mengejangkan kakinya. Aku tak peduli akan semerbak bau yang khas memenuhi seputar mulutku. Malah membuat lidahku bergerak makin gila. Kutekankan lidahku ke lubang liang kewanitaan Lusi yang sedikit terbuka. Rasanya ingin masuk lebih dalam lagi tapi tak bisa, mungkin karena kurang keras lidahku. Hal ini membuat Lusi beberapa kali mengerang keenakan.
�Aduhhh.. Oommm.. enakkk sekali.. terusss Oomm.. ohhh�� Mulut Lusi mendesis-desis keenakan. Dan setiap lidahku menerjang liang kewanitaannya, Lusi menghentakkan pinggulnya ke atas, seakan ingin menenggelamkan lidahku ke dalam liang kewanitaannya. Banyak sekali cairan kental mengalir dari liang kewanitaannya, dan seperti kelaparan aku menelan habis-habisan. Persis seperti orang sedang berciuman, cuma bedanya bibirku kali ini mengunyah bibir liang kewanitaan Lusi hingga mulutku berlepotan lendir.
Ita yang berbaring di sebelah Lusi tampak gelisah, beberapa kali kulihat dia merapat-rapatkan pahanya sendiri. Rupanya dia ikut hanyut melihat permainanku. Diantara mereka berempat, dia memang yang tercantik. Karena itulah mungkin yang membuatnya sedikit genit, lebih matang, dan lebih �berbulu�. Hebat nian, anak SMP liang kewanitaannya sudah selebat itu. Sambil mulutku bermain di liang kewanitaan Lusi, sedari tadi mataku terus memperhatikan liang kewanitaan Ita. Beberapa kali tanganku ingin meremasnya tapi kuatir kelakuanku bisa mengecewakan Lusi. Habis kalau dia ngambek bisa berantakan. Sebagai kompensasinya tanganku meremasi kedua payudara Lusi yang kecil dan nyaris rata dengan dada. Putingnya yang lembut kugosok-gosok dan kupencet.
�Lus, udah dulu yahh, nanti lain kali Oom lanjutin lagi, yahh.� kataku sambil megecup bibirnya. Yang diajak ngomong tidak menjawab, cuma wajahnya jadi merah seperti kepiting rebus. Sekali lagi kukecup di keningnya.
Segera aku bergeser ke sebelah dan langsung menindih tubuh Ita. Ita yang cantik. Ita yang seksi. Walau tengah terlentang, payudaranya tetap tegak ke atas dan diperindah dengan puting yang besar. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, langsung menghindar. Barangkali tak tahan mencium aroma liang kewanitaan Lusi. Wajarlah, memang mulutku seperti habis makan jengkol. Segera kuturunkan mulutku ke lehernya, kucumbui semesra mungkin. Ita kegelian. Lalu turun lagi. Sambil kuremasi, payudaranya segera masuk ke mulutku. Kuhisap dan kujilati putingnya. Karuan saja Ita meronta-ronta. Entah kegelian apa keenakan, aku tak peduli. Bergantian kedua payudaranya kujilati semua permukaannya. Nafsuku rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Batang kejantananku telah mendongak perkasa sekali, beberapa kali berdenyut minta perhatian. Kalau saja memungkinkan ingin rasanya segera kumasukkan ke liang kewanitaan Ita. Sekali lagi nalarku terkontrol, karena memang aku sudah berjanji pada mereka. Tidak ada liang kewanitaan yang kumasuki batang kejantanan. Lagian memang aku benar-benar ingin semuanya berjalan mulus sesuai rencana. Coba kalau tiba-tiba ada yang menangis karena menyesal memberikan perawan mereka begitu saja padaku. Nggaklah.
Kaki Ita kurenggangkan sedikit. Bukit Berbunganya indah sekali. Yang namanya labia mayora sebetulnya nggak karuan bentuknya tapi selalu memancarkan keajaiban magnetis bagi setiap pria yang memandangnya (tentu yang normal atau paling tidak seperti aku). Barangkali kalau aku yang bikin daftar keajaiban dunia, Labia Mayora menempati urutan teratas. Siapa setuju kirim email, nanti kubawa berkas dukungannya ke Majelis liang kewanitaan Nasional.
Singkat kata segera mulutku kembali beroperasi di wilayah ajaib itu. Pelan-pelan kutarik dengan bibirku kedua labia mayora kepunyaan Ita secara bergantian. Kemudian, lidahku mencongkel keras ke pangkal pertemuan pasangan labia itu, dan berputar-putar di tonjolan daging kecilnya yang konon paling rawan sentuhan. Memang luar biasa efek sampingnya, seketika sekujur tubuh Ita bergoncang. Makin keras goncangannya, makin gila pula lidahku berayun-ayun. Aroma yang khas muncul lagi seiring mengalirnya lendir encer. Harta terpendam inilah yang kucari. Lidahku terus menyongsong ke dalam liang kewanitaan Ita.
Ita yang meronta-ronta menahan gejolak penjarahan liang kewanitaannya, berinisiatif mengambil bantal dan meletakkan di bawah pantatnya. Aku sampai heran perawan kecil ini kok sudah punya insting yang baik. Sambil kedua kakinya nangkring di pundakku, Ita membiarkan aku dengan leluasa menjelajahi seisi liang kewanitaannya. Kali ini lidahku berhasil masuk semua ke dalam liang kewanitaan, enak sekali.
Aku sudah tidak tahan lagi, segera tangan kananku mengocok batang kejantananku sambil segera berpindah ke sebelah lagi. Kali ini giliran Indra yang kelihatannya berdebar-debar menunggu giliran. Itu terlihat dari gerakan matanya yang gelisah. Tanpa basa-basi lagi kuraih sebuah bantal dan kuletakkan di bawah pantatnya, dan kurentangkan kedua kakinya menjepit badanku yang berlutut di lantai. Liang kewanitaannya merekah persis di depan hidungku. Sambil terus mengocok batang kejantanan, segera lidahku menerobos ke lubang senggamanya. Indra sempat berontak. Duilah aku sampai kesurupan, lupa sama teman bermain yang masih yunior. Oke, sofly and gently again maunya.
Sambil menahan nafas yang sebetulnya sudah ngos-ngosan (nggak sempat minum extra joss) kucumbui liang kewanitaan Indra. Liang kewanitaan yang satu ini agak gemuk dan berbulu walau tak selebat milik Ita. Walau tak seindah milik Ita, tapi tetap punya daya tarik tersendiri. Belum lagi aromanya yang semerbak harumnya. Tetap pelan-pelan, kutelusuri tiap lekukan yang ada di liang kewanitaannya. Sedap juga lho bermain slowly seperti ini. Klitorisnya yang agak besar bergoyang mengikuti gerakan lidahku. Entah kata-kata apa saja yang keluar dari mulut Indra. Kurang jelas memang. Tapi kuyakini itu suara erangan dan rintihan wanita yang tengah enjoy dan penuh semangat. Membakar semangatku pula dalam memacu tanganku pada batang kejantanan sendiri. Kedengarannya tragis sekali. Bak peribahasa orang kelaparan dalam lumbung padi.
Pantat Indra yang padat dan besar membuat lubang anusnya ikut terbuka waktu diganjal bantal. Tanpa rasa jijik sedikitpun kujilat-jilat anusnya. Indra makin mengaduh keenakan apalagi kala lidahku mencoba menerobos masuk ke anusnya. Indra pun menunjukkan kerja sama yang baik dengan mengangkat pinggulnya. Aku pun turut meningkatkan speed game-nya. Agak capai juga berlutut terus, aku naik ke atas dan menindih tubuh Indra. Kuciumi sekujur payudaranya yang tak kalah kencang dengan punya Ita. Dan walau kalah besar, keindahannya susah untuk dinilai. Sambil menciumi payudaranya, tanganku makin cepat mengocok batang kejantanan sendiri. Akhirnya aku tak dapat menahan lebih lama lagi, sekujur tubuhku tiba-tiba menegang. Seiring dengan semburan keras yang berapi-api di batang kejantananku, segera aku melumat habis mulut Indra yang mungil. Lidah Indra memberi sambutan hangat dengan mengais-ngais lidahku.
Selepasnya kami bercengkarama, mereka semua kecuali Anita akhirnya minta pamit setelah sebelumnya mereka memakai pakaiannya kembali. Setelah mereka pergi, saya melakukan percintaan dengan Anita kembali hingga 1 jam sebelum jam 6 karena Ibu Yuli akan pulang ke rumah pada jam 6 tepat. Selesai kami bercinta, saya berpura-pura mengerjakan antena parabola itu sambil sekali-kali mengerlingkan mata kepada Anita walaupun ibunya sedang mengerjakan tugas kantor di sisinya.
Baca SelengkapnyaKenikmatan Anak Pelanggan

Ronnie Dan Julia

Ceriya Dewasa, Edan! Teriakku seketika. Julia, pacarku minta three-some.
�Tenang, kamu kenal juga kok cewek ini.� Lenny menenangkanku.
�Gila kamu! kamu panas atau apa?�
�Mas Ronnie, ayo donk. aku janji kalau kamu ngeliat dia bakal tegang
deh! kalau nggak, aku turutin apa saja kamu mao deh.�
�Emangnya sapa cewek itu? Kapan maunya?� Tanyaku mulai antusias. Aku
harap cewek itu si Amy, cewekku punya cousin kalau bukan dia, si
Monica, cousin Julia dari keluarga lainnya.
�Ntar kamu tahu saja deh. Besok aku bakal ke rumah kamu agak telat
and bawa cewe ini deh.�

Aku masih ingat waktu baru jadian sama dia. Malam itu juga, aku
hilangkan dia punya keperawanan. Sejak itu pula, dia mulai gila seks.
Pertamanya sih dia berontak and bilang nggak mau. Tapi habis
merasakan penisku masuk vaginanya, langsung tiap kali ketemu minta
penisku. Soal mengulum pun begitu, dia mulanya nggak mau juga tapi
akhirnya ketagihan juga dia sama rasa spermaku. Kadang-kadang kalau
aku nyetir keluar kota di Indonesia barengan sama dia, aku harus
berhenti di pinggir jalan beberapa kali. Haus katanya. Minta spermaku
terus tuh anak.

Malam itu aku nggak bisa tidur memikirkan posisi-posisi dan
kemungkinan yang ada untuk pesta besok. Akhirnya, aku kalah juga
dengan nature dan tidur nyenyak malam itu. Pagi-pagi aku bangun dan
masih ingat mimpiku. Aku mimpi main bertiga, aku, Amy dan Julia. Aku
siap-siap ke sekolah dan berangkat naik bus. Aku murid di satu
sekolah pria di Singapore dan karena adanya krisis moneter, aku
dilarang naik Taxi ke sekolah. aku tinggal sendirian dan temanku
banyak yang sering ke rumahku untuk nonton BF atau bersenggama sama
pacarnya. Sampai di skolah aku melamuni saja apa yang bakal terjadi
nanti malam.

�Ting tong�, belku berbunyi. Dalam hati aku tahu itu Julia. Makan
malam yang baru kubuat langsung kusimpan and aku �open the door�.
Benar juga dugaanku, itu si Julia.
�Kok sendirian Jul, mana teman kamu?� aku tanya.
�Wah, Mas Ronnie sudah ngebet yah? Tenang Mas, dia setengah jam lagi
dateng, dia bakal bawa teman loh�, Dia tersenyum nakal. Siapa lagi
yang bakal ikutan. kalau yang ikutan cowok, malas ah pikirku.
�Cowok atau cewek sih yang bakal sama dia?�
�Rahasia dong! Ntar kamu tahu sendiri deh. Eh mana dinnernya?� aku
keluarin dinnernya dan kami makan malam. Pas, aku habis cuci-cuci bel
pintu bunyi lagi. aku bukakan pintu.

Gila! pikirku. Semua yang bakal kusetubuhi ini malam cewek-cewek
impianku deh. Di depan pintu ternyata Amy dan Monica. Body Amy yang
aduhai bikin aku ngiler, tapi muka cewekku si Julia memang paling
cakep dari mereka bertiga, sementara si Monica ini kaya dua orang
punya kelebihan digabung saja. Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Aku
cuma tercengang bengong melihati mereka berdua. Julia muncul dari
belakang dan mempersilakan mereka masuk. Sambil menutup pintu, Julia
mengelus penisku yang mulai keras. �As I told you Ron, you�ll be
fucked happy tonight.� Katanya setengah berbisik.

Gimana mau tahan? Mereka berdua pakai baju ketat banget, apa lagi si
Amy, gila dia punya breast, gede banget, si Monica pun juga gede tapi
masih kalah sama 36D-nya Amy. Cewekku punya sih biasa saja, 33C. Si
Monica pasti at least 35C. Tanganku mulai gatal, jadi aku permisi mau
ke WC dengan alasan mau buang air besar. Sampai di WC, penisku
langsung kukeluarkan dan aku langsung saja mengocok. Sambil mengocok
kututup mata membayangkan bersetubuh sama tiga cewek ini. Tiba-tiba
saja, pintu WC-ku kebuka. Tiga cewek keren itu memperhatikan penisku
menyemprot sperma ke lantai WC. Aku shock dan malu. Langsung saja aku
buru-buru sembunyikan penisku ke dalam celana dalamku. Rupanya si
Julia mengambil kunci serep WC dan membuka pintu WC ini.

�Eh kita lagi nikmat-nikmat nonton kok di sembunyiin sih?� Tanya Amy
dengan nada seksi.
�Iya tuh.� sambung Julia dan Monica bersamaan. Aku cuma bisa diam
saja. Amy masuk ke dalam diikuti sama Julia dan Monica. Aku berdiri,
belum sempat pakai jeans-ku, dan mau balik ke kamar, di-stop oleh
Amy. Tangannya masuk ke dalam celanaku dan mulai mengelus-ngelus
penisku. Penisku langsung saja bangun dan siap kerja. Mereka bertiga
kelihatannya lumayan terkesan dengan penisku. Sambil mengelus-ngelus
pelan, Amy terkadang meremas dengan lembut. Enak banget rasanya. Tiba-
tiba saja, si Amy merik penisaku dengan tujuan agar aku ikuti dia
keluar. Genggamanya yang kuat dan tarikannya yang tiba-tiba,
membuatku merasa sedikit tidak enak.

Sampai di kamar, dia langsung mendorongku ke ranjang. Si Amy sendiri
mulai melepas bajunya dan rok mininya. Ternyata dia nggak pakai BH
atau celana dalam. Gila, dia punya buah dada dan perut kencang
sekali. Bulunya pun dicukur habis, seperti anak kecil. Dia langsung
tarik turun celana dalamku dan mulai memberiku kuluman. Mulutnya
bergerak naik turun, dan badannya berada di atasku. Vaginanya ditaruh
di depan mukaku seolah-olah minta dijilat. Aku menoleh dan memandang
ke arah Julia. Julia ternyata sudah lagi 69 dengan Monica. Julia
melirik ke arahku seolah mengerti kalau aku minta persetujuan dia
untuk menjilati dan �menggitui� si Amy. Dia nggak tanya atau apa-apa,
cuma mengangguk dan meneruskan pekerjaanya. Aku buka kaosku dan
langsung menjilati si Amy. Pertama mulai dari vaginanya, tapi dalam
satu gerakan, aku sekaligus sentuh dia punya clitoris. Dia sudah
basah banget.

Amy langsung saja mendesah, �Ohh Ron, lick me there, suck my cunt!
Lick my Clit! Make me cum!� tanganku yang dari tadi diam mulai main
dengan pentilnya. Efeknya nggak perlu menunggu lama-lama. Sebuah
aliran deras membasahi mukaku dan untuk sementara gerakan mulut Amy
berhenti. Rupanya Amy sudah klimaks. Amy kemudian melanjutkan blow
job-nya, tapi aku suruh dia berhenti. Aku suruh dia tiduran di
ranjang sebentar. Aku pergi ke lemari mencari kondomku tapi nggak
ketemu. Aku langsung saja berteriak, �Eh gimana nih, kondomku sudah
habis.�

Si Amy cuma ketawa dan bilang, �Tenang saja Mas Ronnie kita-kita ini
pakai pil kok. Selain itu, kita-kita ini dijamin nggak ada penyakit
loh.� Aku langsung saja balik ke ranjang dan menciuminya. Dia pun
membalas ciumanku dengan ganasnya. Tanpa perlu ku arahkan lagi,
homing missile-ku langsung kumasukan ke vaginanya, vaginanya yang
basah dengan sedia menerima penisku yang gede itu. Tapi baru masuk
sedikit aku mulai merasakan hambatan yang berada di dalam lubang
cintanya itu.

�Kamu masih perawan toh, kamu yakin kasih aku masuk.� Tanya aku.
Kalau dia bisa jaga keperawanannya selama ini, aku salut dan
menghargai keteguhan imannya.
�Masukin donk Ron, aku mohon. Yang lain pada kecil jadi aku nggak
kasih masuk. Kamu punya gede sih jadi pasti nikmat.� Jawabnya dengan
suara yang memelas.
�Siap yah, pertama bakal sakit loh.�
�Iya iya, cepetan donk.�

Aku langsung tancapkan masuk aku punya penis. Mukanya menunjukkan
rasa sakit. Kubiarkan penisku beristirahat di dalam lubang cinta itu
sesaat untuk membiarkan Amy terbiasa dengan penisku dulu. Sementara
itu aku mulai menciumi dan memencet serta memainkan payudara si Amy.
Si Amy mulai mendesah keenakan. Mukanya yang penuh sakit sudah
hilang. Sementara itu erangan Julia dan Monica pun semakin keras dan
dalam waktu sekejap erangan berganti dengan teriakan-teriakan �I�m
cumming�, �Enak� �Aku climax�, dan sebagainya, akhirnya mereka pun
diam. Aku pun mulai maju mundurkan pinggulku. Gerakanku itu membuat
Amy mendesah �Oooh.. nice.. wonderful..� semakin cepat tempoku,
semakin keras juga erangannya. Aku menurunkan bagian atas badanku
untuk menciumi buah dadanya yang indah. Amy menaruh kedua tangannya
di belakang kepalaku. Dalam posisi begitu, kuangkat dia dan seluruh
berat badan dia bertumpang di pantatnya yang kupegang. Kudorong
badannya ke dinding dan penisku masuk ke vaginannya sambil berdiri.
Kakinya memeluk perutku. Dalam posisi ini, gravitasi pun membantu
gerakan kami dan penisku serasa masuk semakin dalam. Setelah lima
menit berlalu, aku merasakan bakal nggak lama lagi klimaks, aku
langsung kasih tahu Amy. Jawabannya cuma, �Ron, Fuck harder.. kerasan
donk.. tancap gas Ron.. fuck me like a slut Ron.� Mendengar kata-kata
kotornya, aku semakin bergairah. Gerakanku semakin cepat dan akhirnya
aku merasakan otot-otot vaginanya mulai kencang, kupercepat gerakanku
dan akhirnya aku merasakan gelombang deras menabrak penisku. Akhirnya
aku tidak tahan lagi. Aku mulai menyemprotkan spermaku. Semprot demi
semprot masuk ke dalam lubang cinta Amy.

Kami berdua kelelahan dan akhirnya berbaring di ranjang beberapa
untuk istirahat. Belum puas beristirahat, Monica datang, rupanya
setelah main 69 dengan Julia tadi dia masih belum berpakaian. Melihat
badannya yang aduhai dan mukanya yang manis, membuat darahku mendidih
penuh nafsu. Dengan sebuah elusan mesra, penisku yang sudah capai
akhirnya bangun lagi.

�Burung yang hebat!� komentar Monica.
�As I said!� balas Julia.

Setelah itu dia langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya, dan
seperti vacuum cleaner, penisku disedotnya. Aku cuma bisa mendesah
kecil. Kemudian dia langsung bilang, �Fuck me in the ass.� Aku
langsung ke lemari mengambil baby oil, aku olesi baby oil di penisku
dan di pantatnya. Pelan-pelan kumasukan penisku ke lubangnya dengan
osisi doggy style. Setelah penisku masuk semuanya, aku mulai
menyetubuhinya pelan-pelan. Dengan irama yang pelan, buah dadanya
yang keren itu bergesekan dengan permukaan mejaku. Setiap kali buah
dadanya bergesek dengan meja, otot-otot vaginanya semakin kencang.
Aku biarkan begini terus untuk lima menit. Akhirnya dua tanganku
memainkan buah dadanya. �Ooh.. ooh.. yes baby.. do it yes.. pinch my
nipple.. oh yes.. Ron, I�m cumming soon.� Tangan kiriku mulai main
dengan clitorisnya sementara tangan kananku memainkan pentil dan
payudaranya, sementara aku fuck dia di pantatnya dengan lebih cepat.
Akhirnya dia teriak �Yess! I�m Cumming!� Setelah itu dia langsung
mengemut penisku sekali lagi. Sesekali dia menghisap seperti vacuum
cleaner. Amy dan Julia sambil menonton, mereka finger fuck each
other.

Melihat pemandangan yang erotik ini aku langsung mulai merasakan
tanda-tanda mulai akan klimaks. Kucoba kasih tahu Monica, tapi dia
diam saja dan tetap menghisap penisku. Akhirnya semprotan demi
semprotan ditelannya dan sampai penisku mulai lemah pun masih dia
hisap, seolah-olah seperti cerutu saja di mulutnya. Akhirnya Julia
dan Amy pun mencapai klimaks.

Aku benar-benar capai. Sewaktu Julia mendatangiku, aku cuma bisa
geleng kepala tanda tak kuat lagi. Tapi Julia tidak putus asa. Dia
menciumi aku dan mengikuti jejak Julia, mereka juga mulai menciumiku
sambil memainkan penisku. Setelah begitu sampai lima belas menit,
mereka akhirnya putus asa juga. Tapi Julia tersenyum nakal. Dia
memanggil cousin-cousinnya dan mengajak mereka keluar. Mereka kembali
berpakaian. �Julia pasti marah deh�, pikirku. �Kenapa sih penisku
nggak bangun-bangun pikirku lagi. Lima menit kemudian, mereka bertiga
masuk lagi, kali ini mereka membawa satu CD. Aku mulai bertanya-tanya
apa yang mereka mau. Akhirnya setelah menyalakan CD, mereka mulai
berdansa, dan akhirnya mereka bertiga give me a strip tease show.
Penisku yang sudah loyo bangun lagi seperti Tugu Monas. Walaupun
sudah melihatku ready, mereka tidak stop dancing sampai akhirnya
mereka telanjang lagi.

�Ron, kita bertiga sudah siapin rencana supaya kita berempat bisa
fucking in one go. Mau nggak?� tanya Julia.
�Masih tanya lagi. Tentu saja mau dong!� jawabku dengan penuh
antusias.
Mereka semua mulai merunduk dalam posisi doggy style di tanah. Satu
di belakang satunya. Akhirnya paling belakang adalah Julia. Aku
langsung mengerti maksud mereka. Sewaktu aku fuck Julia, dia langusng
lick Amy, dan akhirnya Amy bakal lick Monica.

Aku langsung siap dan langsung saja fuck Julia dari belakang. The
chain reaction pun mulai akhirnya kami berempat mengerang keenakan.
Aku pun menemukan vagina kesukaanku. Biarpun sudah sering kubobolin,
tapi vagina Julia yang satu ini memang benar-benar kencang. �Ahh..
ohh..� kita berempat terus menerus mengerang. Setelah 7 menit,
akhirnya cewek-cewek ini mendapatkan klimaks mereka. Amy dan Monica
sudah �KO�. Aku juga melihat, kalau Julia sudah capai.

�Jul, kamu capau ya?�
�Iya nih, tapi kamu belon klimaks, terusin saja.�
�Nggak deh Jul, ntar kamu sakit.�
�Mas Ronnie memang baik deh. Gini saja Mas, aku kasih kamu breast
fuck aku aje ok?�

Dengan senang hati aku menerimanya. Aku mulai menyiram baby oil ke
dada Julia yang sedang rebah di ranjang. Badannya kini mengkilap oleh
pantulan cahaya lampu. Aku tekan dua buah payudara tersebut agar
mendekat. Akhirnya, di bawah sepasang payudara itu aku masukan
penisku. Aku sekarang maju mundur seperti kesetanan, Amy dan Monica
pun mendekat. Setiap kali penisku tembus, mereka pasti menjilat
kepalanya. Setelah 8 menit, aku tidak tahan lagi, melihat gelagat ini
Julia langsung berdiri dan berusaha untuk menghisapnya. �Argh..�
teriakku. Semprotan pertama mengenai tenggorokannya dan semprotan
kedua mengenai mukanya, semprotan-semprotan berikutnya ditelan habis
oleh Julia. Spermaku yang tidak masuk ke mulutnya mulai turun ke
payudaranya. Amy dan Monica mulai membersihkannya sementara aku
menciumnya dan merasakan rasa spermaku. Akhirnya mereka semua
menginap semalam di rumahku. Hari itu Jum�at malam. Besoknya adalah
hari libur. Apa saja yang terjadi besok pasti keren deh.

Ini beberapa cerita di 17 tahun dulu yang gw suka

Pagi menjelang. Sinar mentari pagi menerangi kamarku yang berantakan
karena kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di
ranjangku. Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Penisku
langsung tegak lagi. Enggak mau bangunin mereka, aku bangun dan terus
ke dapur untuk membuat makan pagi. Baru masuk dapur dan lagi mencari
mie instant, aku merasa ada tangan yang memainkan penisku dan melukku
dari belakang.

Aku langsung menoleh. Ternyata si Julia. Aku cium dia di bibir dan
kasih tahu dia aku mau masak. �Eh, aku sudah laper nih.� Katanya
dengan senyumnya yang nakal.

Dia mulai menghisap penisku yang dari tadi tegak. Aku langsung mundur
beberapa langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan
penisku ini. �Ohh..� itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya
yang imut terus naik turun dan dari pipinya bisa kelihatan kalau dia
lagi menghisap penisku dengan kerasnya. Lidahnya memainkan penisku.
Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif pagi
begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung
senyum.

�Kamu orang jahat yah nggak bagi-bagi breakfast.� Aku cuman ketawa
kecil. Puting mereka mengeras dan aku rasa mereka mulai horny.
Gerakan mulut Julia mulai lebih cepat. Dari sudut mataku, aku melihat
Amy dan Monica sedang French Kissing dan Finger Fucking each other.
Gila benar cewek-cewek ini. Pagi-pagi sudah aktif banget. Mulut Julia
tidak diam naik turun, aku mulai mainkan puting dan payudara Julia.

�Jul, kita 69 saja deh.� Saranku. Julia melepaskan hisapannya dan aku
langsung rebahan di tanah. Julia mulai berada di atasku dan aku
langsung hisap vaginanya yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali
kujilat clitorisnya. Setiap kali kujilat clitorisnya dia langsung
mendesah �Oh�. Akhirnya setelah lima menit begituan, lidahku mulai
capai. Aku mulai masukan dua jari ke dalam, teriakan �Ahh� terdengar,
aku mulai jilati clitorisnya dan maju mundurkan jariku. Dia sekarang
cuma teriak, �Enak Ron, terus Ron.. kerasan dong.. jilat terus.� Aku
cuma bisa jawab, �Eh lidahku capek nih, jarang-jarang saja lidahnya.�
Setelah itu aku mainkan clitorisnya pakai jempolku sementara kedua
jariku nggak berhenti maju mundur. Begitu tanganku yang satunya
menyentuh payudaranya, dia langsung teriak, �Oh yes Ron!� Otot
vaginanya langsung tegang dan bajir klimaksnya mulai membasahi
mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot sebentar. Sementar itu
Amy dan Monica sudah ganti posisi jadi 69 juga. Setelah Julia mulai
menghisap lagi, Mereka sudah klimaks, sebab kudengar mereka teriak
�I�m coming!� bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat
terdengar jelas. Aku yakin aku sebentar lagi mulai klimaks. Aku coba
tahan sebentar tapi aku nggak bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat.
Tak lama kemudian kusemprot saja spermaku ke dalam tenggorokan si
Julia. Setelah itu, dia menciumku. Tanpa diduga, ternyata dia cuma
telan sebagian spermaku sebab sebagiannya dimasukan ke mulutku. Itu
pertama kali aku merasakan sperma. Rasanya agak aneh tapi lumayan
nikmat juga.

�Bagian breakfast kamu tuh. Enak ngga?� Aku cuma mengangguk saja.
�Kita orang yang buat breakfast deh, kamu mandi saja� lanjutnya.

Aku akhirnya masuk kamar dan mandi. Setelah mandi, kita orang pergi
jalan-jalan ke Orchard Road naik MRT. MRT dari rumahku ke Orchard
kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat kita semua
saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT-nya diam, lampunya pun
mati. �Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical
and track failure. They are trying to fix the track at the moment and
the electricity would be back online in half an hour. We regret for
inconvenience caused.� Suara dari speaker menjelaskan apa yang
terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang penisku, aku telusuri mencari muka
yang punya tangan. Ternyata yang mainin penisku orang yang aku tak
kenal. Dia mulai masukan tangannya ke zipperku. aku juga tak mau
kalah. Aku mulai Masukan tanganku kedalam T-shirt-nya dan mencari
payudaranya. Enggak kusangka, payudaranya gede banget. Tiba-tiba
tangannya meninggalkan penisku yang tegak keluar dari zipper dan
mulai buka BH-nya dan menanggalkan BH-nya. Rok mininya kusingkap dan
ternyata dia nggak pakai CD. Aku mainin clitorisnya pakai satu tangan
dan satu tangan lagi mainkan putingnya. Agar desahannya yang mulai
keluar dari mulutnya tidak kedengaran orang lain, aku French kiss
dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan tangannya mulai mengocok
penisku.

�It is fifteen minutes before the light is up and the train will be
moving. Please bear with the condition for the moment.� Setelah itu,
dia mulai mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke
pintu sementara aku spread kakinya. Kuangkat dia sedikit dan karena
agak menyenggol penumpang lainnya, aku dengar beberapa gerutuan.
Setelah yakin tidak akan menyenggol orang lain, aku mulai masukan
penisku ke lubangnya. Aku dengar dia mendesah, �mm..� itu saja yang
aku dengar. Aku mulai French kiss dia lagi agar dia nggak teriak
lebih keras. aku mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama
menusuk, dan bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai
merapikan diri. Kini aroma seks mulai tersebar. Akhirnya lampu
menyala lagi. Setelah aku tengok ke samping, ternyata yang aku gituin
tadi adalah guru mathematics aku. Dia tersenyum nakal dan menaruh
jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk merahasiakan apa
yang telah terjadi.

Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai
ke Orchard, kami semua turun. Kami langsung naik eskalator menuju ke
pusat pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak
malam. Akhirnya kita orang pulang juga.

Sampai di rumah aku langsung masuk kamar kecapaian menemani cewek-
cewek yang jago belanja ini. Rupanya cewek-cewek ini benar-benar
edan. Aku sudah capai begini masih minta seks. Untuk menakut-nakuti
mereka aku usuli permainan baru. Permainan kami adalah master and
slave. Aku jadi master, mereka jadi slave (budak). Di luar dugaanku,
ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Aku kasih tahu
mereka, mereka cuma boleh panggil aku bos, tapi aku boleh panggil
mereka apa saja (termasuk perek, cewek murahan dan sejenisnya) dan
boleh menyuruh atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama
hal ini berhubungan dengan seks. Mata mereka makin berbinar-binar.
Akhirnya kusuruh mereka melucuti semua pakaian dan mereka tidak
diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam rumah.

Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang
berantakan karena adegan semalam. Sewaktu aku keluar, mereka masih
belum selesai membersihkan kamarku. Aku ke kulkas minum Red Bull dulu
supaya kuat baru balik ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.

�Eh, kamu orang bertiga main bersama di lantai. Julia, kamu pakai
ketimun yang lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara
kamu orang jilatin Monica. Aku di sini bakal rekam kamu pakai
handycam-ku. � Kulempar ketimun yang kubuat di sekolah pakai tanah
liat ke Julia. Mereka pertamanya agak nggak suka ideku pakai handycam
tapi setelah aku yakini bahwa videonya nggak bakal aku kasih lihat
orang lain, akhirnya mereka setuju.

Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan.
Mereka juga mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang
lawan main mereka. Mereka juga terkadang bercium mesra. Penisku mulai
nggak tahan. Kuelus penisku lewat celana dalamku.

�Stop!� Mereka yang lagi asyik main rupanya nggak denger aku. Aku
teriak sekali lagi �Stop!� akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman
untuk tidak mendengar perintah bos, aku suruh setiap orang ambil
ketimun kecil di kulkas dan masukkan ke dalam vagina mereka. Setelah
itu kusuruh mereka jalan-jalan dalam rumah dengan ketimun di dalam
vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, kusuruh mereka pakai
celana dalam dan kaos panjangku (kurang lebih sampai lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari
luar dan boleh dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam
keadan keras. Kusuruh mereka mengikutiku ke Seven Eleven terdekat
tanpa pakai celana maupun BH mereka. Mereka mulai menawar tetapi aku
bilang, �Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke supermarket 2
bus stop dari sini.� Mereka akhirnya ikut aku ke Seven Eleven yang di
depan rumahku. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang
jalan, dia mendapat klimaks (ketimunnya kaya penis naik turun sewaktu
dia lari). Penjaga toko Seven Eleven melihati payudara Amy yang gede
menonjol itu. Apalagi tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca
kulkas yang agak basah itu, membuat payudaranya semi jelas. Yang buat
penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia membongkok untuk mengambil
barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah karena cairannya itu
terlihat jelas. Setelah membeli barang aku lari balik ke rumah dan
menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih
berat. Langsung saja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan
hampir lemas karena klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya
mereka sampai di rumah dalam waktu yang ditentukan. Nafas mereka
sudah memburu dan badan mereka sudah lemas dan penuh keringat, tapi
permainan baru dimulai, sebab penisku masih segar bugar. Apalagi baju
yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.

�Ok, kamu orang sekarang mandi dulu!� Mereka cuma diam saja dan mulai
beranjak menuju ke arah kamar mandi. Kuikuti mereka ke kamar mandi.
Saat mereka hendak menutup pintu kamar mandi, kudorong pintunya dan
kusuruh mandi di depanku sambil kurekam dengan Handycam-ku. Cara
mereka mandi memang agak kikuk dengan adanya aku di sana. Setelah
mandi dan mengeringkan badan, mereka mau pakai baju.

�Eh, gue kan sudah bilang, selama di dalam rumah nggak boleh pakai
baju!�
�Iya bos�, jawab mereka serentak.

Tiba-tiba, �Ting-tong� bel rumahku berbunyi. Aku jadi pikir-pikir
siapa nih, aku jadi suruh cewek-cewek masuk kamarku. Ternyata yang
datang si John. Aku persilakan masuk dan kusuruh duduk. John adalah
teman sekelasku. Aku permisi sebentar masuk ke kamar.
�Eh kamu orang buatin minum untuk John. Jangan pakai baju atau
apapun!�

Setelah aku keluar beberapa saat, mereka bertiga menuju ke arah dapur
untuk membuatkan John minuman. John yang melihat tiga cewek bugil
berjalan ke arah dapur langsung nyengir ke arahku.

�Ron, kamu kok bisa ada 3 cewek di rumahmu jalan bugil?�
�Itu mah, jangan dipikirin. Eloe mau ngewek sama salah satu dari pada
mereka?�
�Sorry deh, nggak hari ini, kapan-kapan saja.�
�John, ini minumannya.� Mereka bertiga membuatkan John dan aku
segelas sirup dan berjalan ke arah kamar.
�Kamu orang masa nggak ada aturan�, sentak aku,
�Duduk sini temenin kita orang ngobrol dong.�

Muka mereka cuma menunduk dan duduk bersama-sama. Julia duduk di
sebelahku sementara Amy dan Monica duduk berhadap-hadapan dengan
John. Tangan mereka berusaha menutupi kemaluan mereka. John sendiri
mulai merasa kikuk. Setelah beberapa lama bercakap-cakap akhirnya
mereka mulai ikut tertawa dan mulai terbiasa dengan kebugilan mereka.
Sebelum pulang, John minta tolong agar aku menjaga anjingnya
sementara dia pergi ke Malaysia 3 hari untuk urusan bisnis. Anjing
John yang bernama Lassie, itu boleh dibilang lumayan gede, tapi
anjingnya nggak galak. Aku setuju saja.

Setelah John pulang aku melirik jam. Ternyata sudah lumayan malam,
jam 11 lebih sedikit. Sewaktu aku masuk kamar, tiga cewek ini lagi
bisik-bisik dan waktu melihat aku masuk langsung diam. Lassie pun aku
bawa masuk. Aku ada rencana untuk mereka. Aku ikat mereka bertiga di
ranjang dengan kaki mengkangkang (dengan persetujuan mereka). Aku
mulai mengelus-ngelus cewek yang paling kiri, Julia. Aku maini buah
dadanya dan lidahku mulai menelusuri tubuhnya yang telanjang. Sewaktu
lidahku menemukan clitorisnya dan mulai menjilati vaginanya yang
sudah basah, badannya langsung bergerak-gerak dan erangan nikmat
mulai keluar dari mulutnya. Aku mulai masukan penisku ke dalam lubang
vaginanya. Sambil mensetubuhi si Julia, tanganku mulai maini lubang
Monica, yang berada di tengah ranjang. Kami bertiga mulai mengerang
dan berteriak kenikmatan.
�Ooh.. ohh.. yes..� itu saja yang keluar dari mulut kami.

Sewaktu aku merasakan Julia mulai mau klimaks, kutarik penisku dari
lubang vaginanya. Seperti kesetanan, dia memohon kepadaku agar aku
masukan penisaku lagi ke dalam lubangnya. Tapi aku ada rencana lain.
Aku tinggali dia dan mulai main dengan Amy. Kucium mulut Amy yang
mungil, dan tanganku mulai main dengan buah dadanya yang motok itu,
sementara tanganku yang satunya tetap memainkan lubang vagina Monica.
Julia masih berteriak minta digituin tapi aku �ignore� dia punya
permohonan. Aku mulai mensetubuhi Amy dan Amy pun mulai mengerang
keenakan.

�Ron, gue tahu deh, kamu pasti pilih gue. Ohh ooh..� dia mulai
mengerang. Sambil kumainkan buah dadanya kugoyang dia dengan keras.
Tanganku yang main dengan Monica sudah mulai berhenti dan mulai main
dengan buah dada Amy. Sama seperti Julia, Amy pun kutinggalkan saat
dia hampir mencapai klimaks. Saat itu aku pun juga hampir mencapai
klimaks. Setelah bermain sebentar dengan Monica, penisku mulai
menyemprotkan air maniku. Aku tinggalkan juga Monica. Mereka bertiga
sekarang mengerang dan berteriak meminta penisku sebab tidak ada
satupun dari mereka yang klimaks.

Aku angkat Lassie keranjang dan kuarahkan kepalanya ke arah vagina
Julia. Setelah membau-bau sebentar, dia mulai menjilat vagina Julia.
Julia berteriak, �Ron, tolong, jangan anjing dong Ron. Geli nih.. Ron
please I beg you.� Aku nggak gubris minta tolong dia. Kemaluan Lassie
mulai mengeras dan kuarahkan kemaluannya kearah lubang vagina Julia.
Kontan saja Julia mulai merasa jijik dan geli. Saat Lassie mulai maju
mundur menyodok kemaluannya, ekspresi Julia mulai berubah dari jijik
dan geli menjadi puas. Aku pun nggak mau kalah. Aku mulai setubuhi
Amy dengan posisi Doggy Style.

�Uuuhh ahh..� aku dan Amy mulai mengerang sementara dari sebelahku,
erangannya agak lain. �Aahh ohh� dan �Warf warf auu�. Aku nggak tahu
berapa lama, tapi akhirnya Amy klimaks beberapa kali dan aku masih
minta terus. Aku akhirnya mencapai klimaks. Lassie dan Julia pun
mencapai klimaks dan Lassie telah tiduran di lantai. Sekarang tinggal
Monica yang belum klimaks. Penisku yang sudah loyo nggak bakal bisa
main lagi apa lagi waktu sudah tengah malam. Aku ambil botol bir dan
mulai minum. Aku kasih mereka bertiga sedikit. Julia dan Amy telah
bebas dari ikatan dan pergi ke dapur untuk buat telur karena perut
lapar. Bir dalam botol sekarang tinggal sedikit dan aku mulai ada
cara untuk memuaskan Monica.

Aku lepaskan ikatannya dan kubuka labianya dan memasukkan leher botol
bir sedikit lebih sedikit. Monica cuma bisa mendesah kecil.
Kutuangkan bir yang tersisa sedikit ke dalam kemaluannya dan dia
mulai berteriak. Rupanya alkohol dalam bir membuat lubangnya agak
sakit. Aku mulai menggerakan maju mundur dengan botol bir dan Monica
kembali mendesah keenakan. Aku juga mainkan clitorisnya dengan
jempol. Buah dadanya aku mainkan dengan mulut dan lidah. Mukanya
makin memerah, rupanya pengaruh alkohol yang tadi aku tuangkan.
Setelah klimaks beberapa kali, ia dengan agak mabuk mulai berteriak,
�Ron, fuck me.. I want to be a slut, your slut.. Ron please dong..
jangan pakai botol lagi, penis kamu lebih nikmat..�

Penisku mulai bangun. Tangannya mulai main dengan penisku dan
akhirnya penisku dihisap dan dikulum dengan ganasnya sementara
tanganku nggak diam gituin dia pakai botol. Akhirnya aku nggak tahan
lagi. Kuambil baby oil dan melumaskan penisku pakai baby oil. Lubang
duburnya juga aku kasih sedikit baby oil. Kusuruh dia siap dalam
posisi doggy style dan aku gituin duburnya sementara tanganku pakai
botol gituin vaginanya.

�OOh.. Ahh Yess.. Ron fuck me bad!�
�Ooohh Mon, kamu punya anus seret deh..�

Setelah beberapa menit, �Mon, I�m cumming nih..�

�Ron, fuck me in the cunt.. Please dong.. kasih aku feel kamu punya
cock di cunt aku..�

Dengan sedikit nggak seneng akhirnya kucabut juga dan aku siap untuk
fuck her cunt. Ternyata cunt dia mencengkram penisku dengan kencang.
Penerobosan penisku agak susah tapi setelah semuanya masuk penisku
mulai maju mundur dengan ganas.

�Mon, I really can�t hold to long nih.. kamu kalau mao klimaks
cepetan donk..�

Monica nggak jawab, jadi aku teruskan saja. Akhirnya aku mulai
klimaks dan semprotanku kali ini ternyata super banyak. vaginanya
mulai mengeras dan akhirnya dia pun klimaks lagi. Badanku keringatan.
Akhirnya Amy dan Julia balik masuk kamar dan kita pun tidur.

Besok siangnya, kita bangun jam 1. Mereka semua akhirnya kembali ke
kost mereka untuk buat PR dan belajar sebab sudah hari Minggu. Aku
duduk di sebelah meja belajar dan merenung keluar jendela. Aku mulai
berpikir, kalau tiap minggu begini, aku bisa-bisa kehabisan sperma
nih.

Sejak weekend itu, setiap weekend mereka mulai ke rumahku dan
untungnya nggak ada yang hamil. Setelah lulus Sec 4 kami akhirnya
kami berpencar menuju Universitas masing-masing.
Baca SelengkapnyaRonnie Dan Julia